Wanita-wanita Beriman yang Bersaudara (Bagian 1)

0
130 views

Kiblatmuslimah.com – Sesudah penaklukan Khaibar dan kepulangan para muhajirin dari Habasyah, tidak ada sesuatu pun yang menyita pikiran seperti halnya teks perjanjian Hudaibiyah yang disepakati pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 Hijriah. Muhammad dan para shahabatnya harus kembali ke Mekah pada tahun berikutnya.

Mereka boleh memasuki Mekah dan menetap di sana selama tiga hari dengan membawa senjata dan pedang di dalam warangka (wadahnya, ed). Tidak boleh ada senjata lainnya. Para muhajirin menghabiskan malam dengan kerinduan ingin kembali ke Ummul Qura. Mereka membayangkan sudah kembali ke tanah kampung halaman, lalu thawaf mengelilingi Baitul Atiq, menetap di tempat-tempat bermain masa kecil dan kuburan para leluhur.

Beberapa tahun berlalu sejak mereka diusir dari kampung halaman. Mereka terhalang untuk datang ke Baitullah yang dijadikan tempat berkumpulnya manusia yang aman. Mereka berdatangan ke sana dari segala penjuru yang jauh.

Ketika mereka berangkat menuju Mekah pada tahun 6 Hijriah untuk melaksanakan umrah dan sudah berjarak satu marhalah dari Mekah, kaum musyrikin menghalangi dari masjidil Haram. Meski pada akhirnya mereka bersedia membiarkan kaum muslimin kembali ke Mekah pada tahun berikutnya.

Hari demi hari berlalu dengan lamban. Malam demi malam berlalu begitu panjangnya. Sampai akhirnya tahun berganti dan Nabi mengajak semua orang untuk bersiap-siap berangkat ke Mekah.

Beliau mengendarai unta Qashwa’, diikuti dua ribu pengendara dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang sangat merindukan rumah paling tua dan tempat ibadah. Sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai ke tempat pelaksanaan haji dan tempat tambatan hati.

Dari kejauhan, tampak di hadapan mereka sebuah negeri yang diberikan tempat buaian Nabi dari keluarga Hasyim dan turunnya wahyu. Suara-suara keras para pengendara unta menyampaikan kabar gembira, janji yang benar kepada mereka. Di hadapan mereka ada Abdullah bin Rawahah Al-Anshari yang menuntun unta Qashwa’ sambil memegangi tali kekangnya.

Sampai akhirnya mereka memasuki Mekah dengan aman, menggundul dan mencukur rambut tanpa merasa takut. Sementara orang-orang kafir saat itu angkat kaki dari Mekah, hingga tak menyisakan seorang pun di sana. Janji Allah pun terbukti;

“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram. Jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 27)

Mereka serentak menggemakan talbiyah, “Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik.” Hingga seluruh wilayah Mekah saling bersahutan menjawab seruan kaum mukminin. Bumi membentang di bawah kaki kaum musyrikin yang memasang tenda-tenda di luar tanah Haram. Mereka merasa gunung-gunung yang tinggi menjulang dan kokoh seakan hancur karena ketakutan dan keagungan.

Hingga setiap orang Mekah yakin bahwa hari kemenangan terbesar kaum mukminin sudah diambang pintu. Pemandangan besar ini sangat membekas bagi Mekah dan para penduduknya. Tanpa diduga, ada salah seorang wanita Mekah paling mulia, menatap rombongan nabawi. Keinginan terbesarnya adalah menjadi ibu bagi kaum mukminin.

Wanita itu adalah Barrah binti Al-Harits bin Hazan bin Bujair Al-Amiriyah Al-Hilaliyah, salah satu di antara beberapa wanita bersaudara yang disinggung Nabi dalam ucapannya, “Wanita-wanita beriman yang bersaudara.”

Ia adalah saudara kandung Ummu Fadhl Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits, istri Al-Abbas bin Abdul Mutthalib, ibu dari anak-anak Al-Abbas dan wanita pertama yang beriman setelah Khadijah.

Bersambung….

Peni Nh

Sumber: Dr. Aisyah Abdurrahman. 2018. Biografi Istri dan Putri Nabi. Jakarta: Ummul Qura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here