Ulama Tunanetra Didikan Ibu Shalihah

0
268 views

Kiblatmuslimah.com – Beliau berasal dari keluarga al-Baz yang asal-usulnya dari Madinah, lalu pindah ke kota Dir’iyyah (selatan Riyadh). Keluarga al-Baz sejak dulu telah dikenal dengan ilmu, pertanian, perdagangan dan akhlak yang baik.

Di lingkungan ilmiah inilah Syeikh bin Baz bertumbuh kembang dengan Al-Qur’an sebagai pelita hidupnya. Dengan Al-Qur’an, beliau memulai karirnya dalam menuntut ilmu. Sebagaimana adat para ulama salaf, beliau menghafal Al-Qur’an di luar kepala sebelum baligh, sembari mentadabburi, mempelajari tafsir dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Banyak dari kita yang mengenal beliau sebagai ulama tunanetra, akan tetapi sebenarnya beliau tidak terlahir demikian. Beliau lahir dengan penglihatan sehat hingga saat beranjak usia 16 tahun beliau menderita sakit mata dan penglihatannya berangsur-angsur melemah sampai akhirnya buta total ketika menginjak usia 20 tahun.

Alangkah besar hikmah tersembunyi di balik ‘musibah’ hilangnya penglihatan beliau. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Bila hamba-Ku Ku-uji dengan kehilangan kedua matanya, kelak Aku akan mengganti keduanya dengan jannah.” (HR. Al-Bukhari no. 5653)

Hikmah berikutnya, kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa. Syeikh bin Baz termasuk huffazh (penghafal hadits hebat) di zamannya. Tak sampai di situ hikmah yang beliau peroleh, beliau terlalaikan dari semua kemegahan dunia dan godaannya. Cacat itu justru mendorongnya untuk semakin gigih dalam menuntut ilmu hingga menjadi ulama terkemuka yang menjadi rujukan.

Syeikh bin Baz adalah seorang anak yatim dari umur 3 tahun. Ibunya mencurahkan segalanya demi mendidik putra-putranya. Sang ibu mengarahkan agar menuntut ilmu, menanamkan pada diri anaknya sifat anti putus asa atau menyerah akibat sakit yang dideritanya kala itu.

Ini jelas menunjukkan kekuatan imannya, sang ibu berusaha agar putranya dapat melalui tahapan penting kehidupan. Sang ibu mengarahkan agar masuk ke beberapa kuttab untuk membaca Al-Qur’an, sejak beliau berusia sekitar 10 tahun hingga 12 atau 13 tahun.

Ibu tetap setia membimbing putranya yang tunanetra dalam meniti karir ilmiahnya. Hingga ia menyaksikan sendiri tanda-tanda keberhasilan dan buah manis dari kerja kerasnya selama ini. Syaikh bin Baz mulai dikenal sebagai alim dan didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai daerah.

Referensi: Sufyan bin Fuad Baswedan. 2018. Ibunda para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah.

Penulis: Hunafa’ Ballagho

Penyunting: UmmA

Previous articleBelajar Mengakui Kesalahan
Next articleMaduku Legi
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here