Tumbal Liberalisme

0
44 views

Judul               : Kemi 3, Tumbal Liberalisme

Penulis : Adian Husaini

Penerbit           : Gema Insani

Cetakan           : Pertama, 2015

Peresensi         : Daffa An Nuur

Kiblatmuslimah.com – Kemi 3 adalah seri terakhir dari serial Novel Kemi. Novel ini bukanlah novel picisan yang biasanya berisi tentang percintaan. Novel ini mengisahkan perjuangan menumpas pemikiran sesat oleh kaum Liberalis, Pluralis, Feminis, dan kawan-kawannya.

Kemi yang sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit pun masih menjadi incaran para aktivis liberal. Ia telah disembunyikan. Perjuangan seorang habib, tempat penerbitan surat kabar dan seorang wartawan untuk mencari Kemi. Layaknya cerita detektif. Tak lupa peran Kiai Rois, juga santri atau sahabatnya Kemi, Rahmat. Tokoh liberal yang disuruh untuk menjaga Kemi adalah seorang dokter, dosen, dan juga politikus terkenal. Ia adalah dr. Rajil.

Keheranan mulai menancap di pikiran para detektif dadakan tersebut, Kemi dipulangkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan karena hilang ingatan. Setiap tatapannya kosong dan selalu gelisah.

Hari-hari berjalan seperti biasanya, para detektif terus mencari tahu yang membuat Kemi selalu merasa gelisah. Dr. Nasrul yang awalnya merawat Kemi di rumah sakit jiwa (sebelum diculik oleh orang-orang liberal), berusaha mencari tahu dengan menyamar sebagai ahli psikiater. Namun tidak mendapatkan hasil.

Keluarga dr. Rajil sebelumnya tidak pernah menyinggung soal pekerjaan. Namun hari itu sang istri mencoba bertanya tentang pekerjaan suaminya dan akhirnya dr. Rajil mengaku. Sang istri yang luar biasa itu ternyata tidak pernah menggunakan uang hasil suaminya karena tahu itu haram. Ia berusaha memberikan keluarganya dari yang halal. Dr. Rajil marah karena merasa terhina dengan tindakan istrinya. Selepas sang istri pergi menjemput anaknya, didapatkan dr. Rajil sudah terkapar dengan mulut berbusa.

Sampai kabar bahwa agen liberal mengetahui keberadaan Kemi dengan menggunakan alat yang sudah ditanam di handphone. Dengan perjuangan besar, Rahmat dan para detektif menuju tempat Kemi, membawa mobil sekencang mungkin dan membuang HP ke sungai. Mereka menuju pesantren yang memiliki penjagaan ketat. Tiba di pesantren tersebut, penjagaan dikerahkan lebih banyak dan Kemi dipersilahkan untuk istirahat.

Pengungkapan kasus pembunuhan belum usai. Para detektif mengadakan rapat untuk membicarakan hal tersebut. Apakah ada kemungkinan bahwa di dalam tubuh aktivis liberal telah ditanam sesuatu? Ketika ia ingin keluar dari lingkaran itu, maka akibatnya seperti dr. Rajil? Segera mereka menuju kamar Kemi. Namun telah didapati Kemi yang terbujur kaku dengan mulut yang mengeluarkan busa. Kemi dan dr. Rajil telah menjadi tumbal liberalisme.

Previous articlePemuda, Muda dan Beda
Next articleMau Berbagi
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here