Tipe Manusia dalam Menjalani Kehidupan.

0
151 views

Kiblatmuslimah.com – Imam Ibnul Jauzi rahimahullah membuat teori sederhana tetapi sangat mengena, tentang teori kehidupan manusia dalam menjalani kehidupannya. Beliau menganalogikan beragam tipe anak di sekolah dengan tipe manusia dalam menjalankan kehidupannya. Khususnya cara memenej kebutuhan, keinginan nafsu serta kemampuan menggunakan potensi diri. Klasifikasi ini merupakan lintasan ide yang beliau tulis dalam karyanya “Shaidul Khatir”. Beliau membaginya menjadi 5 tipe, yaitu:

1. Bodoh

Meskipun sekolah bertahun-tahun, saat lulus dia tidak memahami apapun. Tidak ada yang dia bawa dari sekolahnya. Dia sudah menjalani setiap kelasnya setahun atau 2 tahun, tetapi dia tidak bisa merasakan manfaat dari pelajaran yang dia bawa. “Perumpamaan ini seperti orang yang tidak mengetahui tujuan penciptaannya dan tidak mendapat manfaat dari keberadaanya di dunia”. Dalam kehidupan nyata, mereka adalah orang-orang kafir yang sama sekali tidak ada gambaran soal tujuan hidup sejati. Orang yang mengaku beragama tetapi kosong dari hidayah-Nya. Ini juga termasuk dalam kategori pertama.

Orang-orang semacam ini jika jatah umurnya ditambah pun tidak akan berguna. Mereka hanya memburu kebahagian dunia saja. Sama sekali mereka tidak mengenal sang Khalik. Setan adalah kawan sejatinya, bahkan sebagian mereka sudah selevel dengan setan.

Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat An-Najm ayat 29-30.

فَاَعۡرِضۡ عَنۡ مَّنۡ تَوَلّٰى عَنۡ ذِكۡرِنَا وَلَمۡ يُرِدۡ اِلَّا الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا

Maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan hanya mengingini kehidupan dunia.

ذٰ لِكَ مَبۡلَـغُهُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ‌ ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ ۙ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِمَنِ اهۡتَدٰى

Itulah kadar ilmu mereka. Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Mereka hidup tetapi tak memiliki tujuan hidup. Sebagian mereka menyia-nyiakan hidupnya. Memaksa keluar dari kehidupan dunia dengan jalan bunuh diri. Naudzubilah.

2. Bodoh, malas, dan gemar mengganggu teman

Mencuri barang, menyakiti teman, dan memukul teman. Perumpamaan ini seperti penjahat dan pendosa. Mereka tak peduli yang dilakukan, perbuatan menguntungkan atau merugikan orang lain. Hal yang penting, hati mereka bisa merasakan senang. Segala cara pasti akan dilakukan, “dihalalkan” demi memenuhi nafsu syahwatnya tersebut.

3. Menyukai belajar menulis halus, tapi tidak belajar berhitung

Sebenarnya tulisan pun masih kurang bagus. Setelah lulus, hanya mampu menulis angka tanpa bisa menghitung. Ini perumpamaan bagi manusia yang paham dan tertarik pada sesuatu hal tetapi melupakan perkara-perkara penting dan prioritas.

Mereka adalah orang-orang yang tertarik mendalami hal-hal tertentu yang tidak penting dan melupakan masalah agama. Orang-orang seperti ini sangat menggilai kegemarannya. Segala harta, waktu, dan tenaga rela dikorbankan demi hobinya. Jika ditanya tentang masalah kegemarannya, dia akan menjawab dengan jawaban melimpah karena sangat luas ilmunya. Tetapi jika ditanya masalah agama, dia tersenyum kecut karena tidak mengetahui sedikitpun.

Allah berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ  

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”  (QS. Ar-Rum: 7)

Mereka rela mengorbankan segala sesuatu untuk memenuhi keinginannya, tapi masalah akhirat mereka bakhil (pelit). Tipe kebanyakan orang. Kita sendiri menyadari, sering melupakan akhirat dan lebih menyukai perkara-perkara dunia. Kadang-kadang persentasinya sangat timpang. Lebih berat urusan dunia daripada akhirat.

4. Selalu serius dalam belajar

Ia selalu mengejar prestasi-prestasi besar. Berpacu dengan waktu untuk mengejar hal-hal besar dan mulia. Ini karakter seorang muslim sempurna. Ia mengalahkan para pesaingnya, sehingga datang dengan membawa raport yang penuh prestasi. Mereka itu assabiquun bil khairat, para juara dalam kebaikan.

Mereka selalu sadar bahwa prioritas di dunia ini adalah prestasi untuk akhirat. Ini yang selalu dia kejar, segala amalan hidupnya diperuntukkan untuk menambah pundi-pundi tabungan pahala di akhirat.

5. Sebenarnya baik, tapi lemah semangat

Ibnu Jauzi menambah satu tipe lagi. Jika diibaratkan anak sekolah, tidak memiliki gairah untuk melakukan hal-hal besar atau prestasi yang tinggi. Dalam kehidupan nyata, mereka adalah orang-orang yang hanya mencukupi pada perkara-perkara wajib saja. Malas melakukan amalan sunah, untuk menambah pundi-pundi pahala. Cukup puas hanya menjadi muslim awam. Tidak pernah memiliki gairah untuk berjuang mendapatkan prestasi yang lebih. Menggali potensi dan kemampuan diri untuk menjadi yang terbaik.

Demikian 5 tipe manusia. Semoga dengan mengetahuinya, kita bisa menilai diri sendiri. Di manakah posisi kita …? Lalu berusaha untuk memperbaiki posisi agar menjadi lebih baik. Semoga Allah menambahkan semangat untuk selalu memperbaiki diri, menjadi yang terbaik dan meninggikan derajat kita. Amin.

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here