Thufail bin Amru Ad-Dausi

0
148 views

Kiblatmuslimah.com – Thufail bin Amru Ad-Dausi adalah seorang lelaki mulia, penyair handal, dan ketua kabilah Daus. Kabilahnya memiliki pemerintahan atau semi pemerintahan di beberapa bagian di Yaman. Ia masuk ke Mekkah tahun kesebelas dari kenabian. Sebelum tiba di Mekkah, ia sudah disambut oleh kerabatnya.

Mereka rela mengeluarkan banyak biaya untuk penyambutan tersebut agar meriah. Mereka berkata kepada Thufail, “Wahai Thufail, kini engkau telah berada di bumi kami. Kami hendak memperingatkan kepadamu mengenai seorang lelaki, yang telah tampil ke depan dan menimbulkan permasalahan yang besar di kalangan kami”.

“Ia telah memecah-belah persatuan di antara kami, memorak-porandakan penghidupan kami. Ucapannya seperti hembusan sihir yang menceraikan antara bapak dan anak lelakinya, seseorang dan kawannya, suami dan istri. Kami khawatir bila nanti terjadi kepadamu seperti yang terjadi pada kami. Untuk itu, janganlah berbicara dengannya,” hasut kerabat Thufail.

Thufail menuturkan, “Demi Allah, mereka terus mengacaukan pikiranku dengan ucapan-ucapan seperti itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendengar perkataan mereka. Bahkan dalam perjalanan ke masjid, aku menyumbat telingaku dengan kapas”.

Saat Thufail sampai di masjid, dia melihat Muhammad sedang shalat di sisi Ka’bah. Thufail pun berdiri di dekatnya. Allah menghendaki agar dia mendengar sebagian ucapannya dan kata-kata yang baik.

Thufail berkata dalam hatinya, “Demi ibuku yang melahirkan diriku, demi Allah, aku ini penyair handal. Aku bisa membedakan yang baik dan buruk. Apa yang menghalangiku untuk mendengar ucapan lelaki ini? Bila kata-katanya memang baik, aku bisa menerimanya. Namun bila buruk aku bisa meninggalkannya begitu saja”.

Thufail diam saja dan ketika Nabi Muhammad beranjak pulang, dia mengikutinya. Ketika Nabi masuk rumah, Thufail juga ikut dan menceritakan tentang kedatangannya serta usaha orang-orang menakut-nakuti.

Thufail lalu berkata kepada Nabi, “Jelaskanlah agamamu kepadaku.” Beliau pun menjelaskan Islam dan membacakan Al-Qur’an di depan Thufail. Demi Allah, sesungguhnya Thufail tidak pernah mendengar kata-kata yang lebih bagus daripada Al-Qur’an.

Tidak pernah Thufail temukan agama yang lebih adil daripada itu. Seketika pula Thufail memeluk agama Islam, mengucap dua kalimat syahadat dengan sebenarnya.

Thufail berkata kepada Nabi, “Aku ini orang yang dipatuhi di kalangan kaumku. Hari ini aku akan pulang menemui mereka dan menyeru kepada Islam. Karena itu wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar mengaruniakan sebuah bukti sebagai penguat”.

Rasulullah pun berdoa untuk Thufail. Allah mengaruniakan bukti kepadanya. Ketika ia hampir tiba di kaumnya, wajahnya mengeluarkan cahaya yang memancar. Namun ia berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan cahaya ini di wajahku. Karena aku khawatir bila mereka akan berkata, ‘Ini adalah dagelan (lelucon)’.”

Akhirnya cahaya itu pindah ke cemetinya. Ia mengajak bapak dan istrinya agar mau masuk Islam dan mereka berdua menerimanya. Kaumnya tidak mau masuk Islam begitu saja, tetapi ia tetap telaten mengajak mereka.

Pada akhirnya, ia ikut berhijrah bersama tujuh puluh atau delapan puluh keluarga dari kaumnya setelah perang Khandaq. Kemudian ia mendapatkan cobaan yang baik demi Islam, gugur sebagai orang yang syahid di Perang Yamamah.

*Peni Nh

Sumber: Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. 2017. Sirah Nabawiyah. Cetakan XVIII. Jakarta: Ummul Quro. Hal. 257-259.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here