Ternyata Suamiku Punya Istri Lagi

0
239 views

Kiblatmuslimah.com – Memiliki suami yang setia adalah dambaan setiap wanita. Hanya diri kitalah istri yang dicintai sepanjang dan seumur hidupnya. Sebenarnya sang suami pun memiliki keinginan yang sama, yakni memiliki istri yang setia dan mau mengerti terhadap suami, selama hidupnya. Hanya saja perlu dipahami bahwa kenikmatan dari Allah memiliki pasangan yang setia itu berbanding lurus dengan kesetiaan kita pula terhadap mereka. Artinya kalau ingin hak kita dapatkan, maka kewajiban harus dilaksanakan. Demikian sebaliknya, karena hak suami adalah kewajiban istri dan hak istri adalah kewajiban suami.

Suami yang menuntut istri selalu siap jika diajak di ranjang, maka seyogyanyalah si suami ini selalu siap dalam ma’isyah selama istri membutuhkan. Jika istri ingin agar suami mau mencarikan ma’isyah untuknya, istri harus siap melayani kebutuhan suami. Impas, kan? Jangan pernah menuntut hak kalau kewajiban belum kita indahkan.

Kalau suami ternyata mempunyai istri lagi tanpa sepengetahuan kita (padahal sudah setia kepada suami), itu merupakan kenyataan yang bisa saja terjadi. Apakah ini berarti suami tidak setia terhadap istri?

Kita tengok dalam QS. An Nisaa: 3 bahwa memiliki istri lebih dari satu diperbolehkan dalam Islam. Allah memberikan firman tersebut karena tabiat poligami adalah fitrah setiap laki-laki. Jika ayat ini menyesakkan dada, coba koreksi dulu keimanan kita. Ini firman Allah! Siapa yang berani menentang ayat-ayat-Nya? Jangan-jangan kita telah dicekoki oleh film roman Barat dan drama Korea, yang memang bukan dari Islam atau pendapat sekulerisme yang benci terhadap syariat Allah.

Syarat berpoligami adalah adil. Suami yang menikah lagi, bukanlah bentuk ketidaksetiaannya terhadap istri. Ini harus dipahami. Jika kita merasa belum siap untuk dimadu dan mendapati suami memiliki istri lagi, bagaimanakah menyikapi? Berikut langkah-langkahnya:

  1. Tarik nafas dalam-dalam sambil beristighfar (boleh dalam hati) dan ingatan langsung ke Allah, jangan yang lain.
  2. Husnudzan kepada Allah. Bisa jadi ini bentuk kasih sayang Allah dalam menyiapkan penerimaan syariat dan Dia hendak menjadikan kita semakin baik.
  3. Lampiaskan emosi tidak pada piring, gelas atau perabot rumah yang lain. Tetapi luapkan dalam doa yang baik-baik. Misalnya: meminta kesabaran, istiqomah, meminta kepada Allah agar suami semakin cinta kepada kita.
  4. Jangan suudzan terhadap suami. Apapun alasan suami, tidak menjadi masalah bagi kita. Jangan ragukan kesetiaan suami. Justru mulai muhasabah diri, sudahkah kita setia terhadap suami?
  5. Jadikan momen ini sebagai ladang fastabiqul khairat.
  6. Bicarakan baik-baik dengan suami jika sikon sudah memungkinkan. Ingat, jangan dengan amarah. Terima segalanya dengan senyum tulus dan hati ikhlas.
  7. Yakinlah bahwa Allah lebih adil daripada suami kita. Karena suami adalah manusia. Keadilan Allah mampu merubah hukum sebab akibat. Mintalah pada-Nya untuk kebaikan bersama.
  8. Tetap layani suami seperti hari-hari biasanya. Bahkan lebih baik. Suami bisa memberi 100% cintanya kepada kita, karena memang cinta tidak bisa dibagi.

Langkah-langkah berikutnya adalah senantiasa asah keimanan kita, demikian pula suami. Iman naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.

وَنَفْسُكَ إنْ أَشْغَلَتْهَابِالحَقِّ وَإِلَّااشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam Al-Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama Asy Syamilah)

Tetaplah bersabar, karena bisa mengolah gelisah menjadi indah. Kemudian, raihlah kebahagiaan.

 

Penulis: Yasmin Al Asyfaqo 04102018

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here