Tawanan Benteng Lapis Tujuh

0
35 views

Kiblatmuslimah.com – Data Buku: Judul asli Sajin Qal’ah al-Aswar as-Sab’ah | Husayn Fattahi | Dar Ba’i |Damaskus | Cet. 1 | 2009. Terjemahan Tawanan Benteng Lapis Tujuh | Muhammad Zaenal Arifin | Zaman |Jakarta 2011| Cet. 1 | ISBN: 978-979-024-266-1.

Daulah Abbasiyah tak hanya masyhur akan kemewahan, namun juga hausnya perebutan kekuasaan.

Abu Ali Ibnu Sina, terjebak dalam intrik politik; kedengkian penguasa dan liciknya siasat. Ia dituntut untuk menjadi dokter pribadi para petinggi negeri. Di negeri-negeri yang ia singgahi saat menjadi DPO (Dafar Pencarian Orang, red) Pemerintahan Malak Ghaznawi.

Badai sahara di Khawaran membuat sahabat seperjuangannya, Abu Sahl terenggut nyawa sebelum sampai di negeri tujuan pelarian.

Terdampar dari negeri ke negeri dalam kondisi penuh keprihatinan hingga sampai di istana. Pertemuannya dengan pengidap berbagai bermacam penyakit, membuat dirinya menuliskan kitab fenomenal Al-Qanun fitThib. Kitab ini berisi 5 klasifikasi dalam dunia kedokteran yang menjadi sumber rujukan zaman now. Buku fenomenal sebagai bentuk ‘persembahan’ kepada raja negeri.

Mungkin, di saat guru zaman sekarang berpesan, “Aku tak sanggup mengajari anakmu lagi”. Ungkapan ketidaksanggupan mengurus kelakuan muridnya. Lain halnya dengan para gurunda Abu Ali, “Semua ilmu sudah kusampaikan dan dia memahaminya dengan cepat. Silakan cari guru lain”. Begitulah anugerah yang Allah berikan pada Ibnu Sina kecil hingga menguasai berbagai jenis disiplin ilmu.

Terlepas dari Aqidah Syi’ah yang dianutnya, Asy-Syaikh Ar-Rais ini menghabiskan paginya tuk mengabdi (mengobati dan mengajar). Malamnya pun ia habiskan tuk menulis semua ilmu yang dimiliki, baik saat di istana maupun di balik jeruji besi.

Abu Ubayd, pemuda yang ia sembuhkan dan menjadi pelayan setianya dalam menuliskan setiap ilmu yang diucapkan: adalah sosok terakhir yang menemani kepergiannya dari dunia.

Acuh dengan politik dan kepedulian yang tinggi dalam mengobati. Meski nyawanya di ambang kematian, menjadikannya sosok yang disegani dan teramat profesional.

Kemuliaan yang nampak dari akhlaq terpuji walau predikat menteri telah disandangi, tak membuatnya lupa diri. Tawakal penuh atas taqdir Allah, menjadikannya tak pernah terobsesi terhadap dunia.

Biografi Abu Ali Ibnu Sina, filsuf dan bapak kedokteran ‘muslim’ dunia yang tersaji apik dalam bahasa novel terjemahan Bang Arifin. Mengajak diri membayangkan tokoh dalam serial drama yang penuh juang dan nilai kemanusiaan, dengan sedikit dibubuhi peristiwa menegangkan dalam menyelamatkan pasien dan perebutan kekuasaan.

Mendiagnosa penyakit fisik, mencoba mengobati anak raja yang enggan hidup karena patah hati. Dipisahkan dengan kekasih yang dicintainya dalam diam karena perbedaan strata sosial.

Hingga kisah pengobatan psikis dari putra mahkota yang dikekang oleh sang bunda Malak Khattun. Dikuntit mata-mata di seluruh penjuru negeri, ke manapun dan kapanpun. Membuat sensasi berbeda dalam membaca novel nonfiksi ini.

Mengernyitkan dahi terlampau sering, ketika mendapati peperangan saudara seiman hanya karena haus kekuasaan.

Mengenal lebih dalam sosok Abu Ali, menyadarkan diri bahwa hidup memang untuk berjuang dan berkontribusi bagi Islam. Tak peduli kemiskinan maupun harga tahta yang ditawarkan. Ia tetap sama dalam mengabdikan diri untuk umat. Ikhlas dan profesional.

Peresensi: Alifia Fitriyani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here