Tak Ada Rehat, kecuali di Jannah Kelak

0
107 views

Kiblatmuslimah.com Dikisahkan, ada seorang kakek senja usia pulang dari masjid kampungnya. Lalu ia segera mengetuk pintu rumahnya, namun sang istri tak membukakan pintu dengan segera. Hingga ia lelah dan pingsan di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang istri yang tak mendengar ketukan pintu menyadari keterlambatan suaminya. Bergegas ia melihat keluar dan ternyata suaminya tergeletak pingsan di depan pintu karena menunggu lama. Ia pun panik, bersusah payah membawanya masuk ke dalam rumah.

Istri menyeka wajah suami dengan air hingga siuman dari pingsannya. Sang istri meminta maaf atas keterlambatan membukakan pintu untuk suaminya. Akan tetapi sang suami tak memarahinya. Dia hanya berkata, “Saya pingsan bukan karena lamanya menunggu pintu dibuka. Tapi karena saya ingat akan suatu hari, ketika di hadapan Allah saya berdiri lama sementara pintu jannah tertutup di depan mata saya.”

Begitulah hati yang peka, senantiasa terkait dengan Allah dan hari Akhir. Dia membayangkan kelak jika bersusah payah mendatangi jannah, namun pintu tak terbuka untuknya. Pelajaran ini membawa dirinya untuk senantiasa mengusahakan sebab dibukanya pintu jannah untuknya. Karena mudah atau susahnya ia memasuki jannah tergantung upayanya di dunia untuk mendatangi amal-amal yang memudahkan baginya untuk masuk jannah.

Tak apalah kita berlelah-lelah di dunia, selagi kita dipermudah untuk memasuki jannah-Nya. Karena itu, ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya, “Mata ar-raahah? Kapankah datangnya waktu rehat?” Maka beliau menjawab, “Yakni saat engkau menginjakkan kakimu di jannah. Saat itulah kamu bisa rehat.”

Itulah saat seorang hamba berhasil mencapai sukses tertinggi, keberhasilan yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Maka barang siapa dijauhkan dari neraka  dan dimasukkan ke dalam jannah maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘azhim yang bermakna keburuntungan atau sukses besar banyak disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an, setelah penyebutan orang-orang yang masuk jannah dan terhindar dari neraka.

Inilah kesuksesan sesungguhnya. Karena kenikmatan jannah bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikitpun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai tanpa sedikit pun penghalang dan akan kekal selamanya tanpa akhiran.

Berbeda dengan yang diklaim sebagai kesuksesan di dunia ini. Yang sekarang sudah menduduki jabatan tinggi itu belum sukses yang sebenarnya. Mereka masih menghadapi keruwetan masalah yang dihadapinya, menanggung celaan dari orang yang tidak ridha dengan posisinya dan takut jika harus lengser dari jabatannya.

Begitupun yang sekarang sudah kaya raya, pun belum bisa dikatakan jaya dengan sebenarnya. Masih ada ambisi dan kehausan yang belum bisa dicapainya. Ada keresahan hati jika hartanya berpindah atau hilang dan harus menghadapi kedengkian orang lain terhadapnya. Hal yang sama dialami oleh orang-orang tenar dan terkenal.

Memang begitulah isi dunia, semua manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan; mukmin maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Sa’id bin Jubair menafsirkan makna ‘fi kabad’, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencaharian. Sedangkan Hasan al-Bashri menyebutkan, “Yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.”

Tak ada manusia yang terbebas total dari musibah, kesulitan hidup, kegelisahan, kesedihan maupun rasa sakit. Jangan disangka orang-orang kafir hanya merasakan kesenangan tanpa duka lara. Dari sisi bahaya dan musibah yang dihadapi, nyaris tak ada beda antara keduanya, meski berbeda corak dan variasi. Tak hanya itu, menjadi pejuang kebathilan juga mengharuskan mereka untuk bersusah payah dalam berusaha. Bedanya, ada pengharapan baik bagi orang mukmin sehingga bisa menjadi pelipur lara baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan. Sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah yang tidak dapat mereka harapkan.” (QS. An-Nisa’: 104)

Bedanya lagi, sekecil apapun penderitaan yang dialami seorang mukmin bisa menjadi penggugur dosa. Sedangkan musibah yang dialami orang kafir adalah sebagai bonus siksa yang disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، إِلاَّ حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang mukmin tak kan merasa bosan dan putus asa dalam berikhtiar dan berusaha, hingga tercapai kesuksesan jannah yang didambakannya. Jikalau ada keinginan duniawi yang belum bisa dicapainya, toh akan digantikan dengan yang lebih baik dan kekal di akhirat.

Andaikan yang terjadi di dunia ini selalu sesuai dengan yang kita ingini, tentulah jannah tak dirindukan lagi. Andai tidak ada duka lara di dunia ini, niscaya tak ada istimewanya rehat di akhirat nanti. Karenanya, ucapan penghuni jannah saat memasukinya adalah, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS. Fathir: 34). Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah, aamiin. (Sumber: kutipan kutbah Jum’at/arrisalah net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here