Sosok Pendidik yang Andal

0
174 views

Kiblatmuslimah.com – Asma’ binti Abu Bakar bersama putranya Abdullah bin Zubair suatu ketika terjebak dalam keadaan yang sulit dan terboikot oleh Hajjaj bin Yusuf di tengah kota Mekkah. Para pendukung Abdullah bin Zubair membelot dan bercerai-berai. Padahal Abdullah telah dibaiat menjadi khalifah dan dipanggil sebagai amirul mukminin selama beberapa waktu di berbagai wilayah kekuasaan Islam.

Ketika Abdullah bin Zubair melihat hal ini, dia menemui ibunya dan berkata, “Wahai Ibuku, orang-orang bahkan anak dan keluargaku telah mengecewakanku. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali hanya sedikit saja. Mereka tidak memiliki kekuatan, tidak lebih dari kesabaran sesaat. Para penentang akan memberiku keinginan berupa kenikmatan dunia. Apa pendapatmu, wahai Ibu?”

Seorang ibu yang penyabar dan berhati tangguh berkata kepadanya, “Engkau, demi Allah, wahai anakku, lebih tahu akan dirimu. Jika engkau tahu bahwa dirimu berada di atas kebenaran dan mengajak padanya maka teruskanlah. Sungguh teman-temanmu juga telah mati untuk itu.

Jangan engkau biarkan penjagal-penjagal. Dinasti Umayyah memenggal lehermu lalu mempermainkannya. Jika kamu hanya mengharapkan kenikmatan dunia maka kamu adalah seburuk-buruk hamba. Sama saja engkau membinasakan dirimu dan orang-orang yang mati bersamamu.

Jika kamu berpikir, ‘Dulu aku dalam kebenaran, tetapi ketika pendukungku sedikit maka aku pun menjadi lemah.’ Ini bukanlah perbuatan orang-orang yang merdeka dan bukan pula seorang ahli agama. Berapa lamakah keberadaanmu di dunia ini? Mati adalah lebih baik.”

Kemudian dia mengingatkan tentang ayahnya, Zubair; kakeknya, Abu Bakar ash-Shiddiq; neneknya, Shafiyyah binti Abdul Muththalib; dan bibinya, Aisyah, istri Rasulullah Saw. Menyemangatinya untuk berjumpa dengan mereka apabila dia mati syahid. Kata-kata ini pun mengalir dalam jiwa anaknya tersebut seperti air sejuk yang masuk ke dalam pori-pori tumbuh-tumbuhan.

Abdullah lantas berdiri dan mengecup kepala ibunya, serta berpamitan menitipkannya kepada Allah. Dia berkata kepada ibunya untuk meyakinkan kembali kesabaran dan keteguhan, “Aku takut mereka memutilasi jasadku setelah kematianku.”

Lisan ibunya mengucapkan sebuah ungkapan yang terus menjadi peribahasa di momen-momen kesabaran dan ketangguhan, “Wahai putraku, sesungguhnya kambing itu apabila dikuliti tidak membuatnya buruk untuk dimakan kalau sudah disembelih.”

Kita belajar dari kisah ini bahwa seorang wanita muslimah seharusnya mengikuti jejak para shahabiyah dalam mendidik anak-anak. Mendidik hidup bersungguh-sungguh dan mau berkorban untuk agama Islam. Tak ada waktu untuk bermanja-manja dan berlena-lena yang hanya membuahkan generasi lemah, tidak mampu untuk bersabar apalagi untuk berkorban.

*Peni Nh

Sumber: Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salim. 2014. Shafahat Musyriqat min Hayatis Shahabiyyat (Diary Kehidupan Shahabiyah). Yoyakarta: Pro-U Media. Hal. 104-106.

Previous articleReformasi Islam?
Next articleMengejar Fatamorgana
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here