Sikap Positif dan Baik Sangka pada Allah

0
120 views

Kiblatmuslimah.com – Dikisahkan ada seorang ibu muda bijaksana yang memiliki dua anak kembar berumur delapan tahun. Ibu muda tadi yakin bahwa anaknya ini memiliki sikap hidup atau cara pandang dalam melihat suatu keadaan dalam hidupnya. Kedua anak ini memiliki sikap yang berbeda. Anak pertama memiliki jiwa yang lemah, pemalas, dan mudah menyerah (negative attitude). Adapun anak kedua sebaliknya, semangat hidupnya menyala-nyala, antusias dan penuh gairah (positive attitude).

Untuk menguji perilaku di atas, ibu itu mengunci kedua anaknya di dalam dua kamar yang berbeda. Anak pertama dimasukkan ke dalam kamar yang penuh dengan mainan serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Sedangkan anak kedua di dalam kamar kosong tidak ada apa-apanya kecuali kotoran kuda. Kemudian anaknya dikunci selama satu jam di dalam kamar. Apakah yang akan dilakukan kedua anak tersebut?

Setelah satu jam, ibu membuka kamar mereka. Ketika membuka kamar pertama, didapati anaknya sedang menangis dan membanting mainan. Ketika ditanya oleh ibunya, “Nak, kenapa kamu menangis?” Sang anak menjawab,  “Aku takut sendirian di kamar, tidak ada temannya.”

Sesaat kemudian, ibu tersebut membuka kamar anaknya yang kedua. Setelah terbuka, mengejutkan. Ibu mendapati anaknya sedang menggali tanah, seakan-akan anak itu mencari sesuatu. Ketika ditanya oleh ibu, “Anakku, apa yang kamu lakukan?” Lalu anak itu menjawab, “Ibu, aku sedang mencari kuda. Kalau di sini ada kotoran kuda, berarti di bawah tanah sana ada kuda sedang bersembunyi”.

Kisah di atas memberi ilustrasi kepada kita bahwa sikap dan cara pandang mempengaruhi penyelesaian persoalan hidup. Bagi seseorang yang memiliki sikap positif atau husnudzan kepada Allah, serumit apapun persoalan hidup, menganggapnya sebagai tangga menuju kesuksesan. Dia akan selalu melihat masalah sebagai tantangan yang bisa ditaklukkan dan berbuah kesuksesan. Sebaliknya kalau seseorang memiliki sikap negatif, sekecil apapun persoalannya, hanya membuat dirinya ciut dan putus asa. Dia akan menganggap masalah sebagai batu penghalang yang akan menghambat setiap kesuksesan.

Dalam kaca mata dunia Islam, sikap positif bisa disebut dengan husnudzan billah yang artinya berprasangka baik kepada Allah, diri sendiri, dan lingkungan sekitar. Allah telah memerintahkan untuk selalu berprasangka baik. Segala prasangka menentukan hal yang akan lalukan Allah terhadap kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus husnudzan pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya

Contohnya: Jika seseorang hamba berprasangka bahwa Allah telah kejam kepada dia, maka kekejaman hidup yang dirasakan. Sebaliknya jika seseorang berprasangka bahwa Allah sayang dan cinta kepada dirinya, keindahan hidup yang akan dirasakan.

Jika kita sudah paham tentang konsep sikap positif atau husnudzan billah, maka amat merugi jika tidak menerapkan di dalam kehidupan. Mulai sekarang, mari kita selalu bersikap positif atau husnudzan billah. Segala sikap atau prasangkaan kita terhadap Allah akan menentukan perilaku dalam menghadapi kehidupan ini. Yang istimewa bagi orang beriman, sikap kita dalam menghadapi kehidupan ini, tidak hanya berbalas sebatas di dunia saja, tapi di akhirat juga. Bahkan Allah akan membalas pahala itu dengan berlipat-lipat. Semoga kita termasuk hamba yang bisa menentukan sikap positif dan selalu husnudzan billah, agar hidup berkah dan selalu mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Amin.

Oleh: Fyrda Ummu farhat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here