Sibling Rivalry (Persaingan Antarsaudara)

0
23 views

Kiblatmuslimah.com – Sibling rivalry atau persaingan antarsaudara merupakan suatu ketegangan yang terjadi antara kakak dan adik dalam satu keluarga. Hubungan yang tadinya hangat antara kakak dan adik, biasanya mulai mendingin ketika adik bertambah usia. Apalagi bila jarak antara keduanya cukup dekat. Terjadilah persaingan, saling berebut mainan dan perhatian orang tua. Masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain.

Anak yang lebih muda usianya sering merasa tak berdaya, terutama bila tingkah lakunya acap kali dikritik oleh anak yang lebih tua. Sementara anak yang lebih tua merasa kekuasaannya terampas, apalagi ia diharuskan untuk selalu mengalah pada setiap kemauan adiknya. Perhatian orang tua dan lingkungan pun kini terbagi menjadi dua antara dia dan adiknya. Akhirnya timbul perselisihan dan persaingan sebagai wujud ketegangan dari hubungan kakak dan adik.

Di balik ketegangan yang timbul, persaingan antarsaudara sebenarnya memiliki fungsi pendidikan. Persaingan dapat menjadi bekal utama bagi anak untuk belajar hidup bersama orang lain. Belajar berbagi, merasakan indahnya kemenangan dan pedihnya kekalahan. Belajar mencintai orang lain, mengatasi rasa kesal serta menjaga perasaan orang lain. Dengan bimbingan orang tua, kakak dan adik yang bertengkar dapat dilatih untuk mengatasi perselisihan dengan cara yang baik.

Islam melarang permusuhan dan perpecahan antarsesama muslim. Persaingan dan perebutan ini akan menjadikan umat lemah. Bersabar dan lapang dada merupakan cara untuk mencegah munculnya persaingan antarsesama muslim. Terlebih persaingan antaranggota keluarga akan melemahkan kesolidan dan merugikan keluarga. Karenanya jika sibling rivalry ini terus berlanjut dan berlebihan, tentu saja akan merusak diri sendiri dan tatanan umat pada umumnya.

Di sini peran orang tua teramat penting untuk mengatasi persaingan antarsaudara agar tidak berlebihan dan menimbulkan efek buruk dalam jangka panjang. Dari mana dimulai?

Pertama, dimulai saat ibu hamil anak kedua. Orang tua memberitahukan pada anak pertama bahwa ia akan memiliki adik yang dapat diajak bermain dan perlu dilindungi. Melibatkan anak dalam persiapan menyambut kelahiran adik bayi, memberi kesempatan padanya untuk berinteraksi dengan adik bayi sejak dalam kandungan. Ketika bayi lahir, jangan paksa ia untuk langsung mendekat atau menyukai adik bayi. Biarkan ia datang sendiri karena rasa ingin tahunya. Biarkan rasa cintanya tumbuh secara alami.

Usahakan anak selalu berada di dekat orang tua, ikut membantu mengurus bayi sehari-hari. Keterlibatan ayah sangat diharapkan untuk memberi kompensasi perhatian terutama saat ibu sedang sibuk mengurus bayi. Ayah dan ibu mengatur beberapa kegiatan agar dapat dilakukan bersama-sama. Dengan demikian, rasa cinta dan sayang si kakak akan terus tumbuh dan diharapkan perasaan itu akan lebih besar daripada merasa tersisih dan tersaingi.

Kedua, Bersikap adil terhadap semua anak. Orang tua sebisa mungkin mencoba menghabiskan waktu yang cukup untuk masing-masing anak. Jika ibu sedang bersama anak yang masih kecil maka ayah harus siap membagi waktunya dengan yang besar. Sebelumnya orang tua memberikan pemahaman kepada anak yang besar saat adik mereka lahir. Jelaskan bahwa adik bayi membutuhkan banyak waktu dari ibu. Jangan membuat janji yang tidak bisa dipenuhi, karena apabila tidak terpenuhi hanya akan membuat anak kecewa. Katakan hal yang sebenarnya pada anak yang besar.

Ketiga, ketika anak-anak mulai besar, mulai muncul persaingan antarmereka. Diusahakan agar tidak emosional dalam menengahi suatu perselisihan. Agar anak belajar dari sikap orang tua cara menyelesaikan suatu permasalahan. Jika muncul argumen dari keduanya, dengarkan kedua belah pihak bergantian, ajak mereka berdamai. Jika tidak berhasil, pisahkan mereka guna mencegah pertengkaran akan memanas dan berlanjut.

Orang tua dapat mengawasi perilaku mereka serta memberikan perhatian dan kasih sayang secara wajar. Perhatian orang tua merupakan hadiah bagi anak-anak, karenanya saat anak terlibat konflik jangan sekali-kali bertindak sebagai wasit. Anak biasanya berkelahi karena kedua orang tuanya terutama ibu tidak memberikan keadilan dalam perhatian. Kenali masalah dari masing-masing anak, pahami perasaan mereka dan hindari pilih kasih meski itu terhadap anak yang paling kecil.

Terakhir, jika memungkinkan, jadwalkan waktu-waktu khusus untuk setiap anak. Biarkan mereka masing-masing merasa spesial dan berharga. Dengarkan ceritanya, keluh kesahnya saat berdua, tanpa membandingkan dengan saudaranya. Semoga bermanfaat.

 

 

Penulis: Ummu Sayyaf

Editor: UmmA

Sumber:

Irwan Prayitno. 2003. Anakku Penyejuk Hatiku. Bekasi: Pustaka Tarbiatuna.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here