Si Cerdas Amr bin Al-Ash dan Alexandria

0
151 views

Kiblatmuslimah.com – Si cerdas Amr bin Al-Ash adalah shahabat Rasulullah yang dipercaya untuk memegang tampuk kekuasaan sebagai gubernur di Palestina dan Yordania. Sejak awal Amr bin Al-Ash sudah sangat ingin menaklukkan Mesir. Ia pun meminta izin dengan menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Bahkan ia rela menunggu sang Khalifah pulang yang kala itu masih berada di Suriah. Namun usahanya gagal.

Umar bin Khaththab menganggap penaklukkan itu belum perlu dilakukan. Sebab, Alexandria merupakan kota utama kedua di Mesir yang masih menjadi salah satu pangkalan angkatan laut terkuat Kekaisaran Byzantium dalam mengarungi Laut Tengah. Alexandria terbentang sepanjang 32 kilometer di tepi laut Mediterania (Laut Tengah). Kota ini didirikan oleh Alexander Agung pada 331 SM dan menjadi ibu kota Mesir selama 1000 tahun lamanya.

Amr bin Al-Ash tak gentar atas penolakan Khalifah. Ia mengungkapkan ide tersebut berulang  kali, “Kalau tidak ditaklukkan, nanti kota di sekitar Laut Tengah yang berada di bawah kekuasaan Kaum Muslimin (Suriah dan Yordania) akan menjadi bulan-bulan pasukan Byzantium.” Ya, dari 4 kota di wilayah Syam, hanya Mesir yang belum ditaklukkan. Akhirnya Khalifah pun mengizinkan, “4000 pasukan saja yang dibawa”, syarat Amirul Mukminin. Tak ayal, jendral cerdik ini pun kegirangan.

Penyerangan tak bisa langsung menuju titik sasaran. Pertama kali yang dilakukan adalah menaklukkan wilayah pinggiran Laut Tengah. Pasukan muslimin pun berhasil memporak-porandakan cegatan musuh hingga mencapai Benteng Babilonia. Sembari istirahat di dekat benteng, Amr bin Al-Ash izin kembali untuk bergerak maju mengepung Alexandria di bawah komando Zubair bin Awwam dan Maslamah bin Al-Mukhallad. Setelah 14 bulan, jebol pertahanan kota, pusat metropolis Byzantium ini, tepat pada hari Jum’at, 2 Muharram 20 H (22 Desember 641 M).

Alexandria memang pusat perniagaan dunia saat itu. Amr bin Al-Ash sejak dahulu adalah saudagar ulung, paling sering melakukan perniagaan di kota tersebut. Sehingga sangat paham karakter masyarakat Alexandria, kondisi geografis maupun geopolitik di sekitarnya. Juga paling paham strategi penaklukkan Mesir yang masih dikuasai bangsa Yunani saat itu.

Kondisi Mesir pasca ditaklukkan kaum muslimin masih tergolong labil gempuran musuh. Kota di luar Laut Tengah, termasuk pangkalan laut Konstantinopel masih dalam kuasa Byzantium Romawi. Sehingga Umar bin Khaththab melarang Amr bin Al-Ash untuk menjadikan Alexandria sebagai ibu kota Mesir. Maka Amr bin Al-Ash menjadikan kota Fustat (luar Benteng Babilonia) sebagai pengganti Alexandria.

Tak mampu bertahan dalam cahaya Islam, Napoleon Bonaparte berhasil menguasai Mesir melalui pangkalan laut tersebut tahun 1213 H/ 1798 M. Inggris pun melakukan strategi yang sama untuk menduduki Mesir pada 1299 H/1882 M. Kota ini pun berhasil diperbarui di masa kepemimpinan Muhammad Ali dari Dinasti Utsmaniyyah, sang pembaru Mesir yang naik tahta tahun 923-1220 H/1517-1805 M.

Pengusul ide adalah eksekutor, begitu strategi Umar bin Khaththab ketika memberi izin kepada Amr bin Al-Ash yang memang sangat paham medan tempurnya, Alexandria. Begitulah peperangan, siapa yang paling paham medan, dialah pemenang.

Oleh: A. Madjid

Sumber: Ahmad Rofi’ Usmani. 2016. Jejak-Jejak Islam. Yogyakarta: Penerbit Bunyan. Hlm: 24-25.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here