Semangat Baca

0
98 views

Kiblatmuslimah.com – Tepat satu pekan yang lalu kami mengikuti kulwap (kuliah what’s app) dengan tema Membangkitkan Ghirah Membaca Kawula Muda. Pematerinya member of Indonesia Literation Action.

Diskusi dimulai dengan pertanyaan, “Saat ini kami berada di posisi membaca sebagai pilihan atau kewajiban?” Pertanyaan yang menarik. Banyak jawaban membaca sebagai pilihan. Jawaban apapun yang dipilih tidak masalah. Yang memilih membaca sebagai pilihan atau kewajiban sudah berada di jalan menuju kecintaan membaca. Teruskanlah membaca!

Kenapa temanya membangkitkan ghirah (semangat) baca? Karena apabila kita berhasil mencetak orang-orang yang gemar membaca, segala macam ilmu akan menyertai mereka. Maka dari itu, marilah kita tambah setiap hari barisan para pembaca dengan wajah-wajah baru!

Miris melihat kondisi saat ini, para pelajar penuntut ilmu malas membaca. Bahkan buku pelajarannya tak ada yang selesai dibaca satu pun. Begitu tidak tahannya untuk berdiam sejenak membaca. Malunya diri ini bila membandingkan dengan para ulama terdahulu seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Imam Asy-Syafi’i, Ibnul Jauzi yang menghasilkan karya penuh manfaat. Mereka bisa membaca sekian ratus buku, itu semua tak sekedar baca. Bahkan mereka hafal dengan yang dibaca. Masya Allah.

Akan muncul pertanyaan atau tanggapan, “Bukankah mereka, para ulama terdahulu terpaut jauh dengan generasi saat ini? Apakah ada sosok ulama masa kini yang mencintai ilmu dengan terus membaca seperti para ulama terdahulu?” Jawabannya “Ada”.

Tahun 1420 H (1999 M) Syaikh Ali Thanthawi berkata, “Aku hari ini adalah aku yang kemarin. Sebagaimana dahulu ketika aku masih kecil, aku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah untuk membaca. Dahulu aku pernah membaca 300 lembar dalam sehari. Sedangkan kalau dirata-rata aku membaca 100 lembar tiap harinya, yaitu sejak 1340 hingga 1402 H, 62 tahun. Coba hitung, ada berapa halaman yang telah kalian baca? Sedang aku membaca seluruh tema, hingga tema-tema ilmu pengetahuan.”

Berapa lembar yang kita baca setiap harinya? Media bacaan tidak hanya buku, kini telah tersedia gadget yang simpel dibawa kemanapun, namun benarkah alat itu dipakai untuk membaca hal-hal yang bermanfaat? Ternyata ada penelitian yang menyatakan bahwa membaca buku di setiap lembarannya itu memiliki aroma seperti zat adiktif (efek candu) dan etiap suara gesekan kertas yang dibolak-balik memberi efek pada para pembaca untuk terus membaca.

Aqqad berkata, “Membaca satu buku tiga kali lebih bermanfaat daripada membaca tiga buku dengan sekali baca.” Bagi yang terbiasa membaca buku berulang kali maka hendaknya tetap melakukan itu. Namun, bagi yang belum terbiasa hendaknya menyelesaikan bacaan saat pertama kali membaca. Kuncinya adalah kebiasaan.

Sering kita mendengar kalimat ‘ikatlah ilmu dengan menulis atau mencatat’. Imam An-Nawawi berkata, “Janganlah seseorang itu meremehkan suatu ilmu yang dia lihat dan dengar. Akan tetapi segeralah dia mencatat dan menelaahnya.”

Mencatat memang penting, namun jangan sekali-kali seseorang mengabaikan pentingnya hafalan. Jika engkau ditanyai tentang sesuatu, kemudian hanya bisa berujar persoalan itu dalam buku catatanku. Buku catatan itu entah di mana keberadaannya. Sayang sekali, orang seperti itu belum bisa dikatakan sebagai orang yang berilmu. Ilmunya tertinggal di buku.

Catatan dan hafalan, keduanya penting. Bukankah orang-orang yang getol mencatat ilmu adalah para tokoh penghafal? Kita sebut saja Imam Bukhari, sebagaimana yang kita ketahui tentang kekuatan hafalannya, tulisan-tulisan karyanya yang luar biasa dan terus menjadi amal jariyah untuknya.

Sedang membaca buku apa saat ini?

_Hunafa’ Ballagho_

Referensi: Ali bin Muhammad Al-‘Imran. 2018. Gila Baca ala Ulama. Potret Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu. Solo: Pustaka Arafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here