Sekolah itu Bernama Pernikahan

2
701 views

Kiblatmuslimah.com  “Mbak, aku lagi galau nih..bete banget sama suami. Kok ga ngerti-ngerti ya sama perasaanku, padahal udah 4 tahun nikah tapi tetep aja ga ngerti.”

“Galau banget ya jadi istri. Kayaknya ga pernah bener. Begini salah, begitu salah. Semua salah. Dia aja yang bener.”

Duuuh, susah banget sih bro ngatur istri. Dibilangin, bantah melulu. Kita ngomong sepatah, dia sepanjang kereta. Capek deeh.

Rasanya saya nyesel deh nikah. Hati bukannya tentram, malah galau terus bawaannya.

Mbak, kirain nikah tuh enak ya. Ada teman hidup, apa-apa berdua. Makan, tidur ada temannya, pergi dianterin. Ada yang sayang, ada yang merhatiinpokoknya hidup bakalan indah deh kalau udah nikah. Eeeeh ga taunya berbeda 180 derajat mbakhuhuhu. Nyesel aku.

Kita kayaknya sering banget mendengar curhatan-curhatan  tentang pernikahan seperti di atas. Dari yang biasa saja sampai yang terdengar sangat ekstrim. Pernikahan bagaikan momok yang siap mengancam siapapun yang memasukinya. Ibarat rumah angker yang dari jauh tampak megah dan indah. Namun ketika sudah berada di dalamnya, menghadirkan cerita-cerita horor yang membuat trauma dan menakutkan.

Pernikahan memang tak seindah bayangan. Karena terjadi di dunia nyata, bukan dalam khayalan. Siapapun yang baru menjalaninya akan kaget dan tidak terbiasa pada awalnya. Terlebih jika sebelum menikah kita telah membayangkan hal-hal indah pasca menikah. Sudah bisa dipastikan, kita akan gigit jari ketika mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.

Kita membayangkan pasangan kelak ialah seorang pangeran tampan yang baik hati, memanjakan dan menghujani dengan sikap dan kata-katanya yang romantis. Tetapi setelah tahu keadaan yang sebenarnya, ternyata ia tak lebih hanya seorang lelaki biasa yang jauh dari sifat romantis. Bahkan dengan segudang keburukan yang acap kali membuat kita jengkel dibuatnya. Bila mengingatnya, muncul rasa ingin sekali pergi jauh darinya.

Di situ kita lupa, bahwa pada kenyataannya diri kita juga bukan pasangan yang sempurna baginya. Kita bukanlah Cinderella yang cantik dan lemah lembut. Bahkan untuk sebuah senyuman pun seolah sangat mahal untuk ia dapatkan. Lantas mengapa kita tak bosan-bosan  mengungkit kesalahan dan keburukan pasangan? Padahal kita sering lupa bercermin pada diri.

Pernikahan harmonis tak kan terjadi tanpa adanya itikad baik dari kedua belah pihak. Suami dan istri tak lain ialah syarika hayati (partner hidup) selamanya. Jika tak mampu bekerja sama, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Apabila masing-masing hanya saling mengeluh dan menunggu satu sama lain untuk berubah, yakin tidak akan terjadi perubahan apapun dalam kehidupan pernikahan itu.

Anggaplah pernikahan bagaikan sebuah sekolah, oleh sebab itu kita harus menjadi murid yang berkarakter penuntut ilmu sejati. Seorang penuntut ilmu haruslah memiliki kesabaran dan daya juang tinggi, agar dapat menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang bagus di sekolahnya.

Sekolah bernama pernikahan, ialah sekolah terlama dan terlengkap yang pernah ada. Di sanalah kita belajar ilmu komunikasi dengan pasangan, manajemen waktu dan keluarga. Ilmu ekonomi, pendidikan dan masih banyak lagi mata pelajaran yang mesti kita pelajari di bangku sekolah ini. Semua itu tidak akan pernah kita dapatkan di sekolah formal manapun, hatta di sekolah termahal sekalipun!

Apakah setiap orang yang masuk ke sekolah adalah orang-orang yang sudah pintar? Tentu saja tidak. Orang yang mendaftarkan dirinya ke sekolah adalah orang yang ingin belajar dan ingin menjadi pintar karenanya. Begitu pula dengan pernikahan. Meski puluhan buku sudah dibaca, ratusan kali mendengar ceramah tentang ilmu pernikahan, tetap saja setiap orang akan menjadi pemula saat menapakinya.

Bertemu dengan orang yang baru dikenal, untuk menjadi pasangan seumur hidup. Orang yang memiliki pendidikan dan dari pengasuhan orang tua yang berbeda. Tentu saja akan memiliki karakter yang jauh berbeda. Kesukaan, gaya hidup dan pola pikir satu sama lain harus saling belajar agar bisa saling mengenal dan memahami. Tujuan akhirnya untuk saling memaklumi keburukan masing-masing.

Bahkan orang yang sudah pernah menikah pun, ketika menikah untuk kedua kalinya, baik itu karena kegagalan atau berpoligami, akan kembali menjadi murid yang diharuskan belajar. Dikarenakan mereka akan bertemu lagi lawan jenis dengan karakter yang berbeda. Kalau dahulu suami berkarakter A sehingga cara menghadapinya harus dengan pola B. Sekarang suami yang C, pasti akan beda lagi pola yang digunakan.

Atau orang yang menikah dengan pacaran terlebih dulu, tetap saja harus belajar meskipun katanya sudah saling mengenal. “Dulu waktu zaman pacaran, dia romantis banget deh. Sekarang mah boro-boro. Yang ada nyebelin dan kaku banget.”

Familiar dengan curhatan di atas? Jawabannya ya iyalah. Dulu waktu pacaran si lelaki tidak mikirin nafkah, bayar listrik, uang belanja dan kontrakan. Cukup dengan 20 ribu saja sudah bisa ngajak kencan sambil makan mie ayam.

Menikah, saatnya untuk belajar lebih giat. Suami dan istri bahu-membahu mencari ilmu. Setiap masalah datang, kita buka kembali catatan, renungi lagi wahyu Ilahi. Jawaban dari setiap permasalahan yang telah mampu dilewati dirangkum sebagai modal ilmu untuk perjalanan selanjutnya.

Pernikahan ideal sesungguhnya bukanlah pernikahan yang adem ayem tanpa masalah. Tetapi, ketika pasangan suami-istri mampu keluar dari setiap permasalahan dengan sukses sesuai ilmu dan aturan Ilahi. Belajar sejatinya selalu menjadi nafas bagi kehidupan. Sebab, begitu pentingnya memiliki ilmu untuk setiap peran yang kita jalani. Semoga kita semua dapat lulus dengan predikat baik, bahkan terbaik di sini. Di sekolah yang bernama pernikahan.

*Putri Samawiy

2 COMMENTS

  1. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    senang saya baca tulisannya ukhti..

    بارك الله فيك

    🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here