Sekilas Hubungan Wilayah Nusantara dengan Turki Ustmani

0
126 views

Kiblatmuslimah.com – Wilayah Nusantara telah terhubung dengan dunia luas disebabkan oleh letaknya yang strategis sejak masa lampau. Hal tersebut memungkinkan untuk berinteraksi dengan beragam etnis, agama dan budaya secara langsung. Hubungan tersebut terjalin melalui jalur perdagangan, terutama di wilayah Selat Malaka yang merupakan lokasi paling penting.

 

Hubungan perdagangan selanjutnya berpengaruh pada pertukaran dan pergeseran budaya. Pemilik kekuasaan politik terkuat akan memberikan pengaruh terbanyak, contohnya adalah India. Salah satu pengaruh India adalah tersebarnya agama Hindu dan Budha yang menyebar luas di wilayah Nusantara. Agama Hindu dan Budha bertahan di wilayah Nusantara dalam beberapa masa.

 

Selanjutnya, agama Hindu dan Budha mulai meredup dan tergantikan oleh pengaruh Islam. Wilayah yang paling terpengaruh adalah wilayah-wilayah di jalur perdagangan seperti Aceh, Banten, Jepara, Gresik, hingga Makassar. Kemudian pada abad ke-9 mulai terbentuk beberapa kerajaan Islam di wilayah Sumatera, Jawa, hingga Maluku.

 

Pada abad ke-13 hingga 16, muncul kerajaan-kerajaan Islam yang besar dan mengalami puncak kejayaan. Pada abad ke-14, Turki Utsmani tengah memegang kekuasaan politik dunia Islam. Kekuasaan Turki Utsmani terus meluas. Hal tersebut menjadikan para penguasa kerajaan Islam di wilayah Nusantara memusatkan perhatian kepadanya.

 

Pada tahun 1562, Alauddin Riayat Syah Al-Kahhar sebagai Sultan Aceh mengirimkan utusannya ke ibu kota Turki Ustmani, Istanbul. Kedatangan utusan tersebut menandakan hubungan baru dengan Turki Ustmani yang lebih kuat. Sebelumnya, hubungan Aceh dengan Turki Ustmani terhubung melalui perwakilan kekuasaan Turki Ustmani di Mesir.

 

Hubungan baru antara Aceh dengan Turki Ustmani bertahan hingga abad ke-19. Selanjutnya, semakin melemah dengan bertambah lemahnya kekuasan Turki Ustmani. Problematika yang sedang dialami Turki Ustmani menjadi perbincangan yang hangat di kalangan intelektual muslim Indonesia. Baik di surat kabar maupun pertemuan-pertemuan, pembahasan tentang Turki Ustmani tak terlewatkan.

 

Pada 1 Maret 1924, kekhilafan Turki Ustmani resmi dihapus oleh Mustafa Kemal Pasha dan digantikan dengan Republik Turki. Para ulama Indonesia bereaksi dengan mengirimkan utusan-utusannya melalui Komite Khilafah yang dibentuk untuk memperjuangkan tegaknya kembali kekhalifahan. Namun pada akhirnya, mengalami jalan buntu. Selanjutnya, orang-orang Barat menyebut gerakan Islam yang memperjuangkan politik di bawah panji-panji Islam sebagai Pan-Islamisme.

 

Penulis: daffa.an-nuur

Penyunting: UmmA

Referensi: Herdianysyah, Deden A. 2017. Jejak Kekhalifahan Turki Ustmani di Nusantara. Yogyakarta: Pro U Media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here