Seberapa Sering Orang Tua Bersama Anaknya?

0
120 views

Kiblatmuslimah.com – Sebagian orang tua ada yang merasa telah bersama dengan anaknya, tapi pada kenyataannya belum. Mengapa begitu? Kondisi seperti apa yang membuat orang tua dan anak dikatakan bersama tetapi faktanya belum?

Berada di dekat anak, belum tentu bersama anak. Dekat secara fisik belum sepenuhnya bisa dikatakan bersama, bila tidak ada interaksi di dalamnya.

Dikatakan bersama artinya orang tua berdua dengan anak. Tidak bertiga dengan handphone, berempat dengan televisi atau berlima dengan kompor, misalnya. Dalam bahasa lain bisa diartikan ‘Tidak disambi.’Jadi kegiatan yang dilakukan FOKUS bersama anak.

Kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu bersama anak bisa bervariasi. Abah Ihsan dalam seminarnya merekomendasikan kegiatan 3B yakni Bicara, Belajar, dan Bermain. Misal mendampingi anak belajar, mengajari anak mengaji, membantu anak mengerjakan PR, memasak bersama, bermain petak umpet, bercerita, mendengarkan cerita dan pengalaman anak di sekolah, meminta dan melihat anak bernyanyi atau bermain peran, dan lainnya.

Ada interaksi serta keterlibatan orang tua dan anak dalam kegiatan yang dilakukan, itulah yang dikatakan bersama dengan anak. Apapun kegiatannya, bila dilakukan dengan fokus bersama anak, akan sangat bermakna bagi jiwa orang tua dan anak.

Kegiatan bersama anak dapat membawa pengaruh yang baik bagi hubungan dan kedekatan orang tua dan anak. Bila semakin sering dilakukan, mudah-mudahan akan banyak kebaikan dan kebahagiaan yang akan dirasakan dalam keluarga. Hubungan orang tua dan anak pun akan semakin menyenangkan.

Orang tua tidak harus seharian membersamai anak. Waktu 3 jam misalnya dari pukul 18.00-21.00 WIB seperti yang dipopulerkan Abah Ihsan, bisa orang tua terapkan di rumah. Waktu lain yang tersedia dan bisa dioptimalkan bersama anak, hendaknya selalu diluangkan setiap harinya.

Semakin banyak waktu berkualitas yang diberikan orang tua pada anak, maka anak pun akan tumbuh dan berkembang semakin optimal.

Menurut penuturan seorang Bunda dalam grup parenting school yang saya kelola, ia sampaikan bahwa ketika anaknya merasa kurang perhatian dan kebersamaan dari orang tuanya, anaknya akan mencari-cari perhatian. Nah, jangan-jangan, permasalahan anak yang sering dihadapi orang tua terjadi karena kurangnya perhatian orang tua pada anaknya. Akibatnya, anak mencari-cari cara untuk menarik perhatian orang tua.

Bila anak mencari perhatian dengan hal positif tentu tidak masalah, justru malah membuat orang tua menjadi senang dan bangga. Tapi bila yang terjadi anak justru mencari perhatian dengan cara yang negatif, tentu akan menjadi tidak baik karena dapat merugikan tidak hanya bagi anak tetapi juga orang tua dan banyak pihak lainnya.

Untuk itu, yuk kita membersamai anak-anak dengan bahagia! Mari memberikan waktu dan perhatian yang berkualitas bagi anak-anak agar mereka bisa berkembang baik sesuai harapan orang tua. Keharmonisan hubungan dalam keluarga pun akan semakin tercipta.

 

Sumber :

Sukmadiarti Perangin-angin, https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1855950347846415&id=100002944036470

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here