Runtuhnya Khalifah Utsmaniyah dan Berdirinya Negara Israel

0
90 views

Kiblatmuslimah.com – Khalifah Utsmaniyah berhasil menaungi dunia Islam selama kurun waktu 4 abad. Berbagai negara berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah selama itu, salah satunya adalah Palestina. Setelah ditaklukkan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, Palestina terus menjadi negara incaran Inggris. Hal ini terus berlanjut hingga masa Khalifah Utsmaniyah.

Bahkan ketika sultan terakhir Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II berkuasa, Inggris dan komunitas Yahudi berkali-kali meminta izin kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membangun pemukiman resmi dan permanen untuk Yahudi di Baitul Maqdis. Alasannya ingin merelokasi orang-orang Yahudi yang bermasalah di Eropa. Walaupun motif agama dan balas dendam perang salib ada di belakang itu. Semua permintaan Inggris tersebut secara tegas ditolak oleh Sultan.

Namun, kekalahan Turki Utsmani dalam perang Dunia I (1914-1917) dari Inggris dan sekutunya membuat Utsmani tidak kuasa lagi mencegah ketika Arthur Balfour mengeluarkan pengumuman bolehnya orang-orang Yahudi membangun pemukiman di kawasan ini. Saat itu Baitul Maqdis secara de jure berada di bawah kekuasaan Inggris. Pemberian Inggris atas wilayah Baitul Maqdis dan beberapa kawasan di sekitarnya yang kemudian diberi nama Palestina kepada Zionis-Yahudi ini merupakan bagian dari kesepakatan atas dukungan Zionis internasional terhadap Inggris pada Perang Dunia I. 

Sejak tahun 1917, dibuat suatu kesepakatan antara Inggris dengan Yahudi. Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour menjanjikan kepada bangsa Yahudi bahwa mereka akan dibangunkan tanah air khusus bagi mereka di kawasan yang oleh Inggris dinamai Palestina. Padahal Yahudi tidak pernah turut serta menaklukkan negara tersebut. Bermula dari sini, kezaliman membabi buta terjadi di Baitul Maqdis. Terlebih pada tanggal 9 Desember 1917, Jenderal Allenby berhasil menaklukkan Baitul Maqdis dan menganggapnya sebagai kemenangan Perang Salib.

Kejatuhan Baitul Maqdis ke tangan Inggris ini kemudian secara bertahap diikuti dengan runtuhnya kekhilafahan Utsmani di Istanbul. Pada Maret 1924, secara resmi institusi kekhalifahan dihapuskan dan didirikan Negara Turki sekuler sebagai suatu negara bangsa. Selain kekalahan Turki Utsmani dalam PD I (Blok Sekutu), banyak riset menyebutkan bahwa runtuhnya kekuasaan Khalifah juga disebabkan semakin kokohnya gerakan Turki Muda yang berkolaborasi dengan Inggris dan Zionis Yahudi yang menggerogoti kekuasaan Khalifah.

Runtuhnya kekhilafahan Utsmani menyebabkan situasi di Baitul Maqdis semakin memburuk. Inggris melepaskan kawasan Baitul Maqdis secara keseluruhan dari Syiria sesuai dengan kesepakatan dengan Prancis tahun 1916 (Perjanjian Sykes-Picot) dan membentuk kawasan tersendiri. Palestina, termasuk di dalamnya Baitul Maqdis kemudian diserahkan kepemimpinannya kepada seorang Yahudi bernama Herbert Samuel antara tahun 1920-1925. Sampai berdirinya Negara Israel pada tahun 1948, semua penguasa di Palestina diangkat Inggris dalam rangka memuluskan misi pendirian negara bagi orang-orang Yahudi dan mengusir bangsa Arab-Baitul Maqdis dari tanah mereka sendiri.

Oleh: Istiqomah elhaura

Referensi: Tiar Anwar Bachtiar. 2018. Jas Mewah; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah. Yogyakarta: Pro-U. Hal: 170-171.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here