Runtuhnya Kerajaan Granada

0
151 views

Kiblatmuslimah.com – Andalusia berada di bawah naungan Islam selama kurang lebih delapan abad. Luas wilayah sekitar 700 ribu km2, meliputi sebagian besar wilayah Spanyol sekarang, seluruh wilayah Portugis dan sebagian besar wilayah bagian selatan Perancis. Ia menjadi saksi kegemilangan peradaban Islam pada tahun 900-an. Namun pada abad kesebelas, kerajaan Andalusia mulai terpecah menjadi beberapa negara kecil.

Setiap negara kecil adalah wilayah yang memiliki hak otonom. Hal ini memudahkan pasukan Kristen Eropa untuk menyerang wilayah Andalusia. Sepanjang dua ratus tahun, satu per satu kerajaan kecil tersebut berhasil dijatuhkan. Dimulai dari kota-kota utama di Andalusia semisal Cordova, Sevilla dan Toledo.

Pada tahun 1240-an, kerajaan Islam yang tersisa di wilayah Andalusia tinggal kerajaan Granada. Ia mampu menghindar dari penaklukan dengan melakukan perjanjian dengan Kerajaan Castile, kerajaan Kristen terkuat di Eropa. Perjanjian tersebut berisi ketundukan kerajaan Granada kepada Kerajaan Castile dan kesediaan untuk membayar upeti berupa emas. Sebagai imbalannya, Kerajaan Castile menjamin independensi Kerajaan Granada.

Selain perjanjian dengan kerajaan Kristen, kondisi geografis kerajaan Granada turut mempengaruhinya terhindar dari penaklukan. Kerajaan Granada berada di kaki pegunungan Sierra Nevada. Ia menjadi benteng alami kerajaan Granada dari serangan luar.

Kerajaan Granada tunduk kepada Kerajaan Castile selama 250 tahun. Menikahnya Raja Ferdinand dengan Ratu Isabella menyatukan dua kerajaan Kristen besar yakni Kerajaan Aragon dan Kerajaan Castile. Mereka bersatu dan membangun cita-cita bersama untuk menghapus jejak Islam di wilayah Andalusia. Salah satu caranya adalah dengan meruntuhkan kerajaan Granada.

Pada tahun 1482, pertempuran antara Kerajaan Granada melawan pasukan kerajaan Kristen tak bisa dielakkan. Masyarakat Granada menyambut peperangan dengan gagah berani. Mereka semangat untuk mempertahanakan tanah air dan eksistensi Islam di Andalusia.

Kerajaan-kerajaan Kristen saat itu saling menguatkan. Mereka bersatu untuk menghancurkan Islam dari Andalusia. Hal ini justru berbanding terbalik dengan kondisi kerajaan-kerajaan Islam di Andalusia. Mereka memiliki misi pribadi masing-masing, sehingga kekuatan kaum muslimin Andalusia terpecah. Lebih parah dari itu, Sultan Muhammad (anak Sultan Granada) melakukan pemberontakan kepada sang ayah dan anggota Kerajaan Granada.

Hal tersebut dimanfaatkan Raja Ferdinand untuk membuat sebuah tipu daya. Ia membantu Sultan Muhammad dengan mengirimkan pasukan kerajaan Kristen. Sultan Muhammad pun berhasil menaklukkan anggota kerajaan dan menguasai Kerajaan Granada. Namun ia hanya dapat menguasai kota karena pasukan Kristen menekan untuk mengambil wilayah desa.

Belum lama Sultan Muhammad menguasai kota, ia mendapat surat dari Raja Ferdinand. Raja Ferdinand meminta agar ia menyerahkan wilayah kota Granada yang dikuasainya. Ia  baru tersadar bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh Raja Ferdinand. Akhirnya ia mengerahkan seluruh kekuatan untuk mempertahankan wilayahnya.

Sultan Muhammad meminta bantuan kepada prajurit Islam dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Namun Turki Ustmani memberikan bantuan yang tidak begitu banyak dan hal tersebut tidak menggoyahkan kekuatan pasukan kerajaan Kristen.

Pada tahun 1491, Granada dikepung oleh pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Bulan November, Sultan Muhammad dipaksa untuk menandatangani surat penyerahan Granada kepada pasukan Kristen.

Tanggal 2 Januari 1492, pasukan Kristen memasuki kota Granada. Mereka merubah simbol-simbol Islam dengan simbol-simbol Kristen. Menara tertinggi Istana Alhambra dipancangkan bendera salib. Hal itu dilakukan agar masyarakat Granada mengetahui pemimpin mereka sekarang.

Selanjutnya, Sultan Muhammad diasingkan. Beberapa langkah ia berjalan di puncak gunung, Sultan Muhammad menoleh ke belakang. Ia melihat kota Granada yang sudah dikuasai Kristen sambil menitikkan air mata. Sang Ibu yang melihat keadaan anaknya justru memarahinya, “Jangan engkau menangis seperti perempuan! Karena engkau tidak mampu mempertahankan Granada layaknya seorang laki-laki”.

Baca juga: Kemegahan Istana Al-Hamra

Daffa An Nuur

Ahmad Mahmud Himayah. 2004. Kebangkitan Islam di Andalusia. Jakarta: Gema Insani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here