Resensi Buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren

0
321 views

Judul buku : Guruku Orang-Orang dari Pesantren

Penulis : KH. Saifuddin Zuhri

Penerbit :  Pustaka Sastra LKIS Yogyakarta

Tebal : 446 halaman

ISBN : 979-9492-52-1

Peresensi : Rieka Wy

 

Kiblatmuslimah.com – Membaca buku ini membuat ingin segera menyelesaikannya. Karena di dalam buku ini, selalu ada hal-hal menarik untuk dicatat sebagai catatan penting yang harus disimpan. Walaupun terkadang hanyalah hal sepele saja.

Buku ini menjelaskan tentang KH Saifuddin Zuhri sejak kecil hingga dewasa. Berawal sekolah ongko loro dan madrasah, kemudian ingin melanjutkan sekolah sebagai santri di Madrasah Al-Huda Nahdhatul Ulama. Lalu beliau menjadi Kepala Kantor Agama Propinsi Jawa Tengah dan Ketua Dakwah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (NU).

Ketika beliau belajar di madrasah, tempatnya hanya di sebuah langgar yang diampu oleh Ustadz Mursyid. Sebuah nasihat beliau yang tentu saja bisa kita ambil, “Lihat saja sejarah orang-orang besar, orang yang sukses, mereka tak pernah mandek terus maju dan maju, terus menggali dan mencari di bidang apapun. Demikianlah semua orang alim, selamanya merasa dirinya masih belum apa-apa, ilmunya masih sak lugut kolang-kaling, belum apa-apa. Orang berilmu selamanya merasa dirinya masih bodoh, hanya orang bodohlah yang merasa dirinya sudah pintar. Yang membuat kesadaran demikian karena peranan ilmu” .

Beliau tinggal di daerah Sukaraja, Banyumas, Purwokerto. Di Sukaraja tahun 1928, tiap sebulan sekali diadakan pengajian khusus yaitu pengajian untuk para Kiai. Masing-masing membawa kitab yang sudah disepakati. Kitab Tafsir Al-Baidlawi, Hadits Al-Bukhari, Ihya’ Ulumudin dan kitab tasawuf Al-Hikam.

Satu Kiai yang membaca dan lainnya membuka halaman kitab yang dibaca lalu menyimak dengan seksama. Orang awam pun boleh ikut sebagai pendengar.  Ma sya Allah, nikmat sekali ketika para Kiai berkumpul untuk mengkaji kitab, bertukar ilmu dan menyelesaikan masalah umat.

KH. Zuhri juga menerangkan saat beliau memasuki pengabdian, kemudian menjadi guru. Di dalam buku ini kita bisa belajar ilmu parenting. Baik ketika menjadi guru dan orang tua. Beliau juga menekankan kepada orang tua agar anak-anak mereka diajarkan shalat sejak dini. Tidak hanya bergantung kepada guru saja. Orang tua diharapkan bisa mengatur keseimbangan waktu bagi anak-anaknya.

Di buku ini juga, diceritakan bahwa KH. Zuhri dalam perjalanan hidupnya banyak bertemu dengan para Kiai NU. Beliau banyak belajar dari segala kelebihan dengan kekurangan masing-masing Kiai tersebut. Apalagi yang teristimewa saat beliau berkunjung ke Pesantren Tebu Ireng yang merupakan “kiblat” pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Beliau bertemu KH. Hasyim Asy’ari yang sering disebut Hadratus Syaikh. KH. Zuhri bersahabat dengan putranya, KH. A. Wahid Hasyim.

Saat itu Indonesia dijajah Belanda. KH. Zuhri bersama sahabat-sahabatnya dan para ulama bahu-membahu memikirkan rakyat. Mereka berjuang jihad fii sabilillah. Juga saat Indonesia diduduki Jepang. Kemudian Indonesia merdeka, tapi hanya sebentar kebahagiaannya. Setelah itu Indonesia dijajah lagi oleh Belanda dengan cara melakukan perundingan-perundingan yang merugikan rakyat. Akhirnya KH. Zuhri bersama dengan para ulama melakukan perang gerilya.

Dalam perjuangan melawan penjajah, pengurus besar NU juga menyerukan agar umat Islam memberikan sokongan materiil dan moril kepada pejuang-pejuang Palestina dan menganjurkan qunut Nazilah di setiap shalat 5 waktu.

Buku ini recomended untuk dibaca karena banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Seperti ketika beliau perang gerilya dan dalam mengambil keputusan-keputusan strategis serta menenangkan umat. Beliau memberi perintah kepada umat Islam terutama para Kiai dan santri untuk berpuasa, melaksanakan shalat hajat dan amal saleh lainnya. Menyelaraskan hidup antara dunia dan akhirat, prihatin dalam suasana jihad, dan yakin bahwa kemenangan akan berpihak kepada umat Islam atas pertolongan Allah Ta’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here