Reformasi Pendidikan (Ta’dib)

0
217 views

Kiblatmuslimah.com – Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pernyataan yang terdapat pada sila ke 2 Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuan yang ingin dicapai saat menetapkan kalimat tersebut adalah menjadikan penduduk Indonesia seluruhnya menjadi manusia yang adil dan beradab.

Bagaimana mewujudkannya? Jika rujukan atau panutannya adalah sekuler yang menjadikan manusia-manusia menyandang paham “sekolahisme”, orang tua merasa cukup dengan menyekolahkan anaknya dari TK bahkan Playgroup sampai universitas tanpa bekal pendidikan dari rumah. Apakah sekolah-sekolah yang telah dilewati sekian tahun mampu menciptakan para lulusan yang terdidik (sosok yang berpendidikan)?

Zaman Rasulullah adalah zaman terbaik. Rasul mendidik para shahabat dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Apakah ada sekolah pada masa itu? Tidak ada sekolah yang didirikan pada masa itu. Manusia-manusia yang lahir dari pendidikan Rasulullah adalah manusia terdidik dengan akhlak yang baik kepada Allah ‘azza wa jalla, Rasulullah, kedua orang tua dan sesama manusia.

Apa yang salah/kurang/hilang dari sistem pendidikan di negara ini? Jawabannya adalah loss of adab (hilangnya adab). Karakter lebih digemakan ketimbang adab. Kurikulum pendidikan karakter diterapkan pada setiap sekolah. Karakter itu bisa dibentuk dengan kebiasaan. Orang kafir bisa memiliki karakter baik. Hanya sebatas itu saja, belum cukup bagi seorang muslim. Adab lebih dari karakter.

Kita punya Ilah sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Ada yang terus ditumbuhkan dalam diri setiap muslim, yaitu keimanan dan ketaqwaan.

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya…. [Q.S. Ali Imran (3): 102]

Konsep pendidikan berbasis adab (ta’dib) ini telah melahirkan sejumlah generasi unggul, yakni generasi shahabat Nabi, Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih. Mereka terbukti sebagai generasi unggul yang berhasil membangun satu peradaban mulia di muka bumi.

Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas memaknai adab sebagai tindakan yang benar yang bersemi dari disiplin diri yang dibangun di atas ilmu dan bersumberkan hikmah (right action that springs from self-discipline founded upon knowledge whose source is wisdom).

Al-ummu madrasatul ula (ibu adalah madrasah pertama) bagi anak-anaknya. Maksudnya bukan hanya tugas seorang ibu menanamkan pendidikan kepada anak-anak. Seorang ayah sebagai pemimpin keluarga juga memiliki peranan penting terhadap penanaman nilai-nilai adab.

Jika orang tua beradab dan berilmu, mereka punya modal kuat untuk mendidik anak-anaknya. Sebaik-baik cara menanamkan adab adalah keteladanan dan pembudayaan suatu nilai-nilai kebaikan. Anak akan lebih mudah memahami adab jika ada contoh dari orang tuanya. Kebangkitan suatu bangsa terkait dengan keberhasilan dalam pendidikan. Didiklah anak menjadi manusia beradab dan berilmu.

_Hunafa’ Ballagho_

Referensi: Dr. Adian Husaini. 2018. Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang menuju Negara Adidaya 2045, Kompilasi Pemikiran Pendidikan. Jawa Barat: Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok (At-Taqwa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here