Rasulullah Lebih Kucintai daripada Diriku

0
135 views

Kiblatmuslimah.com – Beliau diangkat menjadi khalifah saat berusia 52 tahun dan wafat pada usia 62 tahun. Yang menjadi pikirannya adalah strategi menguasai 2/3 dunia. Atas kehendak Allah ‘azza wa jalla, Islam tersebarluaskan di muka bumi pada masa kekhalifahannya. Dia adalah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu. Rasulullah memberikannya julukan “Al-Faruq (pembeda)”. Engkau Umar bin Khaththab adalah Al-Faruq karena Allah membedakan antara kebenaran dan kebatilan dengan perantaraan dirimu.

Pada suatu waktu Rasulullah berdialog dengan Umar Al-Faruq.

Umar               : Demi Allah, ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintaimu.

Rasulullah       : Melebihi orang tuamu, ya Umar?

Umar               : Benar, ya Rasulullah.

Rasulullah       : Melebihi keluargamu, ya Umar?

Umar               : Benar, ya Rasulullah.

Rasulullah       : Melebihi hartamu, ya Umar?

Umar               : Benar, ya Rasulullah.

Rasulullah       : Melebihi dirimu, ya Umar?

Umar               : Tidak, ya Rasulullah.

Rasulullah       : Sesungguhnya keimananmu tidak sempurna hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.

 

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai menjadikan aku (Rasulullah) orang yang paling dicintainya daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari-Muslim, shahiihul jaami’ no. 7582)

 

Umar               : (Kemudian dia beranjak dari tempatnya, merenung sejenak dan kembali ke hadapan Rasulullah) Ya Rasulullah, demi Allah, engkau sekarang adalah orang yang paling aku cintai melebihi diriku sendiri.

Rasulullah       : Benar, wahai Umar.

Abdullah bin Umar bertanya kepada ayahnya, “Bagaimana Rasulullah menjadi orang yang paling dicintai daripada dirinya sendiri?” Umar menjawab, “Aku memikirkan tentang diriku. Kepada siapakah sebenarnya aku lebih banyak membutuhkan, kepada Rasulullah ataukah kepada diriku sendiri? Kemudian aku teringat tatkala berada dalam kesesatan dan sekiranya Allah tidak menjadikan Rasulullah sebagai penyebab datangnya hidayah kepadaku”.

Lanjutnya, “Aku juga teringat bahwa pada hari kiamat kelak aku tidak akan mampu menggapai surga Firdaus al-a’la, kecuali dengan kecintaanku kepada Rasulullah. Baru aku mengerti bahwa aku lebih banyak membutuhkan beliau daripada diriku maka aku lebih mencintai Rasulullah daripada diriku.”

_Hunafa’ Ballagho_

Referensi: Amru Khalid. 2015. Sejarah Hidup Khalifah Rasulullah. Solo: Istanbul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here