Ramlah binti Abu Sufyan

0
40 views

Kiblatmuslimah.com – Ia termasuk salah seorang istri dan “saudara” Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam. Di antara istri-istri beliau, tidak ada yang lebih dekat nasabnya dan lebih besar maharnya. Pernikahan Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallaam dengan Ummu Habibah dilangsungkan di Habasyah. Maharnya sebesar 400 dinar yang diberikan Raja Najasyi untuknya, mewakili Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallaam dan memberinya banyak sekali barang berharga.

Ummu Habibah adalah kunyah dari Ramlah binti Abu Sufyan, putri seorang petinggi kaum Quraisy, Abu Sufyan. Sebelumnya Ummu Habibah adalah seorang yang musyrik, hingga suatu ketika Allah menakdirkannya untuk menjadi mukminah. Ubaidullah merupakan suami pertama Ramlah yang juga ikut menerima ajaran Nabi pada waktu itu.

Demi menyelamatkan keimanan mereka, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke negeri Habasyah. Mengetahui kabar para sahabat hidup aman di negeri Habasyah, kaum kafir Quraisy mengutus dua orang untuk menemui raja Najasyi dan melakukan perundingan. Kehendak kaum Quraisy agar dapat mengembalikan kaum muslimin kepada mereka, menyiksa karena agama yang dianut dan mengusir dari negeri Habasyah yang memberikan ketenangan dan rasa aman.

Namun usaha kaum Quraisy sia-sia, negosiasi yang mereka lakukan gagal ketika seorang pemuda muslim lagi ‘alim Ja’far bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu menjadi juru bicara kaum muslimin, menjelaskan risalah yang Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam sampaikan kepada ummatnya.

Sang raja bertanya, “Bisakah engkau membacakan sedikit ajaran Allah yang dibawakan Rasul kalian?”  Ja’far membacakan permulaan surah Maryam. Demi Allah, Raja Najasyi meneteskan air mata hingga membasahi jenggotnya. Para uskup yang berada di dekatnya juga ikut menangis hingga tak sengaja air mata mereka membasahi lembaran-lembaran kitab yang dibawa. Raja Najasyi memproklamirkan keimanannya kepada Allah. Kaum muslimin hidup aman di tanah Allah, di bawah kepemimpinan rajanya yang muslim

Tapi kebahagiaan yang dirasakan Ummu Habibah tak berlangsung lama, suami yang dia cintai musyrik dan akhirnya memeluk agama Nasrani. Hal tersebut membuat dirinya kecewa dan bingung, sebab dia tidak bisa hidup sendiri di negeri Habasyah. Tidak mungkin dia kembali ke Makkah dan hidup bersama ayahnya yang musyrik.

Saat ia sedih, jalan keluar muncul secara tiba-tiba. Raja Najasi mengirim kepadanya seorang budak wanita yang hendak meyampaikan kabar gembira bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan menikahinya. Ummu Habibah tidak kuasa menahan rasa harunya karena begitu bahagia. Allah subhanahu wa ta’ala telah menggantikan yang dicintai dan telah meninggalkannya dengan sesuatu yang lebih baik.

Diriwayatkan dari Ummu Habibah, sebelumnya ia istri dari Ubaidillah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menikahinya di Habasyah, dinikahkan dengan mahar 400 dinar. Raja Najasyi memulangkannya bersama Syurahbil bin Hasanah dan segala kebutuhannya ditanggung oleh Raja Najasyi.

Ummu Habibah meninggal dunia pada tahun 44 Hijriyah pada masa khilafah saudaranya, Mu’awiyah. Imam Ad-Dzahabi berkata, “Ummu Habibah memiliki kesucian dan kemuliaan, khususnya pada masa daulah saudaranya. Mengingat Mu’awiyah adalah saudara Ummu Habibah, ia dipanggil khalil mukminin”.

Seperti itu kisah singkat Ummu Habibah yang patut kita jadikan teladan. Meninggalkan sesuatu karena Allah dan bersabar dalam sebuah penantian. Insya Allah, akan Allah ganti dengan yang lebih baik.

 

Penulis: Oliver Al-Qori’

Sumber: Mahmud Al-Mishri Abu Ammar. 2014. Shabiyat haula Ar-Rasul (Biografi 35 Shabiyah Nabi Sallahu ‘alaihi wa sallam). Jakarta Timur. Ummul Quro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here