Rahasia Ibu di Belakang Orang Besar

0
29 views

Kiblatmuslimah.com – Saat membolak-balik lembaran-lembaran sejarah Islam, mencermati orang besar yang segala bangsa dan kerajaan tunduk padanya, serta namanya terbang tinggi, pasti nasab dan akhlaknya berasal dari seorang ibu agung. Bagaimana seperti itu?

Ibu muslimah semiliki serangkaian sarana pendidikan yang tidak dimiliki wanita lain. Ini yang membuat wanita muslimah sebagai makhluk Allah yang paling tahu cara membentuk lelaki, memengaruhi, menembus ke dalam hati, memperkokoh sendi sendi akhlak-akhlak agung di dalam seluruh raga dan aliran darah mereka. 

Zubair bin Awwam, ksatria Rasulullah yang keberaniannya disamakan Al-Faruq seperti seribu lelaki kala mengutusnya sebagai bala bantuan bagi pasukan muslimin di Mesir. Al-Faruq mengirim surat kepada komandan pasukan, Amr bin Ash, “Amma ba’du, aku mengirim 4.000 pasukan. Setiap seribu prajurit setara dengan Zubair bin Awwam, Miqdad bin Amr, Ubadah bin Shamit, dan Maslamah bin Khalid.”

Firasat Al-Faruq tidak melesat. Sejarah mencatat bahwa Zubair bukan hanya setara dengan 1.000 lelaki, tapi seluruh umat. Ia pernah menyusup ke dalam benteng yang menghalangi perjalanan pasukan muslimin, naik ke atas tembok-tembok benteng dan melompat ke arah pasukan musuh dengan teriakan, “Allahu Akbar.” Dengan cepat, ia menuju pintu gerbang lalu membukanya. Hingga pasukan muslimin masuk ke dalam benteng dan menumpas musuh sebelum mereka sadar.

Ksatria besar ini tidak lain karena melaksanakan perintah sang ibu, Shafiyyah bin Abdul Muthalib, bibi Nabi. Shafiyyah juga saudari Hamzah, sang singa Allah. Ia tumbuh besar di bawah naungan dan watak sang ibu, juga meniru karakternya.

Suaminya, Awwam bin Khuwailid mati meninggalkannya bersama anak kecil bernama Zubair. Shafiyyah kemudian mendidiknya dengan kehidupan yang keras dan serba sulit.

Ia didik anaknya itu untuk cekatan menunggang kuda dan perang. Mainan yang ia berikan adalah anak panah dan membetulkan busur. Ia biasakan untuk menghadapi situasi-situasi mencekam dan segala bahaya.

Saat si anak terlihat diam dan ragu, Shafiyyah memukulnya dengan keras dan menyakitkan. Sampai-sampai ada salah seorang paman anak ini yang menegurnya tersebab mendidik anak sekeras itu. Ia berkata, “Memukul anak tidaklah seperti itu. Kau memukulnya dengan pukulan benci, bukan seperti seorang ibu.”

Mendengar kata-kata itu, Shafiyyah menjawab dalam untaian syair:

Siapa yang berkata aku membencinya, ia bohong

Aku memukulnya  agar ia menjadi cerdas

Mengalahkan pasukan musuh dan membawa pulang rampasan 

Dari kisah Shafiyyah mendidik seorang hebat seperti Zubair bin Awwam, kita dapat belajar bahwa seorang laki-laki harus ditanamkan sifat pemberani. Apalagi untuk urusan agamanya, ia harus menjadi pejuang yang tangguh dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

Semoga kita dapat menjadi pencetak generasi Rabbani yang akan meninggikan Din ini. Wallahu ’alam bish shawab

(Qonita)

Ref : Syaikh Mahmud Al-Mishri. 2015. Biografi 35 Shahabiyyah Nabi. Jakarta Timur: Ummul Qura. Hal: 514.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here