Pujian Kebohongan, Boleh?

0
70 views

Kiblatmuslimah.com – Jangankan istri, seorang anak yang mendapat pujian dari orang tua atau gurunya pasti akan senang bukan kepalang. Tidak dipungkiri prestasinya akan segera melonjak sebagai reaksi timbal balik atas pujian yang diterima.

Pujian adalah penghargaan terbesar bagi seorang istri. Keindahan tiada tara yang mampu mengalahkan keelokan semburat senja, bagi seorang pelukis dan puitis.

Pujian inilah yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai salah satu sikap baik seorang suami terhadap istrinya, meski harus dibumbui dengan kebohongan.

Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah radhiyallahu ta’ala ‘anha, 

مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

“Tidaklah aku mendengar Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa salam memberikan keringanan sedikit pun berkaitan dengan perkataan dusta kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengatakan,

لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا، الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، يَقُولُ: الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ: فِي الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ، وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا

“Tidaklah termasuk bohong: (1) Jika seseorang (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia. Mengatakan suatu perkataan yang tidak dimaksudkan kecuali untuk mengadakan perdamaian (perbaikan); (2) Seseorang yang berkata (bohong) ketika dalam peperangan; dan (3) Seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.” (HR. Abu Dawud no. 4921, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Demikian juga dalam masalah ini terdapat hadis khusus yang diriwayatkan dari ‘Atha bin Yasar, beliau berkata,

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله : هل علي جناح أن أكذب على أهلي ؟ قال : لا ، فلا يحب الله الكذب قال : يا رسول الله استصلحها و أستطيب نفسها ! قال : لا جناح عليك “

“Ada seseorang yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku berdosa jika aku berdusta kepada istriku?’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, ‘Tidak boleh, karena Allah Ta’ala tidak menyukai dusta.’

Orang tersebut bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, (dusta yang aku ucapkan itu karena) aku ingin berdamai dengan istriku dan aku ingin senangkan hatinya.’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, ‘Tidak ada dosa atasmu.’”(HR. Al-Humaidi dalam Musnad-nya no. 329. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 498).

Dari hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi di atas, kita dapat mengetahui dusta yang diperbolehkan kepada istri atau sebaliknya. Dusta yang diperbolehkan adalah ketika seorang suami ingin menyenangkan istri yang sedang “ngambek” dan menghibur hatinya. Artinya, tidak semua dusta diperbolehkan.

Oleh karena itu, ketika Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku berdosa jika aku berdusta kepada istriku?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Tidak boleh, karena Allah Ta’ala tidak menyukai dusta.”

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam di atas menunjukkan bahwa dusta kepada istri atau kepada suami hukum asalnya tetap haram. Terdapat pengecualian sebagaimana dalam kasus yang disebutkan, yaitu dusta untuk mendamaikan hati istri dan menyenangkan (menghibur) hatinya.

Sebagai contoh seorang suami mengatakan kalau istrinya semakin cantik. Padahal tidak ada yang berubah, bahkan bukan termasuk yang berwajah cantik. Memuji masakan istri sangat lezat, padahal rasanya tidak selezat masakan yang dijual di warung. Hal ini dikarenakan agar istrinya merasa senang, tidak tersinggung atau ngambek yang nantinya tentu dapat merusak suasana.

Hal ini sebagaimana penjelasan An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala ketika menjelaskan hadits ini,

وأما كذبه لزوجته وكذبها له فالمراد به في إظهار الود والوعد بما لا يلزم ونحو ذلك فأما المخادعة في منع ما عليه أو عليها أو أخذ ماليس له أو لها فهو حرام بإجماع المسلمين والله اعلم

“Adapun dusta dan bohong kepada sang istri, yang dimaksud adalah (dusta) untuk menampakkan besarnya rasa cinta atau janji yang tidak mengikat atau semacam itu. Adapun berbohong (menipu) dalam rangka menahan (tidak menunaikan) yang menjadi kewajiban suami atau istri, atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak suami atau istri, maka ini haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 135).

Istri yang senang dan bahagia, akan menyuburkan suasana yang indah dalam keluarga. Tentu istri akan dengan senang hati melakukan semua tugas-tugasnya, terasa ringan, dan akan menjadi prioritas. Anak-anak juga akan mendapat imbas dari kebahagiaan ibunya, karena ibu akan mudah tersenyum, tidak suka marah-marah.

Akan berbeda jika penghargaan justru didapat dari tempat lain, dari medsos misalnya. Tentu istri akan lebih getol memencet huruf di smartphonenya daripada memijit punggung suami, atau menyisir rambut putra-putrinya.

Buatlah istri tersenyum, maka dunia akan ikut tersenyum.

Penulis: Yasmin – 18072019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here