Pilihan atau Takdir

0
1184 views

Kiblatmuslimah.com – Mari kita samakan dulu persepsi kita tentang pengertian pilihan dan takdir. Pilihan adalah bentuk perbuatan yang bisa kita atur atau kendalikan sehingga kita akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu. Sedangkan, takdir adalah bentuk kejadian yang terjadi dan kita tidak bisa mengatur atau mengendalikannya. Sehingga kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut.

Contoh mudahnya, suatu hari saya ingin bepergian ke suatu tempat. Buka lemari lihat pakaian, terpilihlah pakaian polos berwarna ungu. Ini merupakan pilihan saya untuk memakai pakaian berwarna ungu. Terjadi gempa dan tsunami di suatu negara yang dijuluki matahari terbit, tidak sedikit yang meninggal dunia. Hal ini bukanlah pilihan, melainkan takdir.

Hidup ini adalah pilihan. Hanya satu pilihan yang bisa kita lakukan. Apabila kita memilih yang satu maka kita meninggalkan yang lain. Jika kita bicara tentang takdir, maka tidak boleh disandarkan pada 3 hal, yaitu:

  1. Ilmu Allah
  2. Kehendak Allah
  3. Lauhul mahfudz

Kebanyakan orang termasuk kita, mengaitkan semua hal yang terjadi pada diri kita berada dalam kondisi yang memang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Padahal, 3 hal diatas tidak boleh dicampuradukkan dengan pembahasan takdir. Dikarenakan tidak seorang pun mengetahui ilmu Allah, kehendak Allah atas dirinya, dan juga tidak mengetahui yang tertulis di dalam lauhul mahfudz.

Firman Allah Ta’ala:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas sesuatu yang telah diperbuatnya”. (QS. Al-Muddatstsir (74): 38)

Karena itulah, seorang muslim yang memahami konsep takdir yang benar akan senantiasa menyibukkan dirinya pada hal yang dapat dikendalikannya. Bukan malah sibuk pada sesuatu yang dia tiada kuasa terhadapnya. Dia akan selalu sadar bahwa setiap manusia pasti akan merasakan mati. Mati adalah sunnatullah yang tidak dapat dipilih. Tidak dapat dimajukan maupun dimundurkan kedatangannya.

Maka dari itu, mari kita memaksimalkan diri kita menjalankan kehidupan sebelum kematian. Menghargai dan menjadikannya sebagai suatu persiapan menjelang kematian.

(Hunafa’ Ballagho)

Sumber:

Felix Y. Siauw. 2013. Beyond The Inspiration. Jakarta Utara: Alfatih Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here