Pertempuran Zallaqah, Penentu Eksistensi Islam di Andalusia.

0
276 views

Kiblatmuslimah.com – Sebuah pertempuran besar pernah terjadi 943 tahun yang lalu di Utara Badajoz, Spanyol. Sejarah Islam mencatatnya sebagai pertempuran Zallaqah. Dalam bahasa Indonesia, Zallaqah berarti jalan yang licin. Nama tersebut disematkan akibat licinnya medan pertempuran karena banyaknya darah yang tumpah di atasnya. Kemenangan pada pertempuran ini yang menjadi sebab bertahannya Islam di Andalusia lebih dari 250 tahun lamanya.

Tiga puluh ribu (30 ribu) pasukan yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyifin telah tiba di daerah Sevilla. Pasukan Kristen dengan jumlah lebih dari tiga ratus ribu (300 ribu) telah menunggu. Pasukan Kristen yang dipimpin oleh Alfonso VI membawa papan salib dan gambar Yesus sebagai tanda perang salib melawan Islam yang bersejarah. Alfonso VI yakin bahwa kali ini kemenangan akan berada di pihaknya.

Sebelum perang benar-benar terjadi, Yusuf bin Tasyifin sempat mengirimkan surat kepada Alfonso VI untuk mengajak kepada Islam dan tunduk terhadap syari’at. Tapi dengan congkak Alfonso VI menolak ajakan Yusuf bin Tasyifin dan justru menantangnya untuk berperang. Spontan, panglima Islam tersebut menjawab surat Alfonso VI:

“Maka kau akan mendapatkan jawaban dengan yang akan kau lihat dengan mata kepalamu nanti, bukan dengan yang kau dengar dari telingamu. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.”

Alfonso VI terperangah membaca jawaban dari Yusuf bin Tasyifin. Ia pun sadar bahwa kali ini di hadapannya ada sekelompok pasukan kuat yang perlu dihadapi dengan perhitungan matang. Pada hari Rabu, Alfonso VI mulai menyusun makar untuk menipu kaum muslimin.

Alfonso VI mengirim surat kepada Yusuf bin Tasyifin yang berisi penentuan hari H pertempuran, pada hari Senin. Hampir saja panglima Islam Yusuf bin Tasyifin tertipu dengan trik yang digunakan Alfonso VI. Beruntung Al-Mu’tamid bin Abbad segera memahami penipuan tersebut, sehingga segera mengingatkan Yusuf bin Tasyifin.

Sehari setelah surat Alfonso VI sampai di tangan kaum muslimin, pada malam Jum’at seorang ulama madzhab Maliki yang telah renta bernama Ahmad bin Rumailah al-Qurthubi ikut tidur bersama pasukan Islam.  Pada pertengahan malam ia bermimpi melihat Rasulullah Saw dan bersabda kepadanya, “Wahai Ibnu Rumailah, sesungguhnya kalian akan mendapatkan pertolongan dan kamu akan segera bertemu kami.”

Ibnu Rumailah bangun dari tidurnya, seketika keluar dari tendanya dan membangunkan komandan pasukan kaum muslimin untuk memberi tahu kabar gembira ini. Mendengar berita dari Ibnu Rumailah, Yusuf bin Tasyifin mengatur pasukan usai shalat Subuh. Yusuf bin Tasyifin perintahkan kepada tentaranya untuk membaca surat Al-Anfal. Pada hari sebelumnya, ia juga telah menginstruksikan para khatib dan mubaligh untuk menggelorakan semangat jihad kepada masyarakat.

Dugaan Al-Mu’tamid bin Abbad benar. Tak lama setelah Yusuf bin Tasyifin mengatur pasukannya, Alfonso VI datang menyerang dan sengaja melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri. Pasukan Islam terkejut oleh serangan salibis, namun janji Allah itu pasti.

Berbekal strategi perang yang pernah dipakai Khalid bin Walid dalam penaklukan Persia pada perang Waljah,Yusuf bin Tasyifin bersama tentaranya mampu mengalahkan salibis. Sekitar dua ribu pasukan salib berhasil meloloskan diri dalam peperangan ini, termasuk di dalamnya Alfonso VI, berlari setelah seorang budak berhasil menusuk pahanya menggunakan tombak.

Oleh: Istiqomah elhaura

Sumber: Prof. Dr. Raghib as-Sirjani. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Spanyol. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here