Pertautan Budi Pekerti, Mawas Diri dan Iman (Bagian 1)

0
55 views

Kiblatmuslimah.com – Keimanan harus semakin meningkat seiring dengan meningkatnya rasa mawas diri terhadap Allah. Satu lagi yang harus disadari bahwa pengawasan Allah itu sangat ketat. Ia harus merasa bahwa Allah dan orang lain selalu mengawasinya.

Dari sudut mana saja, budi pekerti itu sejalan dengan tuntunan iman, pemahaman dan perasaan diawasi Allah?

Semakin kuat keimanan seorang hamba kepada Allah dan perasaan mawas dirinya, budi pekertinya semakin halus. Sebaliknya, semakin lemah keimanan seorang hamba, berkurang rasa takut dan mawas dirinya, akan semakin kurang ajar budi pekertinya. Na’udzubillah.

Budi pekerti yang baik, umumnya, merupakan petunjuk tentang tingkat keimanan dan mawas diri seseorang. Sebaliknya, budi pekerti yang buruk adalah petunjuk tentang tingkat mawas diri dan keyakinannya yang lemah.

Pertanyaannya, apakah seorang pendusta merasa diawasi oleh Allah dan percaya bahwa Dia melihat yang dilakukan dengan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi? Apakah penipu yang keji yakin bahwa Allah mengetahui yang tersembunyi di dalam hati, semua yang diniatkan dan kelak akan menuntut perjanjiannya? Apa pendapat kita tentang seorang pencuri yang menjulurkan tangannya mengambil harta orang lain? Apakah ia beriman kepada Allah saat mengambil itu? Apakah ia takut kepada Allah? Apakah pemfitnah memahami sabda Rasulullah bahwa “Tidak akan masuk surga orang yang suka memfitnah” (HR. Muslim)?

Apakah orang yang sudah berani melakukan sumpah palsu menyakini sabda Nabi di bawah ini?

مَن حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ يَقتَطْعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللهُ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَان

“Barang siapa bersumpah untuk mengambil harta seorang muslim, kelak ia akan bertemu dengan Allah dan Dia marah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Percayakah dengan sabda Nabi yang berikut ini? “Barang siapa menjarah hak orang muslim dengan sumpahnya, Allah telah menentukan baginya neraka dan mengharamkan surga atasnya.” (HR. Muslim)

Bagaimana dengan ini? “Dosa besar itu adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh manusia dan bersumpah untuk melakukan keburukan.” (HR. Al-Bukhari)

Apakah orang yang berlagak suci dan sering mengagungkan dirinya di dalam forum-forum, ingat akan firman Allah? “Maka jangan mengatakan diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Apakah orang yang kikir itu menyakini firman Allah? “Dan apa saja yang kalian dermakan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang terbaik.” (QS. Saba: 39)

Apakah orang yang selalu ingin dipuji, percaya kepada ayat Allah? “Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)

Apakah orang yang banyak bicara untuk hal yang tak berguna, menyadari sabda Nabi?

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَاليَوْمِ الْاخِرِ فَليَقُلْ خَيرًا اَو لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus mengatakan yang baik atau (lebih baik) diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apakah orang yang suka menyakiti hati orang lain, menghardik dan melakukan perbuatan yang keji dan hina, adalah seorang yang benar-benar beriman?

Jawaban dari semua pertanyaan ini adalah: tidak, tidak, dan tidak! Iman kepada Allah akan menghalangi semua keburukan. Sikap mawas diri akan menghindarkan dari segala hal yang keji dan perangai yang buruk.

Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan tentang seorang yang bertindak kelewat batas dan menyebalkan, “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhan kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran atau  menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (QS. Al-‘Alaq: 6-14)

Ya. Kalau saja ia sadar bahwa Allah melihatnya, pasti tidak akan berbuat seperti itu dan tidak akan melarang hamba Allah melakukan shalat.

Ya. Kalau saja ia sadar bahwa Allah melihatnya, tidak mengumbar fitnah dan membuat kerusakan di muka bumi. Kalau saja seseorang itu menyimak firman Allah dan tahu posisinya, tentu tidak akan menggunjing sesama. Hanya akan mengucapkan yang benar saja. Tapi ternyata, keyakinannya lemah sekali dan suka mengabaikan.

Semoga kita senantiasa termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha menjaga keimanan kita pada segala kondisi. Allahummaghfirlanaa….

Ref: Syaikh Musthafa al-‘Adawy. 2009. Fikih Akhlak. Jakarta: Qisthi Press. Hal: 326.

Penulis: Qonita Azka

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here