Perlukah Khitan Wanita?

0
213 views

Kiblatmuslimah.com – Bagi sebagian masyarakat, khitan bagi anak laki-laki adalah sebuah perkara yang wajar. Namun tidak demikian dengan wanita, mereka masih menganggapnya tabu atau menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan.

Bahkan oleh sebagian kalangan, khitan wanita adalah tindakan kriminal yang harus dilarang.
Khitan secara bahasa diambil dari kata “khotana” yang berarti memotong. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutup ujung dzakar, sehingga menjadi terbuka. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga i’zar.
Sedangkan khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit (selaput) yang menutupi ujung klitoris (preputium clitoris) atau membuang sedikit bagian klitoris/ kelentit. Organ seksual wanita yang banyak dialiri pembuluh darah dan urat saraf. Berada di ujung sebelah atas antara kedua labia minora atau bibir vagina dalam. Gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi perempuan disebut khafd.

Dalil-dalil khitan wanita
Para ulama sepakat bahwa khitan wanita secara umum ada di dalam syari’at. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang status hukumnya. Hal ini disebabkan dalil-dalil yang menerangkan tentang khitan wanita sangat sedikit dan tidak tegas. Sehingga memberikan ruang bagi para ulama untuk berbeda pendapat.

Berikut beberapa dalil seputar khitan wanita:
1. Hadits Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Lima hal yang termasuk fitrah yaitu: khitan, mencukur rambut bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi yang mewajibkan khitan wanita mengatakan bahwa arti “fitrah” dalam hadisthadits di atas yang dipilih oleh para nabi dan disepakati semua syari’at atau agama. Sehingga menunjukkan kewajiban.

Sebaliknya yang berpendapat sunah mengatakan bahwa khitan dalam hadisthadits tersebut disebut bersamaan dengan amalan-amalan yang status hukumnya adalah sunah. Sehingga hukumnya pun menjadi sunah.
2. Sabda Rasulullah SAW:
“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi”. (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Kelompok yang berpendapat wajib mengatakan bahwa hadisthadits di atas menyebut dua khitan yang bertemu. Maksudnya adalah kemaluan laki-laki yang dikhitan dan kemaluan perempuan yang dikhitan. Hal ini secara otomatis menunjukkan bahwa khitan wanita hukumnya wajib.
Sedangkan bagi yang berpendapat sunah mengatakan bahwa hadisthadits tersebut tidak tegas menyatakan kewajiban khitan bagi perempuan.
3. Hadits Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepada Ummu ‘Athiyah:
“Apabila engkau mengkhitan wanita, potonglah sedikit dan janganlah berlebihan. Karena itu lebih bisa membuat wajah ceria dan lebih disenangi oleh suami”. (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Bagi yang mewajibkan khitan wanita, menganggap bahwa hadist-hadits di atas derajatnya ‘hasan’. Sedang yang menyatakan sunah atau kehormatan wanita, menyatakan hadisthadits tersebut lemah.
4. Sabda Rasulullah SAW :
“Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi wanita”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Ini adalah dalil yang digunakan oleh pihak yang mengatakan bahwa khitan wanita bukanlah wajib dan sunnah, akan tetapi kehormatan. Hadits ini dinyatakan lemah karena di dalamnya ada rawi yang bernama Hajaj bin Arthah.

Lalu, Apa Hukum Khitan Wanita ?
Dari beberapa hadisthadits di atas, sangat wajar jika para ulama berbeda pendapat tentang hukum khitan. Tapi yang jelas semuanya mengatakan bahwa khitan wanita ada dasarnya di dalam Islam. Walaupun harus diakui bahwa sebagian dalilnya masih samar-samar. Perbedaan para ulama di atas dalam memandang khitan wanita harus disikapi dengan lapang dada.

Barangkali di dalam perbedaan pendapat tersebut ada hikmahnya, di antaranya:
1. Keadaan klitoris tiap wanita adalah berbeda. Bagi wanita yang memiliki klitoris yang besar, mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuatnya tidak pernah tenang karena sering terkena rangsangan serta dikhawatirkan terjerumus pada zina, maka bagi wanita tersebut khitan adalah WAJIB.
2. Sedang bagi wanita yang klitoris berukuran sedang dan tertutup dengan selaput kulit, maka khitan baginya SUNAH. Karena akan menjadikannya lebih baik dan dicintai suaminya, sekaligus akan membersihkan kotoran di balik klitoris.
3. Adapun yang memiliki klitoris kecil dan tidak tertutup kulit, maka khitan baginya adalah KEHORMATAN.

Sumber :
DR. Ahmad Zain An Najah, MA. 2011. Halal dan Haram dalam Pengobatan. Puskafi: Jakarta Timur.
{Wahyu rahma}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here