Perjuangan Gadis Irak di Medan Jihad (Bagian 2)

0
99 views

Kiblatmuslimah.com – Setelah gadis itu menikah, dia harus mengikuti pergerakan suaminya. Menjadi istri pendamping mujahid. Berpindah-pindah tempat karena dikejar thaghut.

Jika mujahidah ini diminta untuk pindah ke rumah yang lainnya, dia tidak ragu dan merasa berat dengan kehidupan dikejar-kejar thaghut. Ketika mendengar kabar bahwa intelejen telah mengetahui tempat tinggalnya, dia keluar dengan meninggalkan segalanya dengan tetap mempertahankan hijab syar’inya.

Pada saat seperti itu, dia bersama mujahidah yang tinggal di tempat lain untuk sementara waktu. Tempat tinggal mereka tidak layak atau bahkan berada di jalanan. Para ikhwah belum mendapatkan tempat yang aman sehingga dapat bermalam di dalamnya.

Sesungguhnya keadaan mujahidin selalu berganti antara kelapangan dan kesempitan. Apabila Allah menguji dengan kesempitan maka mereka bersabar dan mengurangi pengeluarannya. Jika Allah memuliakan dengan bantuan kaum muslimin, mereka hanya mengambil yang dapat menutupi kebutuhan saja dengan penuh amanah dan wara’.

Kadang mereka mendapatkan uang banyak, namun tidak menambah kebutuhan bagi keluarga. Pengeluarannya tetap sama seperti biasanya. Hanya cukup untuk menutupi kebutuhan penting mereka. Bagian amir sama dengan anggotanya dalam jamaah.

Pada suatu hari Allah memuliakan suami istri ini dengan karunia sebuah rumah yang baik. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan sebagaimana orang pada umumnya. Mereka pun tak lupa bersyukur atas nikmat ini. Akan tetapi sudah menjadi sunnatullah, jika Allah mencintai hamba-Nya maka Dia akan mengujinya.

Para ikhwah mendapatkan seseorang yang terluka dan belum menemukan tempat yang dapat digunakan untuk berlindung. Kecuali sebuah rumah yang sudah rusak, gelap dan kotor. Suami mujahidah ini bingung mencari tempat yang cocok untuk menempatkan ikhwah yang terluka itu. Sang istri memperhatikan kegundahan di wajah suaminya. Lalu dia meminta agar ikhwah yang terluka ini tinggal di rumah mereka.

Akhirnya suaminya setuju dengan permintaannya. Meskipun mereka baru beberapa hari menempati rumah tersebut. Selanjutnya pasangan suami istri ini berpindah ke rumah yang rusak itu selama dua hari. Seakan mereka telah sukses dalam ujian, sehingga mendapatkan kemudahan dari Allah. Para ikhwah menyewakan rumah sederhana bagi keduanya, kondisinya lebih baik dari rumah rusak tersebut.

Mujahihah ini tahu bahwa ketika dia keluar dari rumah rusak itu, sekelompok ikhwah yang masih bujang akan menempatinya. Dia teringat firman Allah, “Mereka lebih mengutamakan mereka terhadap diri mereka sendiri walaupun mereka sangat membutuhkan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Lalu mujahidah ini menolak untuk keluar dari rumah itu. Lebih mengutamakan para ikhwah daripada dirinya sendiri. Dia telah merasakan manisnya iman untuk melupakan pahitnya rasa takut. Ternyata rumah tersebut berdampingan dengan markas tentara thaghut negeri itu. Pos jaga tentara menghadap pintu rumah itu.

Rumah itu hanya memiliki satu kamar. Salah satu tembok rumahnya terbuat dari seng yang tertutup sebagai tempat berjualan. Akan tetapi para tentara itu kadang bermain bola di sekitar rumahnya. Sehingga bola itu itu mengenai lapisan seng dan menimbulkan suara yang berisik.

Tidak ada yang membuat tenang bagi ukhti ini dari suara yang memekakkan telinga selain manisnya jihad dan pengorbanan di jalan Allah. Meski kondisi rumah kotor, perkakas lusuh, serta tanahnya sampai menjadi sarang tikus dan sangat lembab, dia selalu bersabar. Pada awalnya, mereka tidak tahan dengan bau kotor tersebut sampai harus menutup hidung.

Meski demikian, mujahidah ini tak pernah lepas menghiasi bibirnya dengan senyuman. Itulah faktor yang membuat suaminya bahagia. Suaminya pergi jam 9 pagi dan tidak pulang hingga jam 12 malam, sehingga tinggal di rumah sendirian. Hari-hari dia penuhi dengan berdoa dan beribadah kepada Allah. Baginya Allah adalah sebaik-baik penghibur dan pelindung dalam keadaan yang mengerikan ini.

Semoga kisah hidup saudari kita ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para muslimah untuk senantiasa menjadi istri yang taat kepada suami. Berbuat baik dengan mengikutinya, tidak marah dan menggerutu serta ridha dengan semua ketetapan Allah Ta’ala.

Ketauhilah saudariku, bahwa di dunia ini akan senantiasa ada mujahidah yang mengikuti jejak para shahabiyah. Tinggal kita, akan mengikuti jejak mereka juga atau sebaliknya?

*Peni Nh

Sumber: Ibnu Qalami Al-Muhajiri. 2012. Mujahidah The Golden Ways: Jalan Peran & Pengabdian Muslimah dalam Kancah Fii Sabilillah. Klaten: Al-Fajr Media. Hal. 141-144.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here