Perjanjian Maut di Pertengahan Musim Haji

0
148 views

Kiblatmuslimah.com – Islam belum  terlalu kuat pada tahun 622 M. Meskipun ketika itu Mush’ab bin Umair telah berhasil mendakwahkan Islam di Yatsrib (Madinah). Sehingga tak satu perkampungan pun dari perkampungan-perkampungan Anshar melainkan di dalamnya ada sejumlah laki-laki dan wanita yang telah masuk Islam.

            Meski demikian, beberapa kaum muslimin di Makkah masih harus menemui Rasul dengan sembunyi-sembunyi, terlebih para sahabat yang berasal dari kalangan grassroot (non bangsawan). Hal ini karena intimidasi dari para pemuka Quraisy masih terus berlanjut bagi mereka yang keluar dari aqidah nenek moyang demi memeluk aqidah Islamiyah.

Pada tahun sebelumnya, 12 orang datang secara sembunyi-sembunyi menemui Rasul untuk  berbaiat. Baiat kedua kembali digelar tepat setahun setelah baiat pertama dilaksanakan. Pada pertengahan musim haji tahun 622 M, 75 orang yang terdiri dari kaum Aus dan Khazraj (dua di antara mereka adalah perempuan: Nusaibah binti Ka’ab dan Asma’ binti Amr) bersepakat dengan Rasulullah untuk mengadakan sebuah pertemuan rahasia di bukit Aqabah.

Pertemuan ini bukan tanpa risiko. Jika saja orang-orang Quraisy mengetahui hal ini, maka tidak ada yang bisa menjamin keselamatan 75 orang tersebut. Suasana malam itu sangat mencekam, terlebih para sahabat sedang dalam keadaan haji yang mengharuskan mereka untuk tinggal satu rombongan dengan bangsa Quraisy. Kaum muslimin beranjak pergi meninggalkan rombongan setelah lewat sepertiga malam, mereka pergi dengan penuh rasa takut.

Hingga akhirnya rombongan kaum muslimin berhasil sampai di bukit Aqabah tanpa ada seorang pun yang tahu. Di sana Rasulullah Saw telah menunggu bersama pamannya, Al-Abbas. Setelah Rasulullah membaiat, mereka berjanji akan selalu melindungi Rasulullah layaknya anak dan istri mereka.

Terdengar teriakan yang begitu kencang dari puncak Aqabah, “Wahai orang-orang yang berada dalam tenda, apakah kalian menghendaki Muhammad dan orang-orang yang keluar dari agamanya berkumpul? Mereka telah berkumpul untuk memerangi kalian.”

Ibnu Hisyam menjelaskan dalam kitabnya As-Siroh An-Nabawiyah bahwa itu adalah suara azab (jin yang berada di bukit Aqabah). Suara tersebut terdengar ke seluruh tenda. Bahkan dalam sebuah riwayat terdengar hingga kota Makkah.

Rasulullah segera memerintahkan para sahabatnya untuk kembali ke tenda, khawatir jika bangsa Quraisy mengetahui yang telah mereka kerjakan. Keesokan harinya, orang-orang Quraisy yang berada di Makkah segera mengirim beberapa pasukan berkuda untuk mengejar kaum muslimin di Mina. Namun mereka hanya berhasil menangkap Sa’ad bin Abi Waqqash, kemudian menyiksanya.

Sedangkan rombongan Quraisy yang berada di tengah-tengah kaum muslimin di Mina, mengintrogasi semua orang Aus dan Khazraj yang ikut dan tahu kejadian semalam. Tak satu pun dari mereka angkat bicara, para sahabat yang mengikuti baiat semalam hanya saling pandang.

Abdullah bin Ubay bin Salul menyanggah tuduhan orang-orang Quraisy bahwa kaum Aus dan Khazraj menemui Nabi semalam. Hal ini ia kemukakan karena menurutnya kaum Aus dan Khazraj tidak akan berani bertindak tanpa izinnya. Sedang semalam Abdullah bin Ubay bin Salul tidak ikut serta dalam pembaiatan.

Begitu Allah menjaga kaum muslimin. Meski demikian, rahasia ini tetap terjaga dengan upaya kaum muslimin untuk tidak mengatakan kejadian tersebut kepada siapapun. Para sahabat telah berjanji untuk merahasiakan pertemuan semalam serta menjaga Rasul sebagaimana keluarga sendiri. Muslim yang baik adalah mereka yang berjanji lalu ditepati, bukan sekedar janji tanpa bukti, karena janji merupakan hutang yang harus dilunasi.

Oleh: Istiqomah Elhaura

Sumber:

  • Sirah Nabawiyah, Shafiyurrahman Al-Mubarokfuri
  • As-Shiroh an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam
  • Kelengkapan Tarikh Muhammad Saw, Munawar Chalil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here