Perang Tepung

0
108 views

Kiblatmuslimah.com – Siapa yang tak tahu akhir dari kisah perang Badar? Ketika umat Islam berkumpul untuk menghadang kafilah dagang musyrik Quraisy di lembah yang namanya mengabadi, Badar.

Pasca kekalahan telak, salah seorang pembesarnya begitu geram bukan kepalang, sebut saja ia Abu Sufyan. Bagaimana mungkin tak marah? Anak dan saudara-saudaranya mati konyol di sana. Abu Sufyan yang kelak masuk Islam saat fathu makkah ini memang tak ikut dalam perang Badar.

Ia kumpulkan 200 orang untuk menyerang Madinah. Sebelumnya ia pun mencari koalisi kekuatan. Ia bernego dengan Huyay bin Akhtab, pemimpin Yahudi Bani Nadhir Madinah. Apalah daya, gayung tak bersambut. Ternyata Sallam bin Misykam menjadi opsi kedua yang dipilihnya. Keduanya pun berkongsi membakar semangat sesama tuk perangi dan teror umat Islam.

Di antara bentuk teror yang parah adalah membunuh satu orang Anshar setelah membakar pohon-pohon kurma milik muslim Madinah. Dendamnya pun terbalas, bahkan Abu Sufyan bersumpah tak kan mencuci rambutnya sampai berperang dengan Muhammad.

5 Dzulhijjah di tahun yang sama (2 H), Rasulullah mengutus Basyir bin Abdul Mundzir untuk menjadi pengganti sementara pemerintahan di Madinah. Beliau begegas bersama 200 pasukan melakukan pengejaran terhadap oknum pembakar lahan dan pembunuhan tersebut. Tapi usaha tak buahkan hasil.

Pasukan koalisi Kafir Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dan Yahudi Bani Nadhir di Madinah itu berlari tunggang langgang. Bagaikan pedagang asongan yang lari terbirit-birit dikejar Kamtib dan rela membuang barang dagangan asal nyawa terselamatkan, begitu pula yang mereka lakukan. Berkarung-karung tepung mereka tinggal supaya mampu lari lebih cepat yang kemudian menjadi rezeki pasukan Islam. Maka dari kejadian ini, disebut dengan Perang Sawiq yang bermakna Perang Tepung.

Oleh: Alifia M.

Editor: UmmA

Sumber: Muhammad Al-Khudhari Bek. 2018. Nurul Yaqin. Solo: Ummul Qura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here