Perang Manzikert dan Akhir Masa Alib Arsalan (Bagian 2)

0
96 views

Kiblatmuslimah.com – Ada 5 periode yang menguasai Dinasti Abbasiyah (749-1258 M). Di periode ketiga, cengkraman bangsa Buwaihi Syi’ah begitu menguasai politik. Meskipun secara lembaga, keturunan Abbas yang beraqidah Sunni menjabat sebagai Khalifah. Di samping itu, serangan Mongol mulai merangsek masuk dari pinggiran. Membuat banyak suku yang mendominasi suatu wilayah mulai membebaskan diri dan mendirikan kerajaan kecil. Seperti Fatimiyah di Mesir.

Kota Asqalan sebagai pintu gerbang memasuki wilayah Mesir belum mampu dikuasai bangsa Seljuk Turki yang beraqidah Sunni. Namun perluasan syiar Islam menuju Imperium Byzantium (Konstantinopel) yang dipegang Raja Romawi Armanus, tetap harus berlanjut.

Perang  akbar yang terjadi di Zahwah (dekat wilayah Manzikert) direncanakan terlaksana hari Rabu, 24/25 Dzulqa’dah 463 H (Agustus 1070 M). Dari sini, seorang ulama berperan ikut andil menyusun kemenangan. Beliau, Syaikh Abu Nash Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari memberikan nasihat kepada Sultan Alib Arsalan. Alib Arsalan adalah gubernur yang berhasil merebut Ramallah dan Baitul Maqdis melalui tangan panglima perangnya Atnazas bin Auq Al-Khawarizmi, dari tangan Dinasti Fathimiyah Syi’ah yang berpusat di Mesir.

“Sesungguhnya engkau akan berperang membela agama yang Allah telah berjanji untuk menolong dan memenangkannya di atas semua agama. Aku berharap semoga Allah telah menetapkan namamu. Karenanya, hadapilah mereka pada hari Jum’at tepat pada saat khatib berdiri di atas mimbar! Sebab mereka akan mendoakan para mujahidin,” begitu pesan Syaikh pada Sultan Alib, Rabu itu.

Tak lebih dari 20.000 pasukan muslim melawan musuh yang berjumlah lebih dari 200.000. Bisa dibanyangkan 1 orang mau tidak mau harus siap menghadapi 10 musuh dengan senjata lengkap. Berkat rahmat Allah, kemenanganpun diraih.

Sang raja begitu terhina tatkala tahu bahwa yang menawannya ialah seorang budak. Seseorang yang bahkan belum merdeka. Sultan memukul tawanan ‘mulia’ ini dengan 3 kali cambukan.

Sembari merintih menahan rasa sakit, ia ditanya, ‘Jika aku yang jadi tawanan di hadapanmu, apa yang akan kau lakukan?’ Ia menjawab, ‘Aku akan melakukan semua yang buruk.’

Sultanpun menimpali, ‘Lantas menurutmu apa yang harus kulakukan padamu?’ Tawanan itu menjawab, ‘Mungkin engkau akan membunuhku lalu memamerkan mayatku di negerimu atau engkau mengampuniku, mengambil tebusan dan mengembalikanku ke negeriku.’

Sultan berkata, ‘Aku tak akan melakukan apapun terhadapmu, melainkan memaafkanmu dan meminta tebusan!’.

Maka dengan pernyataan ini, tertebus sang raja dengan 1.500.000 dinar. Setelah meminum beberapa teguk dari gelas yang ada di hadapannya, Raja Armanus pun undur diri berpamitan. Sebelumnya dia bersujud menghadap Sultan Alib dan sedikit berputar. Kemudian bersujud lagi mengarah pada Khalifah sebagai bentuk penghormatan.

Tak sekedar itu saja. Sultan pun mengantarkan raja yang tertunduk malu itu dengan sejumlah pasukan hingga sejauh 1 farsakh (±3 mil). Satu pasukan lagi siap mengawal raja hingga ke negeri asalnya. Ditambah lagi uang sebanyak 10.000 dinar sebagai bekal tambahan dari Sultan Alib. Maka adakah kiranya sikap yang lebih baik dalam mengurus tawanan selain daripada Islam?

Secara de facto, Konstantinopel tak berpindah kekuasaan begitu saja pasca perang Manzikert/Muladzkard. Namun peristiwa besar ini membawa perubahan besar dalam sejarah Islam. Sebab di titik ini cengkraman Romawi terhadap Konstantinopel mulai melemah. Sehingga potensi besar semakin terbuka lebar bagi para penerus Alib Arsalan untuk menaklukkan wilayah Imperium Byzantium ini.

2 tahun kemudian, tepatnya 10 Rabi’ul Awwal 465 H/1072 M, Sultan Alib Arsalan menghadapi kesyahidannya di tangan seorang pemberontak bernama Yusuf Al-Khawarizmi. Di samping makam ayahnya di kota Marwa, sultan yang masyhur akan keshalihannya ini dikebumikan.

Betapa dekatnya ayah dari Malik Syah ini dengan para ulama. Hal ini menjadikan berkah dan pertolongan Allah senantiasa turun tersebab syariat dan nasihat Rabbaniyah ia jalankan. Tampuk kepemimpinan sebagai gubernur pun dilanjutkan oleh sang anak. Meskipun sempat menuai penolakan dari sang paman Qaward bin Jufri, penguasa Kirman saat itu.

 

Oleh: Alifia M.

Sumber: Syaikh Ramzi Al-Munyawi. 2012. Muhammad Al-Fatih, Penakluk Konstantinopel. Jakarta: Pustaka Alkautsar. Hlm. 14-20.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here