Perang Gerilya di Tanah Rencong (Bagian 2)

0
56 views

Kiblatmuslimah.com – Istana kerajaan Aceh jatuh ke tangan penjajah kafir Belanda. Sultan Mahmud Syah pun meninggal di pengungsian karena wabah kolera. Dua hal itu dianggap sebagai kemenangan Belanda.

Namun, harapan dan prediksi Belanda meleset. Perlawanan rakyat Aceh semakin meningkat. Ulama yang kebanyakan pemimpin pesantren, ikut mengobarkan perlawanan bersama santri-santrinya. Sepeninggal Mahmud Syah, tampuk pemerintahan dijalankan oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda selaku mangkubumi. Karena Sultan Muhammad Dawud Syah masih kecil. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Keumala, Pidie.

Untuk mengusir penjajah kafir Belanda, 500 orang pemimpin terkemuka mengadakan musyawarah. Kemudian mereka mengikrarkan bai’at untuk berjihad melawan penjajah kafir Belanda. Bahkan mereka memutuskan kesepakatan bersama dalam bermusyawarah itu. Isi dari kesepakatan musyawarah itu antara lain:

  1. Rakyat wajib ikut serta berjihad memanggul senapan atau kelewang.
  2. Rakyat diwajibkan gotong royong memperbaiki masjid yang rusak akibat perang supaya kewajiban ibadah tetap terpelihara
  3. Rakyat wajib gotong royong mengatasi akibat perang
  4. Setiap yang membutuhkan bantuan, wajib diberi bantuan oleh penduduk, terutama prajurit Aceh yang memerlukan pemondokan dan persembunyian
  5. Apabila diperlukan untuk membuat benteng, rakyat wajib bergotong royong
  6. Ulama setempat berwenang memberikan bantuan dan menerima pengaduan-pengaduan rakyat di dalam mengatasi kesulitan yang dideritanya.

Rakyat Aceh melakukan perlawanan dengan taktik gerilya. Hal ini amat menyulitkan Belanda. Dalam peperangan itu, bukan hanya kedua belah pihak angkatan bersenjata yang berperang. Peperangan telah menjadi lebih luas dan lebih dalam, karena kemajuan teknik peperangan.

Dalam perang gerilya, si penyerang mengadakan perang kilat untuk memecah organisasi lawan. Serangan ini membuat pasukan Belanda mengalami kerepotan. Mereka menyerang kantong-kantong kekuatan Belanda kemudian lari ke gunung yang dibentengi hutan lebat. Karakter alam ini menghambat Belanda mengadakan pengajaran.

Salah satu pemimpin perang gerilya di Aceh adalah Teuku Cik Ditiro (1836-1891). Ia memimpin sejumlah serangan terhadap pos-pos Belanda pada tahun 1878. Di bawah kepemimpinannya, sejumlah benteng Belanda berhasil direbut pasukan Aceh pada tahun 1880-an. Ia juga berhasil menggagalkan serangan Belanda terhadap kubu pejuang Aceh. Tapi akhirnya ia syahid diracun oleh suruhan Belanda.

Bersambung….

Peresume: PramudyaZeen

Referensi: Anwar. Perang Gerilya di Tanah Rencong. Edisi 123. Rabiul Akhir-Jumadi Ula 1437H/Februari 2016. Solo: Majalah An Najah. Hal: 28-29.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here