Peran Wanita di Bidang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

0
190 views

Kiblatmuslimah.com Seperti halnya lelaki, wanita juga dituntut untuk memainkan peran di berbagai bidang. Terutama amar ma’ruf nahi munkar. Karena itu, wanita muslimah yang berilmu, taat beragama dan juru dakwah harus memasuki bidang-bidang yang dibolehkan serta menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.

 

  1. Ia harus memasuki bidang pendidikan melalui sekolah, belajar, mengajar, memberi arahan di perkantoran, dan lainnya.
  2. Melalui organisasi-organisasi sosial dengan turut serta berkecimpung, mengatur, memberi arahan, dan ceramah.
  3. Melalui kesempatan-kesempatan umum dengan memberi nasihat, arahan, dan dakwah menuju Allah melalui berbagai cara syar’i.
  4. Melalui karya tulis dengan menerbitkan buku-buku yang mengarahkan wanita muslimah untuk menangani masalah-masalahnya serta semakin membuatnya tahu terhadap agama.

 

Di semua bidang ini, kini musuh-musuh Islam melancarkan serangan terhadap Islam. Sehingga kaum wanita yang istiqamah dan simpati terhadap agama selayaknya memasukinya dan berusaha mengubah masyarakat. Mengingat bidang-bidang tersebut bersifat netral, bila dipegang oleh orang-orang rusak akan meruntuhkan dan merobohkan. Sebaliknya bila dipegang oleh orang-orang baik akan membuat perbaikan.

 

Mengeluh dan sedih bukan solusi untuk memecahkan masalah-masalah umat. Solusinya adalah dengan praktik langsung dan serius untuk memberi pengaruh dalam realitas.

 

Di antara kalangan wanita shalihah ada beberapa tokoh terkenal yang memiliki kegiatan Islami yang kuat, mujahidah da’iyah, memerintah kebaikan, mencegah kemunkaran, produktif menulis, sering menyampaikan ceramah, pelajaran, memberi arahan, dan menunaikan kewajibannya di bidang yang sesuai.

Namun, setelah kita mengetahui bersama peran wanita dalam beramar ma’ruf nahi munkar ternyata ada hal-hal yang perlu kita ketahui bersama. Apakah itu? Ya, tak lain dan tak bukan adalah halangan-halangan amar ma’ruf nahi munkar.

 

Sebagian besar, khususnya kaum muda menjauhkan diri dari amar ma’ruf nahi mungkar karena faktor-faktor tertentu yang menjadi penghalang untuk mencapai tujuan dan menghadang mereka untuk menunaikan kewajiban. Itu hanya faktor dugaan, kelemahan, atau ketidaktahuan. Berikut beberapa faktornya:

  • Malu

Muslim harus memecahkan penghalang ini dan mulai bertindak. Kelak, rasa malu dan takut akan hilang secara bertahap dengan cepat. Tentu bukan malu dalam berbuat dosa.

 

  • Merasa belum pantas karena banyak dosa

Sebagian pemuda berkata, “Saya banyak dosa, lalu bagaimana saya mengubah kemunkaran sementara saya sendiri pelakunya?” Kita katakan, “Ubahlah meski Anda banyak dosa! Allah berfirman tentang Bani Israil, ‘Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.’ (QS. al-Maidah: 79).

Ayat ini menunjukan pelaku kemunkaran sendiri dituntut untuk mengingkari. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Bahkan sebagiannya meriwayatkan adanya ijma’ atas hal ini. Hanya saja, sebagian besar orang tidak tahu.

 

  • Merasa dekat dengan pendosa

Anda harus tetap memerintahkan dan melarang orang lain. Terus lakukan, jangan pedulikan mereka yang mencela. Mereka hanya ingin menyakiti dan menghalangi kewajiban Anda agar bisa terus melakukan kemaksiatan. Padahal mereka tahu Anda telah berusaha untuk menunjukkan kebaikan. Tapi, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…” (QS. al-Qashash: 56)

 

  • Merasa tidak memiliki massa

Saat Anda mengingkari kemungkaran, meski hasilnya minim, jangan mengira bahwa itu tidak memberi pengaruh. Justru Anda telah merealisasikan beberapa hasil berikut,

Pertama, melawan kemungkaran dalam diri karena terancam bila menimpa. Kedua, mendapatkan pahala dari Allah karena menunaikan kewajiban dan menghidupkan syiar. Ketiga, meninggalkan kemungkaran. Keempat, menghilangkan kemungkaran. Kelima, minimal mencegah terjadinya kemungkaran lain. Sebab orang yang melihat Anda mencegah suatu kemungkaran yang terjadi, ia tidak bisa mengharuskan melakukan kemungkaran baru.

  • Takut disiksa

Sebagian orang takut disiksa. Padahal siksaan adalah suatu keniscayaan di jalan dakwah.

  • Khawatir terjadi fitnah

Ada beberapa orang yang menahan diri dari amar ma’ruf nahi mungkar dengan dalih khawatir terjadi fitnah. Justru fitnah itu adalah meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Allah telah mencela kaum munafik karena tidak turut serta pergi berperang bersama nabi dengan dalih takut fitnah.

Allah Ta’ala berfiman, “Dan di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, jahannam  meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 49)

 

Waktu kita terbatas di dunia ini. Pastikan kita ada dalam perjuangan membela agama Islam yang mulia ini. Bi idznillah. Allah bersama orang-orang yang sabar.

 

Ref: Ibrahim Abdul Muqtadir. 2008. Wisdom of Luqman El-Hakim. Solo: Aqwam. Hal: 177-182.

 

Penulis: Qonita Azka

Editor: Halimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here