Peran Perempuan dalam Iqamatuddin

0
553 views

Kiblatmuslimah.com – Sebelum mengetahui peran muslimah dalam iqamatuddin, harus paham beberapa dasar terlebih dahulu. Pertama, hukum asalnya perempuan berdiam diri di rumah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab: 33. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud dari ayat di atas adalah perintah bagi perempuan untuk berdiam diri di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu keperluan (hajat). Di antara bentuk hajat yang membolehkan perempuan keluar rumah adalah menuntut ilmu, hijrah, shalat, haji, umrah dan hajat-hajat lainnya.

Ada kondisi-kondisi perempuan diperbolehkan keluar rumah. Banyak kita saksikan dalam hadits-hadits Nabi SAW para wanita itu datang kepada Nabi dan bertanya persoalan agama. Ini menunjukkan bahwa ada wanita keluar rumah untuk suatu hal dalam rangka menuntut ilmu. Dalam kisah lain, ada Fatimah binti Muhammad yang keluar utuk bekerja membantu Ali. Ini menunjukkan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu perempuan boleh keluar rumah.

Nah, di sini harus dipahami bahwa ada hukum asal dan pengecualian. Hukum asalnya perempuan di dalam rumah, namun hukum asal ini juga ada pengecualian. Jangan dibalik antara hukum asal dan pengecualiannya.

Secara umum, keluarnya perempuan dari rumah terikat dengan dhawabit syar’iyah (rambu-rambu syar’i). Di antaranya adalah amannya dari fitnah. Fitnah dalam konteks ini bermakna ketertarikan lawan jenis terhadap perempuan saat keluar dari rumah. Nah, kalau prinsip pertama sudah kita dudukkan, prinsip berikutnya adalah adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.

Sebab nuzul (turunnya) surat An-Nisa’ ayat 32 bisa menjelaskan itu. Istri Nabi, Ummu Salamah bertanya kepada Nabi tentang keutamaan laki-laki yang bisa berjihad (dan mendapat pahala jihad) serta mendapatkan seluruh harta (dengan ketentuan syar’i). Sementara wanita tidak bisa berjihad dan hanya dapat separuh harta. Maka turun surat An-Nisa ayat 32. Intinya bahwa laki-laki punya keutamaan dan perempuan juga punya keutamaan.

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa ada hal-hal yang laki-laki dan perempuan berserikat di dalamnya. Ada yang khusus bagian laki-laki dan ada pula khusus bagian perempuan.

Ada juga hadits yang begitu panjang dari Asma’ bintu Yazid yang menjadi delegasi dari wanita di zaman Nabi. Beliau bertanya kepada Nabi, bahwa para laki-laki berperang, haji, shalat jama’ah dan safar. Sementara saat mereka keluar, kami para perempuan (istri) yang menjaga rumah mereka dan mengasuh anak-anaknya. “Apakah kami dapat pahala yang sama dengan pahala mereka? Nabi menjawab, Selama kalian berbuat baik kepda suami, mencari ridhanya maka kalian mendapatkan pahala yang sama.”

Dari dua hal di atas, masing-masing wanita silahkan mengambil bagian dalam iqamatuddin, selama ruh dan nafasnya terikat dengan dua kaidah besar di atas. Jika merujuk kepada kaidah pertama, maka ada tugas besar yang menunggu para wanita, yaitu mendidik generasi. Ini harus jadi perhatian, mengingat rusaknya generasi kids zaman now yang kita saksikan. Tantangan generasi hari ini adalah terlalu banyak hal-hal yang merusak fitrah mereka.

Untuk itu, di zaman seperti ini, Islam membutuhkan peran sentral para ibu dan muslimah dalam mengawal fitrah generasi dan menjauhkan mereka dari hal-hal yang merusaknya. Hal ini didasarkan pada beberapa hal:

1. Perempuan bertanggung jawab di rumah suaminya.

2. Perintah menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

3. Peringatan agar jangan meninggalkan generasi yang lemah.

4. Peringatan akan hadirnya generasi yang meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat.

Semoga kita bisa menjadi seorang muslimah dan ibu militan bagi generasi pewaris kemuliaan ini.

*Peni Nh

 

Resume kajian online Kiblatmuslimah.com bersama Ustadz Miftah, Lc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here