Pengorbanan untuk Sebuah Ilmu

0
132 views

Kiblatmuslimah.com – Keadaan sulit terkadang membuat kita mampu mengerjakan banyak produktivitas. Sementara kondisi yang lapang malah justru membuat kita terlena. Segala kemudahan yang ada bukannya menjadikan diri semakin baik akan tetapi malah tertinggal jauh di belakang.

Ya, orang menyebutnya dengan zona nyaman. Sebuah tempat tak terlihat, sangat sulit ditinggalkan orang kecuali bagi mereka yang memiliki ambisi dan semangat kuat.

Berbicara tentang ilmu, tidak ada teladan yang lebih baik melebihi para salaf dalam menuntutnya. Mereka telah memberikan contoh terbaik tentang bersemangat dalam menuntut ilmu agama, meraihnya, serta rindu kepadanya.

Mereka telah membuktikannya dengan keindahan akhlak, kecerdasan, ketajaman pikiran, kekuatan menghafal, serta bukti-bukti lain yang mereka miliki. Lalu, apa yang membuat para salaf begitu luar biasa dalam ilmu?

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh).”

Perkataan beliau  ini semakna dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya, kemudian ia menjadi beruntung. Akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Orang yang berkeinginan meraih ilmu namun hanya ingin mengisi hidupnya dengan bersantai dan berleha-leha, lebih baik menarik selimutnya kembali dan melanjutkan mimpinya.

Orang yang tidak berkenan meninggalkan zona nyamannya tidak mungkin mendapatkan keberkahan ilmu. Karena ilmu hanya bisa didapatkan dengan pengorbanan berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Bahkan dengan harta.

Mari kita simak penuturan Abdurrahman bin Abu Zur’ah yang mengisahkan tentang perjuangan ayahnya dalam menuntut ilmu. “Aku mendengar ayahku berkata: ‘Aku menetap di Bashrah pada tahun 214 Hijriyah. Sebenarnya aku ingin menetap di sana selama setahun. Namun perbekalanku telah habis dan terpaksa aku menjual bajuku sehelai demi sehelai. Sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi.’”

Ayahnya melanjutkan, “Tapi aku terus pergi bersama teman-temanku kepada para syaikh dan belajar kepada mereka hingga sore hari. Ketika teman-temanku telah pulang, aku pulang ke rumahku dengan tangan hampa dan hanya minum air untuk mengurangi rasa laparku.

Keesokan harinya teman-temanku datang dan aku pergi belajar bersama mereka untuk mendengar hadits dan menahan rasa lapar yang sangat. Hari berikutnya mereka datang lagi dan mengajakku pergi. Aku berkata, ‘Aku sangat lemah dan tidak bisa pergi’.

Mereka bertanya, ‘Apa yang membuatmu lemah?’ Aku menjawab, ‘Tidak  mungkin aku sembunyikan dari kalian. Aku belum makan apa-apa sejak dua hari yang lalu.””

Demikian para salaf yang mulia dalam menuntut ilmu. Sekarang, mari bercermin. Apakah dengan berbagai kemudahan yang telah Allah berikan kepada kita, menjadikan semakin semangat dalam menuntut ilmu?

Apakah dengan tersebarnya banyak majelis taklim, kemudahan dalam mendapatkan akses dan informasinya, membuat kita semakin bergairah memburu ilmu? Kalau tidak, mari bertanya kepada diri kita. Jika dengan segala kemudahan itu membuat kita malas menuntut ilmu, lantas dengan kemudahan semacam apa lagi yang bisa membuat kaki tergerak untuk berangkat?

 

 

 

*Astriva N Harahap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here