Pengaruh Keshalihan Orang Tua pada Anak

0
58 views

Kiblatmuslimah.com – Keshalihan kedua orang tua -sebagai teladan yang baik-berdampak besar pada jiwa anak. Dampak ketakwaan kedua orang tua kepada Allah ‘azza wa jalla, disertai usaha dan saling membantu antara keduanya, maka anak akan tumbuh dalam ketaatan dan tunduk kepada Allah.

“(Sebagai) satu keturunan, yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. Ali Imran (3): 34]

Walaupun kadang kala, tak dapat dipungkiri ada yang keluar dari teori ini. Karena suatu hikmah, hanya Allah yang mengetahuinya, supaya hati tetap sadar dan waspada serta tunduk kepada Allah dengan tidak berhenti berharap mendapat karunia anak shalih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Terdapat kisah yang tak asing lagi bagi kita semua. Saat perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Nabi Khidhr ‘alaihissalam sampai pada suatu tempat yang hampir runtuh, mereka membangun tembok itu kembali.

“…sedang ayahnya adalah seorang yang shalih…” [Q.S. Al-Kahfi (18): 82]

Salah seorang yang shalih berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku banyak mengerjakan shalat untukmu.”

Sahal at-Tustari berusaha sekuat tenaga untuk menjaga anaknya. Padahal anaknya belum dilahirkan. Dia menjaganya dengan melakukan berbagai amal shalih. Berharap Allah ‘azza wa jalla memuliakannya dengan mengaruniainya anak yang shalih.

Sahal at-Tustari mengatakan, “Aku akan menepati janji yang telah diambil Allah dariku di alam dunia ini. Aku akan memelihara anak-anakku dari mulai saat ini sampai Allah menghidupkan mereka di alam persaksian (akhirat).”

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [Q.S. Ath-Thur (52): 21]

Sa’id bin Musayyib berkata, “Sewaktu shalat, aku teringat anakku, maka aku tambahkan shalatku. Karena telah diriwayatkan bahwa Allah menjaga orang shalih beserta tujuh keturunannya.”

Seperti ini usaha para salafus-shalih untuk mendapatkan anak yang shalih. Ini merupakan bukti yang tak terbantah. Persiapan mendapatkan generasi shalih tidak hanya dimulai setelah akad, namun jauh sebelum itu. Bahkan saat anak itu belum dilahirkan ke dunia.

Bagi yang masih belum Allah genapkan separuh imannya, hendaklah dia menyibukkan dirinya dengan melakukan berbagai amal shalih. Semoga Allah memberi karunia kepada kita semua berupa anak yang shalih.

Shalih is not enough. Shalih itu hanya untuk dirinya, sedangkan mushlih adalah orang yang ikut berkontribusi dengan suguhannya untuk membantu agama Allah. Bantu agama Allah karena Allah yang akan membantu kualitas hidupmu.

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Q.S. Muhammad (47): 7]

_Hunafa’ Ballagho_

Referensi: DR. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid. 2010. Prophetic Parenting, Cara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Mendidik Anak. Yogyakarta: Pro-U Media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here