Pendidikan Perempuan

0
66 views

Kiblatmuslimah.com – Pada suatu hari ketika cuaca sangat panas, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang memperbaiki sandalnya. Dari dahinya mengalir keringat sampai ke pipi. Aisyah memperhatikan beliau dari dekat, seolah teringat sesuatu.

Rasulullah bersabda, “Apa yang membuatmu tercengang?”

Aisyah menjawab, “Seandainya Abu Kabir Al Hadzly melihatmu, pastilah dia tahu bahwa engkaulah yang paling pantas atas kata-katanya (syair).”

“Apa yang dia katakan?” tanya Rasulullah.

Aisyah menjawab dengan lantunan syair:

Menghilangkan debu pada setiap dinding

Dan kerusakan pada susu dan penyakit yang parah

Jika engkau memandang wajahnya akan tersenyum

Bercahaya bagaikan kilatan petir yang terang benderang

Seketika Rasulullah berdiri dan mencium kening Aisyah seraya berkata, “Engkau telah menggembirakanku, semoga Allah menggembirakanmu.”

Kisah di atas, selain menunjukkan romantisme keluarga Rasulullah dan perilaku Rasulullah di dalam rumah, juga kecerdasan Aisyah radhiallahu ‘anha terutama penguasaannya terhadap syair. Kemudian syair tersebut beliau gunakan dalam pergaulannya sehari-hari bersama suaminya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah adalah contoh yang paling tepat untuk menggambarkan keberhasilan Islam dalam mendidik perempuan. Sebelum menikah, beliau dididik oleh ayahnya Abu Bakar Ash Shiddiq terkait ilmu nasab dan syair. Setelah menikah, beliau dididik suaminya yakni Rasulullah terkait ilmu seputar Al-Qur’an, hadits, fikih dan sebagainya.

Hasilnya, di bidang hadits Aisyah radhiallahu ‘anha telah menghafal 2.210 hadits dan termasuk dalam tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu ‘Abdillah Al-Hakim menyebutkan bahwa seperempat dari perkara syari’ah diambil dari hadits-hadits riwayat Aisyah.

Di dalam kitab Inayatun Nisa bil hadits disebutkan, tidaklah para sahabat mendapatkan masalah-masalah yang sulit kemudian bertanya kepada Aisyah, melainkan Aisyah mengetahui jawabannya.

Jika kita ingin melihat contoh lain dari keberhasilan Islam dalam mendidik wanita, maka sejarah Islam mencatat banyak sekali tokoh-tokoh wanita yang ikut berperan dalam masyarakat. Sebut saja Zainab (seorang dokter di masa Bani Umayyah), Ummu Hasan binti Al-Qodhi Ahmad bin Abdillah Al-Thanjaly (penyair, hafidzah dan ahli kedokteran), Karimah Al-Maruziyah (salah satu guru dari Imam Al-Bukhari).

Beberapa ulama menyebutkan bahwa sebagian guru-guru mereka adalah dari kalangan perempuan. Ibnu Asakir menyebutkan bahwa sebagian guru perempuannya ada sekitar 80 orang. Imam Al-Hafidz Al-Mundziri memiliki 20 orang guru wanita. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengambil ilmu dari 12 guru perempuan yang juga berasal dari tujuh daerah yang berbeda. Bahkan Imam Adz-Dzahabi merasa sangat menyesal karena tidak sempat berjumpa dengan ummu Muhammad Sayyidah Binti Musa al-Mishriyah (w. 695 H) untuk berguru dan meminta ilmu darinya.

Semua ini menjadi bukti Islam sangat memperhatikan pendidikan perempuan dan tidak membedakan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Jika Indonesia menghargai jasa Ibu Kartini karena dianggap sebagai ikon perjuangan pendidikan perempuan, berabad-abad jauh sebelum itu, perempuan sudah mendapatkan pendidikan yang sangat baik dalam Islam.

Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa wanita-wanita dari kalangan sahabiyah meminta kepada Rasulullah agar memberikan hari khusus bagi mereka. Agar Rasulullah bisa memberi pengajaran, perintah-perintah dan nasihat kepada mereka. Rasulullah mengabulkannya dan para sahabiyah berkumpul di rumah salah seorang dari mereka. Rasulullah datang dan mengajar mereka.

Bahkan Rasulullah yang dikenal ummi (tidak menguasai baca tulis) memiliki perhatian dan meminta seorang sahabiyah bernama Asy-Syifa’ untuk mengajar menulis dan ruqyah kepada Hafshah istri beliau. (HR. Abu Daud)

Dari kalangan sahabat nabi sendiri, mereka memiliki perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan ini. Jika mereka selesai dari mendatangi majelis Rasulullah, akan pulang menemui keluarganya dan mengajarkan yang didengar dan dapatkan kepada istri, anak dan hamba sahaya yang tinggal bersama. Sebagai pengamalan dari firman Allah yang artinya:

“Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”

Pendidikan bagi perempuan menjadi sangat penting karena akan menjadi penentu keberhasilan pendidikan anak-anak dan keluarga. Mereka akan menghabiskan banyak waktu bersama anak-anak. Keberhasilan anak-anak dalam sebuah keluarga, banyak ditentukan oleh perempuan yang menjadi ibu di sana.

Karena pentingnya masalah ini, Rasulullah pernah berpesan untuk berhati-hati dalam memilih ibu, bahkan ibu susu. Beliau bersabda yang artinya:

لَاتَسْتَرْ ضِعُوا الوَرْهَاءَ الحَمْقَاءَ

“Janganlah kalian menyusukan bayi kalian pada warha’ hamqo‘ (wanita yang dungu).” (Al-Mu’jamush Shaghir I/140, hadits no. 137)

Jika semua keluarga muslim memiliki ibu yang terdidik dengan baik dan siap mendidik dengan baik pula, tentu terwujudnya masyarakat muslim yang agung juga akan dapat diharapkan. Semua dimulai dari konsentrasi mendidik perempuan terlebih dulu.

Dalam pertemuan ulama Islam tingkat dunia, seorang ulama dari Mauritania merasa heran, “Mengapa sekolah di banyak negara muslim mengajarkan materi sirah nabawiyah dalam kurikulum mereka?” Selesai menyampaikan keheranannya, para ulama lainnya bertanya, “Apakah di negaranya, materi tersebut tidak diajarkan?” Ulama dari Mauritania menjelaskan bahwa materi tersebut tidak diajarkan di sekolah-sekolah kecuali pada tingkat spesialisasi atau pendalaman saja. “Materi sirah nabawiyah tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Karena sudah selesai diceritakan para ibu di negeri kami saat kami masih kecil di ranjang-ranjang kamar kami”. Maa syaa Allah

� (Diambil dari majalah Taujih, no. 79, edisi Januari 2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here