Pendidikan Anak menurut Imam Al-Ghazali

0
257 views

Kiblatmuslimah.com – Umar ibn Khaththab mengatakan, “Taaddabu tsumma ta’allamu“, yang artinya pelajarilah adab kemudian pelajarilah ilmu.

Sungguh sebuah kesalahan besar jika orang tua mengartikan pendidikan anak dengan menyerahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah atau pesantren. Sementara ketika di rumah, mereka tidak pernah peduli pendidikan anak-anaknya sama sekali.

Imam al-Zarnuji dalam karyanya yang terkenal, Ta’lim al-Muta’allim, menyatakan bahwa syarat keberhasilan pendidikan harus ada kesungguhan dari tiga subjek yang saling berkaitan, yaitu anak, guru dan orang tua jika masih ada.

Rangkuman metode pendidikan anak menurut Imam al-Ghazali dalam bab khusus tentang pendidikan anak yang diberi judul Bayanu Thariq fi Riyadhat al-Shibyan fi Awwali Nasy’ihim wa Ta’dibihim wa Tahsini Akhlaqihim (Penjelasan metode melatih anak pada masa pertumbuhan, mendidik dan memperbaiki akhlak mereka) yaitu:

Pertama, aspek adab. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya dengan adab dan mengajarkan akhlak terpuji. Rasulullah bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama dibandingkan pendidikan (adab) yang baik.” (HR. Ahmad).

Akhlak yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini adalah sifat malu (al-haya’). Sifat malu yang menghalangi seseorang dari perbuatan tercela, bukan malu yang menghalangi untuk berbuat kebaikan.

Kedua, aspek ilmu. Imam al-Ghazali menyarankan agar sejak kecil anak-anak diajarkan Al-Qur-an, hadits dan kisah-kisah orang shalih.

Ketiga, aspek kedisiplinan. Jika anak melakukan suatu kebaikan, hendaknya orang tua menghargainya, memujinya bahkan jika perlu memberinya hadiah yang menggembirakan hatinya.

Dalam melaksanakan disiplin, orang tua harus berwibawa di hadapan anaknya. Ayah maupun ibunya hendaknya selalu menjaga ucapan maupun sikap di hadapan anaknya. Jika anak tak melakukan sesuai yang diperintahkan, maka boleh memberi hukuman sebagai efek jera. Kebanyakan anak-anak sekarang terlalu dimanja sehingga semena-mena terhadap gurunya. Padahal guru diperbolehkan memberi hukuman fisik yang proporsional terhadap anak tersebut.

Keempat, aspek kesehatan fisik. Anak harus dibiasakan banyak bergerak di siang hari. Seperti berjalan, berlari, bergerak dan berolahraga agar tidak muncul rasa malas dalam dirinya. Jangan banyak tidur siang.

Orang tua harus memberikan izin untuk bermain setelah belajar. Sebab melarang anak bermain akan membuat hati anak menjadi keras dan menurunkan semangat belajarnya.

Kelima, aspek sosial. Dalam pergaulannya, anak-anak harus dididik berbahasa santun, bersikap rendah hati, menghormati orang yang lebih tua, mencegah dari mengambil hak orang lain dan menanamkan dalam diri mereka bahwa kemuliaan seseorang itu ada di dalam sikap memberi kepada orang lain.

Anak juga harus dididik agar tidak terlalu banyak bicara, mendengarkan orang lain yang sedang berbicara dan tidak mudah bersumpah meskipun dia benar.

Keenam, aspek ibadah. Imam al-Ghazali mengingatkan agar orang tua membiasakan anak-anaknya dalam keadaan bersuci, mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan sesuai kemampuan. Pembiasaan ibadah sejak kecil ini penting untuk dilakukan agar ketika baligh dia sudah terbiasa melaksanakan perintah Allah ‘azza wa jalla dengan senang hati.

Itulah beberapa metode pendidikan anak yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali. Meski ditulis puluhan abad yang lalu, metode ini masih sangat relevan untuk diaplikasikan di zaman modern.

Setiap orang tua harus memperhatikan masalah pendidikan anak jika ingin melihat anaknya menjadi qurratu a’yun (penyejuk mata dan hati).

_Hunafa’ Ballagho_

Sumber: Muhammad Ardiansyah. 2017. Catatan Pendidikan. Depok: Ma’had ‘Aly Hujjatul Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here