Panduan Mengajar dan Belajar Al-Qur’an

0
295 views

Kiblatmuslimah.com – Seorang pengajar ataupun pelajar terlebih dahulu harus menanamkan dalam dirinya sifat ikhlas. Ikhlas merupakan syarat utama diterimanya amalan seorang hamba.

Dzunnun rahimahullah berkata, “Ada 3 tanda-tanda ikhlas; tidak terpengaruh oleh pujian dan celaan orang banyak, lupa melihat amalan-amalan dalam amalannya, dan mengharapkan pahala dari amalan-amalannya di akhirat.”

As-Sari rahimahullah menyampaikan, “Jangan melakukan apapun karena (mengharap pujian) manusia, jangan meninggalkan sesuatu apapun karena mereka, jangan memberi karena mereka dan jangan pula menyingkap sesuatu karena mereka.” (HR. Al-Baihaqi dalam asy-syu’ab)

Bukankah kita ketahui bahwa setiap pujian atau celaan mereka hanya sekedar ucapan belaka yang tak berarti? Apakah pujian itu yang membuat berhasil? Tentu saja, bukan. Apakah dengan mencela orang lain menjadikanmu lebih baik dari yang dicela? Justru menunjukkan keburukan dirimu. Sesungguhnya dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya mengharapkan wajah Allah dengannya, namun ia tidak mempelajarinya, kecuali untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud)

Nasihat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Wahai para pengemban ilmu, amalkanlah ilmumu! Karena orang alim adalah yang mengamalkan ilmunya dan ilmunya selaras dengan amalnya.”

Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sosok orang yang mengetahui kapasitas dirinya dan ilmunya. Beliau beramal dengan ilmu yang dimilikinya dan amalan itu sesuai dengan ilmunya. Kecerdasan beliau tampak saat memimpin umat ini walau tak lama menjabat. Beliau menentang keras orang-orang yang merendahkan khalifah sebelum dirinya. Para shahabat memiliki keutamaan pada diri mereka. Namun, janganlah lupa bahwa mereka juga selayaknya manusia biasa.

Hendaklah pengajar dan pelajar menjauhi sifat dengki, riya, sombong, ujub dan suka meremehkan orang lain meskipun tingkatan orang itu di bawahnya. Hendaknya dia selalu merasa diawasi Allah dalam kesunyian maupun keramaian, serta memelihara sikap itu.

_Hunafa’ Ballagho_

Sumber: Imam An-Nawawi. 2018. At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an (At-Tibyan Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an). Depok: Pustaka Khazanah Fawa’id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here