Pakta Umar: Beginilah Sang Khalifah Memperlakukan Gereja

0
137 views

Kiblatmuslimah.com – Melalui Perang Yarmuk, Islam akhirnya meruntuhkan dinding kekuasaan Bizantium dan membuka gerbang Yerusalem. Meski jelas kalah, Uskup Sophronius sebagai wakil Bizantium dan kepala gereja di Yerusalem bersikukuh untuk tidak menyerahkannya. Kecuali jika Umar bin Khaththab -selaku khalifah Islam saat itu- langsung datang melakukan serah terima.

Umar bin Khaththab adalah potret seorang pemimpin yang adil. Ketika Umar memasuki benteng Al-Quds dengan menuntun unta. Berjalan tegak penuh wibawa, sederhana, aura keshalihannya menjadikan orang-orang mengaguminya. Melihat suasana itu, sang Patrick gentar dan takut, lalu berkata, “Tak seorangpun yang mampu menghadapi mereka ini. Serahkan saja Al-Quds pada mereka, niscaya kalian akan selamat. ”

Umar diajak mengelilingi Yerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (menurut keyakinan Kristen, Nabi ‘Isa dimakamkan di gereja ini). Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja, tetapi Umar menolaknya. Umar khawatir kalau seandainya ia shalat di gereja tersebut, nanti umat Islam akan merubah gereja ini menjadi masjid. Dengan dalih Umar pernah mengerjakan shalat di sana. Umar lantas shalat di luar gereja dan tempat tersebut di kemudian hari dibangun Masjid Umar bin Khaththab.

Setelah itu dibuat perjanjian antara Umar mewakili Islam dengan Pendeta Sophronius mewakili Romawi. Isinya, Umar bin Khathab memberi jaminan keamanan bagi tempat-tempat suci agama. Tidak boleh dirusak sedikitpun.

“Sungguh aku telah memberikan jaminan keamanan kepada kalian; harta, darah, anak keturunan, ibadah, jual-beli. Kalian tidak akan dibebani perkara di luar kemampuan kalian. Siapa di antara kalian yang hendak bergabung dengan bangsanya (Romawi), ia dijamin untuk itu. Tidak diganggu dan kalian diwajibkan untuk membayar pajak/jizyah, sebagaimana kota-kota Palestina lainnya.”

(Teks ini diriwayatkan oleh Imam Ibnul Jauziy rahimahulláh dalam kitabnya Fadhail Quds, hlm. 123-124. Sejarahwan lainnya, seperti Ibnu ‘Asyakir, ath-Thabari dan selain keduanya juga meriwayatkan versi yang panjang.)

Teks perjanjian ini menunjukkan keadilan khilafah Islam. Islam mampu menaungi kebhinekaan dengan toleransi yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, maupun Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk padanya, sebagai solusi konflik antar umat beragama di sana.

 

Penulis: Kanem

Sumber:

Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab


Majalah An-Najah. Edisi 146. Rubrik Tema Utama. Redaksi An-Najah 4 Mei 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here