Nestapa Para Ibu di Hari Ibu

0
111 views

Kiblatmuslimah.com – Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu. Tahun 2018 ini adalah Peringatan Hari Ibu (PHI) yang ke 90 dengan tema “Bersama Meningkatkan Peran Perempuan dan Laki-laki dalam Membangun Ketahanan Keluarga untuk Kesejahteraan Bangsa”. Bahkan PHI tahun ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPAI) memiliki buku pedoman PHI yang mengatur logo,  tema, sub tema dan slogan. Pengambilan tanggal 22 Desember sebagai PHI diresmikan oleh Presiden Soekarno dengan Keputusan Presiden RI no 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Konggres Perempuan Indonesia 1928.

Sekalipun mendapatkan hari peringatan, namun nasib kaum ibu saat ini masih terbilang susah, termasuk dalam hal ekonomi.

Fakta Perempuan

Perempuan sebagai ibu seharusnya konsentrasi mendidik dan mengasuh putra-putrinya. Saat ini banyak teralihkan karena tuntutan ekonomi yang makin kapitalistik. Perempuan terpaksa bekerja bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Para ibu harus meninggalkan tugasnya, sebagai istri ataupun mengasuh anak-anak. Tidak jarang mengais rezekinya di tempat yang sangat jauh, menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri.

Tercatat pada akhir tahun 2017 lalu, menurut Kepala Bagian Humas Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Survulus Bobo Riti, TKW  Indonesia mencapai 93.641 orang dari 148.285 orang. Tersebar di beberapa negara yaitu Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Arab dan Amerika.  Ada gelar penghibur yang disematkan pada para TKW, yaitu pahlawan devisa. Namun kondisi keluarga mereka berantakan.

Lapangan pekerjaan di dalam negeripun banyak yang membutuhkan tenaga perempuan. Ini menjadi faktor meningkatnya jumlah laki-laki yang tidak mendapatkan pekerjaan. Perempuan dieksploitasi habis-habisan. Contohnya dalam dunia periklanan yang akhirnya menjerumuskan perempuan pada gaya hidup materialistik dan hedonis.

Ibu tidak lagi bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya karena kesibukan mencari nafkah atau berkarir. Tak jarang pula seorang ibu tergelincir dalam dunia gelap, hanya demi receh. Penjualan perempuan juga marak saat ini. Lagi-lagi, atas alasan ekonomi.

Jika yang terjadi demikian terhadap perempuan, bagaimana akan bisa menciptakan ketahanan keluarga sesuai dengan tema PHI saat ini? Tampak jauh panggang dari api. Nestapa ibu belum berakhir sampai hari ini meski setiap tahun diperingati.

Peran Ibu

Ibu sesungguhnya memiliki peran sangat mulia dan terhormat. Dalam Islam, diajarkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Ibu dimuliakan di atas ayah. Rasulullaah menyebutnya tiga kali, baru setelahnya ayah.

Kenapa ibu itu mulia? Sesungguhnya peran ibu luar biasa.

1. Perempuan sebagai ibu. Dia yang mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mengasuh anak secara langsung.

Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu yang menanamkan konsep hidup pertama kalinya pada diri seorang anak. Ibu pula yang secara fitrah memiliki kelembutan dan kasih sayang.

Apa jadinya bila tak ada ibu di sisi anak? Karena ibu sibuk dengan pekerjaannya, lalai terhadap tugas mulianya. Bagaimana akan bisa mewujudkan generasi hebat penerus estafet pembangunan bangsa dan masyarakat?

Di tangan ibu, anak-anak akan diukir seperti apa? Generasi hebat karena adanya ibu hebat yang mengiringinya.

2. Ibu sebagai pengatur rumah, menciptakan suasana yang nyaman, tenang dan menenangkan. Sehingga bisa disebut baitii jannatii (rumahku, surgaku).

Suami, anak-anak dan anggota keluarga yang lain merasa nyaman dan tenang dalam menjalankan kewajiban masing-masing sebagai anggota keluarga. Dari sini akan tumbuh rasa saling menyayangi, bekerja sama, tolong-menolong dan melengkapi sehingga ketahanan keluarga itu bisa terwujud.

Anak-anak akan nyaman belajar tentang kehidupan yang baik sebagai bekal menghadapi masa depan. Anak-anak akan tumbuh dengan baik, terhindar dari segala hal yang buruk. Misal, pergaulan bebas, narkoba, minum minuman keras atau yang lainnya. Kenapa? Karena ada ibu dan keluarga yang mendukungnya untuk memberikan pendidikan dan contoh teladan yang baik serta memperhatikan perkembangannya.

Ibu yang fokus pada tugas mulianya, akan selalu memperhatikan daya tumbuh kembang anak sehingga siap mengarungi kehidupan ini.

3. Ibu juga memiliki peran sosial di dalam pembentukan masyarakat yang baik dengan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah adanya kemungkaran. Bayangkan jika para ibu memiliki sikap cuek terhadap lingkungan masyarakat! Maka kemaksiatan yang ada akan marak, ibarat tumbuhnya jamur di musim hujan. Dalam hal ini, para ibu bisa melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat. Seperti santunan pada fakir miskin, anak yatim, anak jalanan dan lain lain. Para ibu juga bisa membentuk komunitas pengajian untuk meningkatkan pemahaman agamanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Ibu memiliki peran politis dalam hal mengoreksi penguasa jika melakukan kesalahan atau lalai dalam mengurus rakyatnya, termasuk urusan para wanita.

Contoh saja, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab ra. Beliau dikoreksi oleh seorang wanita mengenai kebijakan beliau pada batasan mahar pernikahan. Khalifah Umar ra menerima usulan perempuan tersebut dan beliau mengatakan, “Wanita ini benar”.

Sungguh potret kusam para ibu saat ini jauh dari ideal. Karena terlindas gaya hidup kapitalistik. Kembalikan tugas dan fungsi ibu dengan benar. Hentikan eksploitasi perempuan. Perempuan di mata Islam itu mulia. Yang berkewajiban memenuhi nafkah adalah laki-laki. Sementara bagi perempuan, hukum bekerja adalah mubah atau boleh, bukan wajib. Ini harus dipahami oleh semuanya.

Untuk mengembalikan posisi peran ibu dengan benar maka membutuhkan peran keluarga, masyarakat dan negara. Negara sebagai konstitusi, bisa membuat aturan yang mendukung peran ibu.

Wallaahu a’lam

Oleh: Ayik Ekaning Kusumawati, S. Pd.

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here