Muslimah Punya Cita-cita Mulia (Bagian 2)

0
260 views

Kiblatmuslimah.com Setelah Ummu Waraqah meminta izin kepada Rasulullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah akan mengaruniai dirimu syahadah. Tapi tinggallah kamu di rumahmu! Karena sesungguhnya engkau adalah syahidah (orang yang akan mati syahid).”

 

Beliau turut mengumpulkan Al-Qur’an al-Karim dan beliau adalah seorang wanita yang ahli dalam membaca Al-Quran. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beliau agar menjadi imam bagi para wanita di daerahnya dan menyiapkan seorang muadzin baginya.

 

Disebutkan dalam al-Musnad dan as-Sunan dari hadits Abdurrahman bin Khalad, Ummu Waraqah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi beliau di rumahnya. Kemudian memberikan seorang muadzin untuknya.

 

Abdurrahman berkata, “Aku melihat muadzin tersebut seorang laki-laki yang sudah tua.”

 

Rumah Ummu Waraqah radhiyallahu ‘anha sebagai rumah Allah, ditegakkan shalat lima waktu di dalamnya. Alangkah terhormatnya seorang wanita yang menduduki posisi sebagaimana Ummu Waraqah.

 

Ummu Waraqah senantiasa istiqamah dengan keadaannya, menjaga syariat-syariat Allah. Hingga pada suatu ketika, budak dan jariyahnya (yang telah dijanjikan akan dimerdekakan setelah beliau wafat) membunuh beliau.

 

Tatkala pagi, Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah, aku tidak mendengar suara bacaan Al-Qur’an dari bibiku semalam.” Kemudian beliau memasuki rumahnya, namun tidak melihat sesuatu. Lalu beliau memasuki kamarnya, ternyata Ummu Waraqah telah terbungkus kain di samping rumah (yakni telah wafat).

 

Umar berkata, “Alangkah benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, ‘Marilah pergi bersama kami untuk mengunjungi wanita yang syahid’.” Selanjutnya, Umar naik mimbar dan menyampaikan berita tersebut lantas berkata, “Hadapkanlah dua budak tersebut kepadaku!”

 

Maka, datang dua orang budak tersebut dan Umar menanyai keduanya. Mereka mengakui perbuatannya. Umar perintahkan agar kedua orang budak tersebut disalib. Mereka berdua adalah orang yang pertama kali disalib dalam sejarah Islam.

Demikian kisah shahabiyah Ummu Waraqah. Kematian beliau bukan di medan jihad, justru mati di rumah, dibunuh oleh budaknya sendiri. Tapi karena niat, cita-cita mulia dan semangat yang membara dalam menegakan Dinul Islam, Allah anugerahkan kepadanya mati syahid.

 

Begitu juga kalau niat dan cita-cita kita mulia. Hidup dan mati untuk menegakkan Din ini. Meskipun kematian kita bukan karena jihad di medan perang, insya Allah juga ditulis sebagai mati syahid.

 

Maka dari itu, bercita-citalah setinggi mungkin, wahai laki-laki dan wanita! Siapakah yang akan terdahulu mendapatkan kemuliaan ini? Apakah di antara laki-laki atau wanita di antara kalian saat ini?

 

Bersegeralah wahai umat muslim dan muslimah membela agama ini! Korbankanlah segala yang bisa Anda korbankan! Baik berupa waktu atau kesempatan, harta bahkan jiwa Anda untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Agar mendapatkan pahala di sisi Allah Ta’ala dan mendapatkan pahala mati syahid.

 

Marilah luruskan niat kita dalam menjalani hidup ini! Hidup untuk menegakkan Dinul Islam dan mati dalam keadaan syahid. Isy kariman au mut syahidan.

 

Sumber:

  1. Abi Abdurrahman dan Muhammad bin Ali al-A’lawi. U’luwil Himmah ‘inda An-Nisa‘. Juz 1. Mesir: Darul Nasri. Hal: 33.
  2. Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi. Kitab Nisaa’ Haular Rasuul. Iskandariyah: Perpustakaan Distribusi Al Sawadi.
  3. Abdus Salam Al Indunisy. Ebook: Biografi ‘Ulama Ahlus Sunnah. Penerbit Darru Wadi Salam.

 

Penulis: Firdausy Asma Amanina

Editor: Halimah

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here