Mewariskan Kesalehan

0
237 views

Kiblatmuslimah.com – Visioner. Inilah yang seharusnya menjadi karakter utama seorang muslim. Pandangan hidupnya tidak sekadar berkutat pada kehidupan dunia saja, melainkan terbentang jauh hingga kehidupan setelah matinya, akhirat.

Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga, keluarga muslim hendaknya tak sekadar mengupayakan kebahagiaan semu di dunia. Namun, juga kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya. Keluarga bervisi akhirat tentu berpangkal dari pasangan yang visioner pula.

Keluarga yang saleh akan melahirkan anak-anak yang saleh pula, atas izin Allah. Sebuah pohon yang tumbuh subur dengan buah yang ranum, tentu berasal dari benih yang baik dan akar yang kuat. Kesalehan ayah dan ibu adalah faktor penentu kesalehan anak-anak.

Mari kita luangkan sejenak akal dan hati kita untuk merenungi sebuah kisah berharga dari seorang pemuda saleh. Ia adalah seorang pemuda yang kokoh keimanannya, meski ujian keimanan justru datang dari keluarganya sendiri, ayahnya. Siapakah pemuda mengagumkan ini?

Ya, dialah Ibrahim a.s seorang Nabi sekaligus kekasih Allah. Sebelum kita menyimak pribadinya sebagai seorang ayah, terlebih dulu kita simak bagaimana Al-Qur’an telah mengabadikan gambaran kokoh aqidahnya  tatkala masih belia.

Pada surah Al-Anbiya’ ayat 52-70, tergambar jelas bagaimana Ibrahim mencoba berdiskusi tentang keimanan kepada Allah terhadap ayahnya. Bahkan dengan sepenuh keberanian, ia menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.

Tatkala Ibrahim telah menjadi ayah, kesalehannya pun terus memancar kuat. Hal ini tergambar jelas ketika turun perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail a.sTak keluar sedikitpun gerutu dari lisannya ketika menerima titah seberat itu.

Simak juga bagaimana penuturan Ismail ketika sang ayah menanyakan pendapatnya tentang perintah Allah tersebut. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaa Allah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”  (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kini kita beralih pada kisah seorang pemuda mengagumkan lainnya. Ialah Anas bin Malik r.a. Siapakah di antara kita yang belum mendengar kisahnya yang menakjubkan? Ia adalah seorang yang dipercaya menjadi “asisten” Rasulullah tatkala usianya masih sangat belia. Ia juga salah seorang dari 7 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah.

Kesalehan dirinya tak diragukan lagi, sehingga suatu ketika beliau pernah didoakan Rasulullah, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.”  Maka benar saja, berkat doa Nabawi tersebut, terkumpullah beberapa keistimewaan padanya, usia yang panjang, anak yang banyak dan saleh, harta yang banyak, serta ilmu yang luas. Maasyaa Allah!

Membicarakan Anas bin Malik tentu tak lepas dari peran besar sosok ibunda salehah yang telah membentuk kepribadian dan mendidik akhlaknya. Ialah Ummu Sulaim r.a, seorang yang ibu yang rela “menghadiahkan” anaknya di usia 8 tahun kepada Rasulullah, sebagai bentuk kecintaannya kepada beliausae.

Dari sekelumit kisah nyata di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga. Kesalehan Ibrahim telah terbentuk sempurna di usia mudanya, sebelum ia berumah tangga. Ismail pun mewarisi kesalehannya. Kesalehan Ummu Sulaim telah diwariskan kepada Anas bin Malik. Anas bin Malik pun telah mewariskan kesalehannya kepada seluruh keturunannya.

Maka sampai disini, semoga kita telah memahami betapa pentingnya membangun kesalehan diri—sesuatu yang layak diperjuangkan—di masa-masa single, ketimbang terus menghabiskan waktu dalam kegalauan yang berpotensi memandulkan produktivitas.

Kisah di atas menjadi pengingat bagi generasi muda, para ikhwan dan akhwat yang akan maupun sedang memulai langkah membangun keluarga. Kesalehan di masa muda akan lebih mudah diwariskan daripada kesalehan yang dibangun tatkala rambut telah dipenuhi uban. Hal ini semata-mata merupakan bentuk penjagaan dan balasan Allah bagi orang yang telah bersungguh-sungguh menjaga hak Allah di masa mudanya.

“Allah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allah di waktu mudanya. Allah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan, kecerdasan, bahkan hingga keturunannya. Maka jagalah hak-hak Allah di masa-masa lapang, agar Ia menjaga kita di masa sempit dan hilang kekuatan.”

Kisah di atas semoga juga menjadi pengingat bagi orang tua agar terus berupaya membimbing anak-anak mudanya dalam bingkai keimanan, agar kelak mereka memiliki bekal yang memadai saat amanah menjadi suami, istri, ayah, atau ibu bergulir di pundak mereka.

Sungguh, peradaban besar bercahaya dimulai dari keluarga, dari rumah-rumah kita. Oleh sebab itu, jadikan pernikahan sebagai momentum melipatgandakan ketakwaan, mengakumulasi semangat perbaikan, dan meregenerasi kesalehan. Insyaa Allah.

Persiapkan perbekalan menuju perjalanan panjang!

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa. Rabbanaa hablanaa milladunka dzurriyyatan thayyibah. Rabbanaa wa taqabbal du’aaa’…

 

[laninalathifa]

 

Sumber:

Al-‘Adawy. 2006. Musthafa. Fiqih Tarbiyah Abna wa Tha’ifah min Nasha’ih Al-Athibba. Jakarta: Qisthi Press

Ashari, Budi. 2014. Inspirasi dari Rumah Cahaya. Depok: CS Publishing

 

Baswedan, Sufyan bin Fuad. 2014. Ibunda Para Ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah

‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2012. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Solo: Insan Kamil

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here