Mentarbiyah Anak, Menumbuhkembangkan Benih

0
73 views

Kiblatmuslimah.com – Setiap anak memiliki fitrah yang telah tertanam dalam diri mereka sejak lahir. Tinggal bagaimana orang tua membantu anak untuk mengoptimalkan fitrah/potensinya tersebut.

Secara bahasa, fitrah artinya al-khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah (lihat Lisaanul Arab 5/56, Al Qamus Al Muhith 1/881). Karena itulah, seorang anak lahir dalam keadaan fitrah Islam.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” (HR. Bukhari-Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:

أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum: 30)

Fitrah pada anak terinstal sebagai potensi bawaan yang di dalamnya terdapat hubungan antara Allah dengan manusia. Fitrah ibarat benih. Semestinya, orang tua menjadi petani yang memahami tumbuh kembang benih dan membantu menumbuhkembangkannya. Memelihara, merawat penuh cinta, menyiram dan memupuknya dengan baik. Menjaganya dari hal-hal yang merusak pertumbuhan dan perkembangan benih tersebut.

Fitrah yang dibawa anak sejak lahir bersifat potensial, sehingga memerlukan upaya-upaya orang tua untuk mengembangkannya menjadi faktual dan aktual. Upaya yang harus dilakukan melalui proses pendidikan (tarbiyah) yang tidak instan.

Secara etimologi, tarbiyah berasal dari tiga akar kata: rabiya – yarba, rabaa – yarbu, dan rabba – yarubu. Rabiya – yarba artinya tumbuh. Rabaa – yarbu memiliki makna bertambah dan berkembang. Dan rabba–yarubbu bermakna memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga dan memperhatikan.

Dengan demikian, tarbiyah memiliki makna proses menumbuhkan dan mengembangkan. Menumbuhkan keimanan, ketakwaan dan karakter-karakter positif dalam jiwa seorang muslim. Tarbiyah merupakan proses menyampaikan sesuatu, hingga sampai pada tingkat sempurna, secara bertahap, sedikit demi sedikit. Tarbiyah adalah proses pembinaan yang membuat kapasitas dan kompetensi anak berkembang, termasuk wawasan dan paradigmanya.

Sebagaimana benih, fitrah memerlukan tahapan dalam menumbuhkannya. Tidak berlaku kaidah semakin cepat semakin baik. Banyak orang tua tergesa menjadikan anak mereka saleh, namun tidak memahami tahapan dengan baik dan menggegas prosesnya.

Akibatnya, banyak masalah di kemudian hari. Bagai benih yang baru berdaun beberapa helai, lalu disiram dan dipupuk banyak-banyak agar segera berbuah. Justru malah rusak akarnya, kemudian layu dan mati.

Karena itu, memahami tahapan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi suatu hal penting untuk dipahami. Tahapan dalam proses tersebut, berpengaruh besar terhadap kualitas perkembangan benih yang sedang ditumbuhkan.

Alaa kulli haal, proses tarbiyah adalah menyempurnakan cahaya Ilahi yang sudah built-in dalam jiwa anak. Sehingga, orang tua harus fokus pada menerangi jiwa dengan cahaya, bukan pada gelapnya. Pijar cahaya yang semakin terang dan meluas, akan menutupi sisi kegelapan yang ada. Menggerus keburukan dan menerangi pelaku serta  perilakunya.

Terkait ayat Islam sebagai agama fitrah yang disebut di atas, Imam Ibnu Katsir, menjelaskan: “Tegakkan wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang disyariatkan Allah kepadamu, yaitu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Allah telah sempurnakan agama ini dengan puncak kesempurnaan. Dengan itu berarti engkau masih berada pada fitrahmu yang salimah (lurus dan benar). Sebagaimana ketika Allah ciptakan para makhluk dalam keadaan itu. Allah menciptakan para makhluk dalam keadaan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/313)

Dengan demikian, proses menumbuhkembangkan benih sesuai fitrahnya, akan membuahkan pribadi muslim yang mentauhidkan Allah. Berpegang teguh pada syariat Allah dan memiliki kepribadian serta akhlak Islami. Bi idznillah.

 

Penulis: Ummu Abdillah Al-Shami

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here