Mengejar Fatamorgana

0
90 views

KiblatMuslimah.com – Dalam sebuah forum kajian mahasiswa, para peserta yang datang ditanya oleh pemateri, “Teman-teman, negara maju itu apa, sih?” Kebanyakan dari mereka menjawab contoh negara maju adalah Amerika, Jepang, Korea, Jerman, dan lain sebagainya. “Yakin?”  kata sang pemateri lagi. Para peserta mengangguk yakin.

Sang pemateri lalu bertanya, “Apakah mereka negara yang masyarakatnya bertauhid dan bertakwa kepada Allah?”  Para peserta kemudian menggeleng dan terdiam.

Begitu juga ketika mendefinisikan prestasi. Ketika ditanya, “Apa sih bentuk prestasi seorang mahasiswa itu?” Ada yang menjawab mahasiswa yang berprestasi itu adalah yang nilainya bagus-bagus, sering memenangkan berbagai perlombaan, meraih berbagai penghargaan, memiliki IP yang tinggi, disayang dosen, aktif berorganisasi, dan sebagainya.

Sadar atau tidak, ternyata cara pandang kebanyakan orang dalam melihat suatu kemajuan masih mengacu pada hal-hal yang bersifat keduniaan dan materi semata.

Kemajuan suatu bangsa hanya diukur dari pendapatan perkapitanya yang tinggi, kemutakhiran teknologinya, sistem pendidikannya yang bertaraf internasional (meskipun sekuler), dan lain semacamnya.

Begitupun dengan prestasi belajar, hanya diukur dari hal-hal yang bahkan sebenarnya tidak ada harganya di hadapan Allah kelak.

Padahal, lebih jauh lagi, definisi negara maju tidak boleh diukur dari hal-hal yang bersifat materi saja, tetapi juga kondisi masyarakatnya yang beribadah dan bertakwa kepada Allah. Karena dengan demikian, Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi kepada negara tersebut. Negara yang dibangun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu contohnya. Madinah pada zaman Rasulullah, adalah gambaran sebuah negara maju dan ideal.

Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 96,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Pun demikian halnya dengan memandang prestasi. Tidak boleh memandangnya hanya sebatas hal-hal yang bersifat keduniaan semata. Karena prestasi yang sesungguhnya adalah ketika para peserta didik dapat menjalani kegiatan pembelajarannya, meraih pencapaian demi pencapaiannya di atas ketaatan kepada Allah.

Sungguh menyedihkan jika kita terus melihat sesuatu hal dari sudut pandang keduniaan saja. Hal-hal semacam ini harus dipahami oleh seluruh pihak. Tidak hanya anak didik, pendidik, dan orang tua, tapi seluruh lapisan masyarakat muslim harus memahaminya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa yang nilai (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ibnu Majah)

Ya, hidup berorientasi pada dunia bak mengejar fatamorgana. Semoga Allah melindungi kita dari penyakit cinta dunia. Aamiin.

 

Penulis: Astriva Novri Harahap

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here