Mengapa Rasulullah Tertawa di Muzdalifah?

0
161 views

Kiblatmuslimah.com – Sosok teladan sepanjang zaman yang masyhur akan akhlaqnya, kali ini menunjukkan budi pekerti yang tak banyak orang ketahui; tertawa. Muhammad yang hidupnya habis dengan kucuran darah dan peluh keringat, tetap mampu menunjukkan sisi menusiawinya. Tersenyum menertawakan hal yang dianggap lucu tanpa harus menjatuhkan kewibawaan.

Saat itu haji wada’ tengah berlangsung. Haji pertama dan terakhir nabi, 9 tahun pasca hijrah ke Madinah (di riwayat lain tahun ke-10). Keesokan harinya setelah khutbah wada’ (perpisahan) disampaikan di Arafah, beliau beranjak ke Muzdalifah. Sampai di sana, para shahabat mendapati beliau tersenyum sendiri.

“Wahai Rasulullah, demi ayahku, engkau, dan ibuku, engkau tertawa pada saat tidak seharusnya engkau tertawa. Apa yang membuatmu tertawa? Allah membuatmu tertawa hingga gerahammu terlihat.” Tanya seorang dari mereka.

Nabi menjawab, “ Aku tersenyum karena ulah si musuh Allah, iblis, saat ia tahu Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung telah mengabulkan doaku menyangkut umatku, juga mengampuni orang yang berbuat dzalim. Iblis terjungkal-jungkal sambil berteriak: ‘Binasalah aku! Celakalah aku!’ dan meraupkan debu ke kepalanya. Aku tak kuasa menahan senyum melihat ulahnya itu dan betapa ia terpukul.”

Rasulullah pun menambahi, “Belum pernah setan diperlihatkan sedemikian kecil, terusir, terhina, dan marah seperti pada hari Arafah. Itu tak lain karena ia melihat begitu melimpah rahmat yang turun dan Allah ‘memutihkan’ dosa-dosa besar. Itu hal lain yang diperlihatkan (Allah pada setan) di hari Badar.”

“Apa yang setan lihat pada hari Badar, wahai Rasulullah?”

“Ia melihat Jibril menghimpun para malaikat.”

Sejarahpun membuktikan bahwa sosok pejuang dan pemimpin terbaik ini tidaklah bersifat bengis lagi haus darah dan diliputi nafsu, seperti karikatur yang orang kafir gambarkan perihal beliau. Lelaki bersorban yang berisikan bom dengan kedua tangan mengepal ke atas seperti Popeye yang unjuk kekuatan, dengan wanita-wanita yang menduduki lengannya. Subhanallah, betapa buruknya perumpamaan mereka.

Nabi juga manusia, bisa menangis dan tertawa. Bumi Muzdalifah pun menjadi saksi akan sifat manusiawi yang beliau miliki. Menertawai hal yang layak untuk ditertawakan, yakni setan, musuh nyata yang melenakan. Tak seperti zaman ini yang menjadikan ibu sendiri sebagai bahan untuk dipersekusi, wal ’iyyadzu billah.

baca juga: Abu Bakar Bersedih

Oleh: Alifia M.

Sumber: Dr. Nizar Abazhah. 2017. Sejarah Madinah. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Hlm. 345-346.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here