Menasihati atau Membuka Aib?

0
45 views

Kiblatmuslimah.com – Sebelumnya telah dibahas tentang tata cara menasihati tanpa menyakiti. Sekarang, apakah perbedaan antara menasihati dan membuka aib? Apabila kita sudah paham tentang arti perbedaan ini, Insya Allah akan lebih mudah dalam menasihati seseorang agar mendapatkan petunjuk dan hidayah.

Sebagian orang tidak dapat membedakan antara mencela dan menyingkap aib orang lain dengan menasihatinya, sehingga bisa tertipu. Keinginan untuk menasihati, akan berubah menjadi penodaan dan penistaan harga diri yang dinasihati. Banyak orang lari bahkan menjadi benci kepada yang memberi nasihat. Agar tidak terjadi hal yang demikian, kita harus mengetahui apakah perbedaan antara menasihati dan membuka aib? Anda penasaran …? Mari kita simak bersama …!

Perbedaan antara menasihati dan membuka aib:

1. Nasihat dilakukan secara rahasia. Sedangkan membuka aib dilakukan secara terang-terangan.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Tanda-tanda nasihat adalah menasihati diikuti dengan menutup aib. Sementara mempermalukan diikuti dengan membuka aib”.

2. Pemberi nasihat adalah orang yang beriman. Sedangkan yang membuka aib adalah orang yang fajir.

Setiap upaya dalam penyebaran kekejian pasti diikuti dengan pengungkapan suatu aib. Seorang yang fajir tidak mempunyai tujuan untuk menepis berbagai kerusakan. Dia selalu berusaha membuka aib dan segala kekurangan. Bahkan tujuannya mempermalukan saudara seiman dengan segala aib-aib dan kejelekan di hadapan publik agar mendapatkan madharat di dunia.

Bagi orang yang beriman, berusaha menepis aib dari saudaranya seiman dan menjauhkan darinya.

3. Tujuan orang yang memberi nasihat adalah islah, mengadakan perbaikan. Sedangkan tujuan orang yang mempermalukan adalah membuat kerusakan.

Menasihati mempunyai tujuan untuk perbaikan, meluruskan perjalanan, mengadakan islah dan menyempurnakan kekurangan dalam aib seseorang. Inilah tujuan mulia yang mesti mendapatkan penghargaan berupa pahala di sisi Allah.

Sebaliknya tujuan orang yang mempermalukan adalah menodai kehormatan, mengobarkan kemarahan dan mencari aib-aib orang lain. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa dia akan mendapatkan dosa dari Allah dan dianggap amalan yang paling nista di mata manusia.

4. Orang yang memberi nasihat, menunaikan kewajiban atas saudaranya seiman.

Jika kita memberikan nasihat kepada orang yang beriman, berarti telah menunaikan kewajiban bagi seorang hamba. Karenanya akan mendapatkan pahala atas nasihatnya itu.

Berbeda dengan orang yang mempermalukan, sungguh dia telah mengoyak hak-hak hamba Allah, menghancurkan kehormatannya dan merusak agamanya. Karenanya dia berdosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’alla.

5. Orang yang memberi nasihat umumnya sepi dari pamrih.

Seseorang yang memberikan nasihat pada umumnya tidak mengharapkan suatu imbalan untuk dirinya. Sementara orang yang mempermalukan tidak kosong dari harapan dan rasa iri serta sakit hati. Penasihat mencintai orang yang dinasihati sebagaimana dirinya sendiri. Karena dia menginginkan adanya kebaikan kepadanya. Sebaliknya orang yang mempermalukan, dia tidak mencintai orang yang dipermalukannya dan tidak ingin adanya kebaikan padanya. Bahkan mengharapkan keburukan padanya.

Mulai sekarang, jika ada seseorang yang menasihati dengan rahasia dan berusaha menutupi aib, kita harus menata hati untuk menerimanya. Walaupun itu pedih. Percayalah, bahwa dia sangat mencintai, menginginkan kebaikan dan ingin kita menjadi baik di mata manusia, yang lebih utama di hadapan Allah Ta’alla.

Zaman sekarang banyak didapati, seorang istri mengeluh kekurangan suami di sosmed atau sebaliknya. Seorang ibu yang membuka aib anaknya di depan teman-temannya atau sebaliknya. Jika kita sadar bahwa hal itu sangat merugikan tentunya tidak akan melakukan hal seperti itu. Niat awal ingin curhat meringankan beban, tapi malah dosa yang didapat karena membuka aib keluarga di depan publik. Nau’dzubillah, semoga kita terhindar dari perbuatan tersebut.

Semoga dengan mengetahui perbedaan antara menasihati dan membuka aib, bisa menjadikan kita lebih hati-hati dalam menentukan sikap. Semoga bermanfaat. Aamiin

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

Sumber:  Abu Muhammad Shu’alik. Menasihati Tanpa Menyakiti. Solo:  Pustaka Arafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here