Memburu Akhirat, Dunia pun Menghampiri

0
99 views

Kiblatmuslimah.com Sebagai seorang muslim, tentunya kita tahu tujuan hidup di dunia ini. Hanya untuk beribadah kepada Allah, itulah prioritas utama kita sebagai hamba Allah.

Jika kita sudah mengetahui prioritas utama, tentunya segala aktivitas yang dilakukan hendaklah diutamakan untuk mencari keuntungan akhirat. Bukan hanya mencari keuntungan dunia yang sifatnya sementara. Apalagi menjual akhirat demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia. Na’uzubillahi min dzalik.

Jika seorang muslim memburu pahala demi kebahagiaan akhirat, maka kenikmatan dunia akan menghampirinya. Tapi sebaliknya jika seseorang hanya memburu dunia, maka dia akan diberikan sebagian dari keuntungan dunia yang sudah menjadi bagiannya dan tidak mendapatkan sedikit kebahagian di akhirat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ}

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya”. (QS. Asy-Syura: 20)

Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menerangkan, “Barang siapa yang beramal untuk akhirat, Kami akan menguatkannya dan menolongnya untuk melakukan yang menjadi tujuan niatnya. Kami akan mengembangkan keuntungannya dan membalasnya dengan pahala satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang dikehendaki oleh Allah.

{وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ}

“Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tak ada baginya suatu bagian pun di akhirat”. (QS. Asy-Syura: 20)

Artinya, barang siapa yang tujuan usahanya hanya semata-mata mencari sesuatu keuntungan duniawi, sedangkan untuk kepentingan akhiratnya tidak terlintas sedikit pun dalam hatinya, maka Allah mengharamkan baginya keuntungan di negeri akhirat. Sedangkan keuntungan dunia, jika Allah menghendakinya, maka Dia memberinya; dan jika tidak menghendakinya, maka Dia tidak memberikan kepadanya, baik keuntungan di dunia maupun akhirat. Orang yang berusaha dengan niat ini, memperoleh kerugian di dunia dan akhirat.

Firman Allah SWT tersebut menegaskan bahwa kehidupan akhirat lebih penting dan lebih banyak manfaatnya bagi seorang muslim jika ingin mengejarnya. Semua orang sudah mengetahui bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan yang abadi itu di akhirat kelak. Rasulullah saw pernah bersabda, “Umur umatku hanya sekitar 60 sampai 70 tahun”.

Walaupun kesadaran dan keyakinan kita mengenai hidup di dunia yang berlaku sementara, sedangkan hidup di akhirat adalah kehidupan yang abadi dan kekal, tak lantas membuat kita sadar sepenuhnya. Lihatlah dan perhatikanlah betapa banyak orang yang mengabaikan akhirat. Mereka sibuk dan asyik dengan dunia, seolah-olah merasa bahwa akan tinggal selamanya di dunia yang fana ini. Mereka lupa bahwa mereka sedang berjalan menuju akhirat. Lihatlah segala peristiwa seperti kematian dan bencana, apakah tanda-tanda dari Allah tersebut masih kurang membuat kita sadar?

Hidup merdeka di akhirat kelak, sangat ditentukan oleh kualitas hidup kita di dunia. Kualitas baik atau buruknya kita menjalani hidup di dunia, menentukan sukses atau gagalnya kita hidup di akhirat. Sukses hidup di akhirat artinya masuk surga. Sedangkan gagal hidup di akhirat artinya masuk neraka. Ibarat menabung di usia muda, maka akan menentukan kehidupan kita di masa tua. Kembali lagi bahwa semuanya tergantung pilihan seorang mukmin dalam menjalani hidup yang menjadi haknya. Sejatinya hidup itu pilihan.

Pilihan antara hidup sukses atau gagal di akhirat, tergantung pada kepandaian dan ketepatan kita dalam memilih jalan hidup di dunia. Ingatlah, Rasulullah saw pernah menerangkan bahwa akhirat jauh lebih penting daripada dunia. Beliau pernah bersabda, “Perbandingan dunia dengan akhirat, seperti seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut, lalu diangkat dan dilihat yang diperolehnya.” (HR. Muslim). Di sini Rasulullah saw ingin menegaskan betapa luar biasanya perbandingan akhirat dengan dunia. Dunia hanya sekedar sisa air yang tertinggal di jari sewaktu dicelupkan dan diangkat darinya, sedangkan laut yang luas itu ibarat akhirat yang kekal dan abadi.

Sebagai tambahan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barang siapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits di atas menjelaskan bahwa barang siapa yang memburu kehidupan akhirat, maka Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya dan dunia akan didatangkan kepadanya dengan hina. Sebaliknya, barang siapa yang memburu kehidupan dunia dan menjadi tujuan utamanya, maka Allah akan menetapkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan segala urusannya. Dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan untuknya.

Rezeki kita di dunia itu sudah pasti dan ditentukan kadarnya. Walaupun kita sekuat tenaga menggapainya, tetapi kalau Allah sudah menentukan batasannya maka tidak bisa seseorang menguasainya. Sedangkan rezeki akhirat belum pasti karena ditentukan oleh amalan kita di dunia. Maka pantaskah, kita lebih mengorbankan sesuatu yang belum pasti (akhirat) demi sesuatu yang sudah pasti (dunia)…?

Jika kita sudah mengetahui sifat dunia hanya sementara, seyogyanya selalu ingat tentang prioritas utama untuk mengejar pahala akhirat. Seseorang yang hanya tertuju akhirat maka dia tidak akan sombong dengan pujian orang lain dan tidak akan merosot semangatnya ketika dicela orang lain. Semua itu tidak akan berhasil jika kita tidak dibimbing oleh cahaya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’alla. Mari selalu berdoa kepada Allah agar hati kita mendapatkan cahaya hidayah. Sehingga dalam menjalankan aktivitas, kita memiliki tujuan untuk mencari pahala akhirat semata. Aamiin.

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here