Membersamai Al-Qur’an

0
221 views

Kiblatmuslimah.com – Kisah sebuah keluarga kecil, ayah dan anak. Sang ayah rajin tilawah Al-Qur’an, namun tidak sedikitpun ia berusaha untuk menghafal. Anaknya pun bertanya-tanya, “Kenapa ayah belum juga memulai menghafal Al-Qur’an?” Akhirnya pertanyaan itu ia utarakan pada ayahnya. “Apa manfaatnya jika ayah hanya membaca, namun tidak menghafal sedikitpun?”

Sang ayah tidak langsung menjawab. Karena ia ingin anaknya mengambil pelajaran dari kehidupan. Ia memerintahkannya untuk mengisi keranjang (terbuat dari jerami) batu bara dengan air laut. Sang anak langsung berkerut, “Mana mungkin bisa?” Ayah terus memintanya untuk mencoba.

Anak itu terus mencoba mengisi keranjang yang banyak lubangnya itu dengan air laut. Kemudian mengadu, “Ayah, tidak mungkin!” Sang ayah hanya menjawab, “Coba lagi!” Telah berkali-kali ia mencoba, namun keranjang itu tetap saja tidak bisa diisi air.

“Tidakkah engkau melihat sesuatu di keranjang?”  Tanya ayah. “Iya, Yah. Tadi keranjang ini kotor bekas batu bara, kini jadi benar-benar bersih.”  Jawab sang anak. Kemudian ayah menjelaskan, “Persis seperti ini Al-Qur’an bagi hati. Kehidupan dunia dan hiruk-pikuknya seringkali memenuhi hati denga kotorannya dan Al Qur-an sebagai penyuci jiwa seperti air laut tersebut meskipun engkau tidak hafal sedikitpun.”

Khabbab bin Al-Arat radhiallahu anhu berkata,”Beribadahlah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintaiNya dibandingkan (membaca) firmanNya.” (Atsar shahih diriwayatkan dalam kitab Syuab Al-Iman karya Al-Baihaqi)

Abdullah bin Masud berkata rhadiallahu anhu berkata, “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al-Qur’an maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan dalam kitab Syuab Al-Iman karya Al-Baihaqi)

Semoga kelemahan dan kekurangan kita untuk menghafalkan Al-Qur’an tidak menjadi alasan untuk tidak membacanya. Walaupun usaha untuk menghafal dan mengamalkannya tetap harus diperjuangkan.

Indikator hati yang bersih adalah hati yang tidak pernah kenyang membaca Al-Qur’an. Tidaklah seseorang mampu menikmati Al-Qur’an, kecuali disebabkan hati yang sakit sebagaimana badan yang sakit tak mampu mengecap nikmatnya makanan dan minuman.

*Hunafa Ballagho

Sumber:

Faqihuddin,Umar dan Mita, Oemar. 2016. Hikmah 2 Umar. Solo: Al-Wafa Publishing

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here